Salah Kaprah Ihwal Buzzer: Analisis Percakapan Warganet di Media Sosial

*Bambang Arianto orcid  -  Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Indonesia
Received: 27 Feb 2020; Revised: 2 Apr 2020; Accepted: 14 Apr 2020; Published: 16 Apr 2020.
Open Access Copyright 2020 JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan
License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 1167 257
Abstract

Artikel ini bertujuan mengelaborasi istilah buzzer yang sering digunakan para warganet di Twitter dan Instagram kepada akun media sosial bayaran yang berperan sebagai penyebar hoaks dan disinformasi. Hal itu dikarenakan pada awalnya istilah buzzer hanya dikenal dalam dunia bisnis digital sebagai tim yang disewa untuk pemasaran suatu produk dan jasa. Seiring perkembangan istilah buzzer bisnis juga digunakan dalam ranah politik yang kemudian dikenal dengan “BuzzeRp” politik. Padahal faktanya buzzer media sosial memang digunakan untuk memperkuat suatu pesan dan konten agar dapat membentuk opini publik dalam konteks masyarakat digital. Sebab definisi buzzer media sosial adalah upaya memperkuat suatu pesan dengan berbagai kreativitas masing-masing baik dalam konteks bisnis dan politik. Penelitian ini menggunakan data percakapan media sosial dari Drone Emprit Academic Universitas Islam Indonesia dengan kata kunci (keyword) BuzzeRp. Artikel ini berpendapat bahwa terdapat salah kaprah mengenai definisi buzzer media sosial yang berkembang di Indonesia, sehingga menyebabkan profesi buzzer media sosial di Indonesia menjadi negatif.

 

Keywords: buzzer; follower; influencer; buzzeRp; media sosial

Article Metrics:

  1. Arianto, B. (2015). Kampanye Kreatif dalam Kontestasi Presidensial 2014. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 19(1), 24.
  2. Arianto, B. (2019a). Buzzer Media Sosial dan Branding Produk UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal UMKM Dewantara, 2(1), 20.
  3. Arianto, B. (2019b). Kontestasi Buzzer Politik dalam Mengawal APBD DKI Jakarta. Jurnal Polinter: Kajian Politik dan Hubungan Internasional, 5(1), 21.
  4. Bradshaw, S., & Howard, P. N. (2019). The Global Disinformation Order: 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation: Project on Computational Propaganda.
  5. Castells, M. (2007). Communication, power and counter-power in the network society. International Journal of Communication, 1(1), 29.
  6. CIPG. (2019). Di Balik Fenomena Buzzer: Memahami Lanskap Industri dan Pengaruh Buzzer di Indonesia. Retrieved from https://cipg.or.id/di-balik-fenomena-buzzer-memahami-lanskap-industri-dan-pengaruh-buzzer-di-indonesia/
  7. CNN Indonesia. (2019). Uang Panas Industri Buzzer Politik. Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181210015450-185-352341/uang-panas-industri-buzzer-politik
  8. Detik News. (2019). Terungkap! Begini Kerja Buzzer Penyebar Hoax Pemilu 2019. Retrieved from https://news.detik.com/video/190422088/terungkap-begini-kerja-buzzer-penyebar-hoax-pemilu-2019
  9. Freeman, B., & Chapman, S. (2008). Gone viral? Heard the buzz? A guide for public health practitioners and researchers on how Web 2.0 can subvert advertising restrictions and spread health information. Journal of Epidemiology & Community Health, 62(9), 778-782.
  10. Harder, R. A., Paulussen, S., & Van Aelst, P. (2016). Making Sense of Twitter Buzz: The cross-media construction of news stories in election time. Digital Journalism, 4(7), 933-943.
  11. Kompas Tekno. (2019). APJII: Jumlah Pengguna Internet di Indonesia Tembus 171 Juta Jiwa. Retrieved from https://tekno.kompas.com/read/2019/05/16/03260037/apjii-jumlah-pengguna-internet-di-indonesia-tembus-171-juta-jiwa
  12. Kompas Tren. (2019a). Benarkah Ada Bayaran Buzzer Politik di Indonesia? Retrieved from https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/05/163800465/benarkah-ada-bayaran-buzzer-politik-di-indonesia-?page=all.
  13. Kompas Tren. (2019b). Mengenal Buzzer, Influencer, Dampak dan Fenomenanya di Indonesia. Retrieved from https://www.kompas.com/tren/read/2019/10/05/063100765/mengenal-buzzer-influencer-dampak-dan-fenomenanya-di-indonesia?page=all
  14. Kompas TV. (2019). Kominfo Polisikan "Buzzer" Penyebar Hoaks Isu Papua Barat. Retrieved from https://www.kompas.tv/article/56207/kominfo-polisikan-buzzer-penyebar-hoaks-isu-papua-barat.
  15. Liputan 6. (2017). Buzzer Penyebar Hoax dalam Kacamata MUI, Haram? Retrieved from https://www.liputan6.com/news/read/2979830/buzzer-penyebar-hoax-dalam-kacamata-mui-haram
  16. Murthy, D. (2015). Twitter and elections: are tweets, predictive, reactive, or a form of buzz? Information, Communication & Society, 18(7), 816-831.
  17. Safiullah, M., Pathak, P., Singh, S., & Anshul, A. (2017). Social media as an upcoming tool for political marketing effectiveness. Asia Pacific Management Review, 22(1), 10-15.
  18. Skoric, M., Poor, N., Achananuparp, P., Lim, E.-P., & Jiang, J. (2012, 2012). Tweets and votes: A study of the 2011 singapore general election.
  19. Tempo. (2019). Saatnya Menertibkan Buzzer. Retrieved from https://kolom.tempo.co/read/1254408/saatnya-menertibkan-buzzer/full&view=ok
  20. Thomas Jr, G. M. (2004). Building the buzz in the hive mind. Journal of Consumer Behaviour: An International Research Review, 4(1), 64-72.