skip to main content

KARAKTERISTIK SIRUP BUAH PEDADA (Sonneratia caseolaris) DENGAN PENAMBAHAN GELATIN TULANG, KULIT, DAN SISIK IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp.)

*Shabrina Anwar  -  Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Yudhomenggolo Sastro Darmanto  -  Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Sumardianto Sumardianto  -  Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Open Access Copyright 2023 Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract
Pengolahan sirup buah pedada memerlukan penstabil larutan. Penggunaan gelatin dapat mempertahankan kestabilan sirup buah pedada. Tulang, kulit, dan sisik ikan kakap merah dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan gelatin tulang, kulit, dan sisik ikan kakap merah terhadap karakteristik sirup buah pedada dan jenis gelatin terbaik untuk formula sirup buah pedada. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian ini adalah penambahan gelatin tulang, kulit, dan sisik ikan kakap merah sebanyak 8% terhadap sirup buah pedada, dengan kontrol adalah sirup buah pedada tanpa penambahan gelatin. Masing-masing perlakukan diuji sebanyak tiga kali pengulangan. Berdasarkan analisis sidik ragam dan Duncan, perbedaan jenis gelatin berpengaruh nyata (P<5%) terhadap viskositas, pH, warna, dan hedonik (parameter kenampakan, aroma, dan rasa) sirup buah pedada. Tetapi tidak berpengaruh nyata (P>5%) terhadap kestabilan, pengujian kapang, dan hedonik (parameter tekstur). Sirup buah pedada dengan penambahan gelatin sisik ikan kakap merah disukai oleh panelis dengan nilai hedonik sebesar 7,08, lebih tinggi dari penggunaan gelatin tulang dan kulit, tetapi tidak berbeda nyata (P>5%) dengan sirup buah pedada kontrol. Sirup buah pedada tersebut memiliki nilai viskositas sebesar 164,34 cP, 98,46% kestabilan, nilai pH sebesar 3,75 dan kecerahan (nilai L) sebesar 38,97.
Fulltext View|Download
Keywords: Gelatin ikan kakap merah; sirup; Sonneratia caseolaris
Funding: Universitas Diponegoro

Article Metrics:

  1. AOAC. Association of Official Analytical Chemist. 2005. Official Methods of Analysis of The Association of Official Analytical Chemist. AOAC Inc., Washington
  2. Ahmad, M., dan Benjakul, S. 2011. Characteristics of gelatin from the skin of unicorn leatherjacket (Aluterus monoceros) as influenced by acid pretreatment and extraction time. Food Hydrocolloids, 25: 381-388
  3. Ayudiarti, D.L., Suryanti., Tazwir., dan Paranginangin, R. 2007. Pengaruh konsentrasi gelatin ikan sebagai bahan pengikat terhadap kualitas dan penerimaan sirup. Jurnal Perikanan, 9(1): 134-141
  4. Badan Standarisasi Nasional. 2006. SNI 01-2346-2006: Petunjuk Pengujian Organoleptik dan atau Sensori. Badan Standarisasi Nasional (BSN), Jakarta
  5. Badan Standarisasi Nasional. 2013. SNI 3544-2013. Standar Mutu Sirup. Jakarta
  6. Boran, G., dan Regenstein, J.M. 2010. Fish gelatin. Advances in Food and Nutrition Research, 60: 119-144
  7. Deviarni, I.M., dan Warastuti, S. 2017. Karakteristik fisiko-kimia sirup mangrove pedada dengan penambahan CMC dan lama pemanasan. Jurnal Galung Tropika, 6(3): 213-223
  8. Dewantoro, A.A., Kurniasih, R.A., dan Suharto, S. 2019. Aplikasi gelatin sisik ikan nila (Oreochromis niloticus) sebagai pengental sirup nanas. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan, 1(1): 37-46
  9. Fadilla, E.N., Darmanto, Y.S., dan Purnamayati, L. 2019. Karakteristik mi kering dengan penambahan gelatin sisik ikan yang berbeda. Jurnal Perikanan, 21(2): 118-128
  10. Farikha, I.N., Anam, C., dan Widowati, E. 2013. Pengaruh jenis konsentrasi bahan penstabil alam terhadap karakteristik fisikokimia sari buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) selama penyimpanan. Jurnal Teknosain Pangan, 2(1): 30-38
  11. Fitri, E., Harun, N., dan Johan, V.S. 2017. Konsentrasi gula dan sari buah terhadap kualitas sirup belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). JOM Faperta UR, 4(1): 1-13
  12. Gelatin Manufactures Institute of America (GMIA). 2012. Gelatin Handbook. Gelatin Manufactures Institute of America
  13. Herpandi., Huda, N., dan Adzitey, F. 2011. Fish bone and scale as a potential source of halal gelatin. Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 6(4): 379-389
  14. Hijriah., S. Saloko, dan Y. Sulastri. 2017. Pengaruh kosentrasi penambahan gelatin kulit ikan hiu (Prionace glauca) sebagai penstabil pada proses pembuatan sari buah nanas. Jurnal Teknologi Pertanian, 1-15
  15. Indrayati, F., Utami, R., dan Nuhartadi. 2013. Pengaruh penambahan minyak atsiri kunyit putih (Kaempferia rotunda) pada edible coating terhadap stabilitas warna dan ph fillet ikan patin. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 2(4): 25-31
  16. Juliasti, R., Legowo, A.M., dan Pramono, Y.B. 2014. Pengaruh konsentrasi perendaman asam klorida pada limbah tulang kaki kambing terhadap kekuatan gel, viskositas, warna dan kejernihan, kadar abu dan kadar protein gelatin. Jurnal Teknologi Hasil Pertanian, 7(1): 32-38
  17. Kaemba, A., Suryanto, E., dan Mamuja, F. 2017. Karakteristik fisiko-kimia dan aktivitas antioksidan beras analog dari sagu bubuk (Arenga micropha) dan ubi jalar ungu (Ipomea batatas L. Poiret). Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan, 5(1): 1-8
  18. Karim, A.A., dan Bhat, R. 2009. Fish gelatin: properties, challenges, and prospects as an alternative to mammalian gelatins. Food Hydrocolloids, 23(3): 563-576
  19. Kauliyah, S. 2016. Ekstraksi serta karakterisasi sifat fisika kimia gelatin dari sisik dan tulang ikan kakap merah dalam penggunaanya sebagai bahan dasar pembuat gel. [Skripsi] Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar
  20. Kementrian Kelautan dan Perikanan Indonesia. 2019. Statistik sumber daya laut dan pesisir. Badan Pusat Statistik Indonesia
  21. Lin, L., Regenstein, J.M., Lv, S., Lu, J., dan Jiang, S. 2017. An overview of gelatin derived from aquativ animals: properties and modification. Trends in Food Science and Technology, 68: 102-112
  22. Malik, I. 2010. Pembuatan Permen Jelly. http://iwan malik.wordpress.com. Diakses 15 Mei 2019
  23. Manalu, R.D.E., Salamah, E., Retiaty, F., dan Kurniawan, N. 2013. Kandungan zat gizi makro dan vitamin produk buah pedada (Sonneratia Caseolaris). Penelitian Gizi dan Makanan, 36(2): 135-140
  24. Manoi, F. 2006. Pengaruh konsentrasi karboksil metil selulosa (CMC) terhadap mutu sirup jambu mete. Buletin Littro, 2(17): 1-7
  25. Miranti, A.K., Rukmi, M.G.I., dan Suprihadi, A. 2015. Diversitas kapang serasah daun talok (Muntingia calabura L.) di Kawasan Desa Sukolilo Barat, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Madura. Bioma, 16(2): 58-64
  26. Naiu, A.S., dan Yusuf, N. 2018. Nilai sensoris dan viskositas skin cream menggunakan gelatin tulang tuna sebagai pengemulsi dan humektan. JPHPI, 21(2): 199-207
  27. Permata, W.Y., Widiastri, F., Sudaryanto, Y., dan Anteng, A. 2016. Gelatin dari tulang ikan lele (Clarias batrachus): Pembuatan dengan metode asam, karakterisasi dan aplikasinya sebagai thickener pada industri sirup. Jurnal Ilmiah Widya Teknik, 15(2): 146-152
  28. Prihatiningsih., D., Puspawati, N.M., dan Sibarani, J. 2014. Analisis sifat fisikokimia gelatin yang diekstrak dari kulit ayam dengan variasi konsentrasi asam laktat dan lama ekstraksi. Cakra Kimia, 2(1): 31-45
  29. Putri, R.Y.A., Wijana, S., dan Pranowo, D. 2018. Analisis kualitas jeruk baby java pada stasiun proses dan pendugaan umur simpan skala pilot plant. Jurnal Teknologi Pertanian, 19(2): 125-138
  30. Rahmawati, H., dan Pranoto, Y. 2012. Sifat fisiko - kimia gelatin kulit ikan belut dan lele pada keadaan segar dan kering. Fish Scientiae, 2(3): 18-13
  31. Ratnasari, I., Yuwono, S.S., Nusyam, H., dan Widjanarko, S.B. 2013. Extraction and characterization of gelatin from different freshwater fishes as alternative sources of gelatin. International Food Research Journal, 20(6): 3085-3091
  32. Santoso, N. 2000. Pola pengawasan ekosistem mangrove makalah disampaikan pada lokakarya nasional pengembangan sistem pengawasan ekosistem laut tahun 2000. Jakarta, Indonesia
  33. Schrieber, R., dan Gareis, H. 2007. Gelatine handbook. Weinheim: Wiley-VCH GmbH & Co
  34. Suryanti., Hadi, S., dan Peranginangin, R. 2006. Ekstraksi gelatin dari tulang ikan kakap merah (Lutjanus sp.) secara asam. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, 1(1): 27-34
  35. Talumepa, A.C.N., Suptijah, P., Wullur, S., dan Rumengan, I.F.M. 2016. Kandungan kimia dari sisik beberapa jenis ikan laut. Jurnal LPPM Bidang Sains dan Teknologi, 3(1): 27-33
  36. Trilaksani, W., Nurilmala, M., dan Sartika, D. 2009. Formulasi dan karakterisasi marshmallow dari gelatin kulit kakap merah (Lutjanus sp.). Prosiding Seminar Nasional Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan di Bogor Tahun 2009. FPIK Institut Pertanian Bogor, Bogor, pp. 173 - 185
  37. Trilaksani, W., Nurilmala, M., dan Setiawati, I.H. 2012. Ekstraksi gelatin kulit ikan kakap merah (Lutjanus sp.) dengan proses perlakuan asam. JPHPI, 15(3): 240-251
  38. Winarno, F.G. 2002. Food and Nutrition Chemistry. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
  39. Yuliani dan Marwati. 2015. Ekstraksi dan karakterisasi gelatin tulang ikan tenggiri (Scomberomorus commerson). Jurnal Teknologi Pertanian Universitas Mulawarman, 10(1): 1-7

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.