Dekontruksi atas konsepsi orang kuat: Studi kasus kepemimpinan transformatif di Masjid Jogokaryan

*Nuruddin Al Akbar -  Departemen Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Received: 17 Sep 2018; Published: 9 Oct 2018.
Open Access Copyright 2018 Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 126 189
Abstract

Artikel ini berupaya menelaah relasi antara eksistensi orang kuat lokal dan demokrasi. Studi ini secara spesifik akan mengambil studi kasus di Masjid Jogokaryan dengan orang kuat di masjid tersebut yakni Jazir Asp. Penulisan artikel ini dilatarbelakangi oleh menjamurnya karya-karya yang membahas tentang eksistensi orang kuat lokal paska reformasi, baik yang dilakukan peneliti asing maupun Indonesia, namun mereka cenderung memandangnya dari sisi negatif. Artikel ini berupaya untuk mengambil cara pandang yang berbeda dari perspektif yang dominan tersebut, dimana mencoba  melihat eksistensi orang kuat lokal secara lebih positif. Temuan dari artikel ini menunjukkan bahwa orang kuat di Masjid Jogokaryan, yakni Jazir Asp berkontribusi bagi proses demokratisasi ruang publik dengan cara membuka dan menjamin pluralitas wacana keagamaan di masjid tersebut, yang salah satunya tercermin dari menjamurnya kajian keagamaan dari berbagai kelompok Islam yang berbeda pemahaman di masjid tersebut tanpa masing-masing pihak mengganggu aktivitas kelompok yang lain.

Keywords
Demokratisasi; Orang Kuat; Masjid Jogokaryan; Pluralitas; Yogyakarta

Article Metrics:

  1. Basyaib, H. (2006). Membela Kebebasan: Percakapan Tentang Demokrasi Liberal. Jakarta: Pustaka Alvabet dan Freedom Institute.
  2. Darmansyah. (tanpa tahun). Aceh dan Demokrasi Provokasi. Diakses pada 26 Juni 2013, dari http://atjehpost.com/read/2012/03/30/5403/0/2/Aceh-dan-Demokrasi-Provokasi
  3. Dwipayana, A. A. G. A. (2004). Bangsawan dan Kuasa: Kembalinya Para Ningrat di Dua Kota. Yogyakarta: IRE Press.
  4. Gaus AF, A. (2010). Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara. Diakses dari http://www.foredragsgruppenaf2010.dk/
  5. Gendercide Watch: The Nanjing Massacre, 1937-38. (tanpa tahun). Diakses pada 20 Juni 2013, dari http://www.gendercide.org/case_nanking.html
  6. Hashemi, N. (tanpa tahun). Secularism. Diakses pada 20 Juni 2013, dari http://www.oxfordislamicstudies.com.ezproxy.ugm.ac.id/article/opr/t236/e0714?_hi=0&_pos=1#match
  7. Hidayat, S. (2007). Shadow State…? Bisnis dan Politik di Provinsi Banten. In H. S. Nordholt & G. Van Klinken (Eds.), Politik Lokal di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta.
  8. Husaini, A., & Hidayat, N. (2002). Islam Liberal: Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan, dan Jawabannya. Depok: Gema Insani Press.
  9. Jaelani, A. Q. (2013). Jogokariyan: Masjid yang hidup!. Diakses pada 20 Juni 2013, dari http://islamsiana.com/jogokariyan-masjid-yang-hidup-3925
  10. Kamimura, M. (1998). A Japanese veteran attempts to make peace with haunting memories. Diakses pada 20 Juni 2013, dari http://edition.cnn.com/WORLD/asiapcf/9808/16/japan.war.crimes/
  11. Klinken, G. Van. (2007). Perang Kota Kecil. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta.
  12. Kupang, Dua Sidang Jemaat Berebut Satu Gereja. (2009). Diakses pada 20 Juni 2013, dari https://www.jawaban.com/read/article/id/2009/12/14/90/091214171719/kupangdua_sidang_jemaat_berebut_satu_gereja
  13. Liddle, R. W. (2012). Marx atau Machiavelli?: menuju Demokrasi Bermutu di Indonesia dan Amerika. In I. A. Fauzi & R. Panggabean (Eds.), Memperbaiki Mutu Demokrasi Di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan KITLV-Jakarta.
  14. Migdal, J. S. (1988). Strong Societies and Weak States. Princeton: Princenton University Press.
  15. Mujani, S., & Liddle, R. W. (2009). Muslim Indonesia’s Secular Democracy. Asian Survey, 49(4).
  16. Munandar, I., & Dkk. (tanpa tahun). Konflik Kepentingan di Masjid Al-Munawwarah. Diakses pada 20 Juni 2013, dari http://www.indosiar.com/fokus/konflik-kepentingan-di-Masjid-al-munawwarah_81904.html
  17. Nasikun. (2003). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  18. Radar Lampung. (n.d.). Kampoeng Ramadan Jogokariyan, Ikon Jogjakarta di Bulan Suci. Diakses pada 20 Juni 2013, dari http://islamsiana.com/jogokariyan-masjid-yang-hidup-3925
  19. Savirani, A. (2004). Local Stongmen in New Regional Politics in Indonesia. Universiteit van Amsterdam’s.
  20. Sidel, J. T. (1999). Capital, Coercion, and Crime: Bossism in the Philippines. California: Stanford University Press.
  21. Sidel, J. T. (2005). Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand and Indonesia: Towards an Alternative Framework for the Study of ‘Local Strongmen.’ In J. Harriss, K. Stokke, & O. Törnquist (Eds.), Politicising Democracy The New Local Politics of Democratisation. New York: Palgrave Macmillan.
  22. Syamsudduha. (1999). Konflik dan Rekonsiliasi NU-Muhammadiyah. Surabaya: PT Bina Ilmu.
  23. Wahdah Islamiyyah. (2010). Wahdah Galang Persatuan Ummat. Diakses pada 20 Juni 2013, dari http://islamsiana.com/jogokariyan-masjid-yang-hidup-3925
  24. Wahid, A. (Ed.). (2009). Ilusi Negara Islam. LibForAll Foundation.