Identifikasi Sektor Ekonomi Unggulan di Daerah Tangkapan Air Danau Rawa Pening

*Sigit Andy Cahyono  -  Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Indonesia
Received: 8 May 2019; Published: 30 Apr 2020.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 128
Abstract
Rawa Pening Lake is one of the priority lakes facing severe eutrophication and sedimentation problems. Agriculture is one of the problems in RawaPening Lake, even though community welfare is the government's policies. For this reason, the development of the economic sector in Rawa Pening Lake catchment must be chosen  has advantages, but this information is ignored and limited. The aim of the study was to analyze the leading economic sectors in the Rawa Pening Lake catchment area. The study used the Klassen Typology method to determine the pattern and structure of the economy and the Location Quotient method in determining the economic sector that has a comparative advantage in each sub-district and analysis of sectoral contributions. The data used is secondary data and field observations. The results showed that Bawen Subdistrict was a developed  but  depressed area, relying on the manufacturing industry sector. Rapidly developing districs (Tuntang, Jambu, Sumowono, and Ambarawa) rely on all economic sectors. While the lagging districts (Getasan and Banyubiru) relly on the primary sector. Leading sectors of each district differ depending on resources and comparative advantage. Leading economic sector contribute relatively significantly to economic development in the lake Rawa Pening catchment. The development of the economic sector will be better directed to leading economic sector so that it can attract sector that are not base, especially in the limited resources and allocation of development budgets. In addition, Location Quotient analysis can be used for analysis of areas with natural boundaries such as catchments or watersheds.


Keywords: comparative advantage; location quotient; watershed

Article Metrics:

  1. Almulaibari, H. (2011). Analisis potensi pertumbuhan ekonomi kota Tegal: tahun 2004—2008. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi. Universitas Diponegoro.
  2. Aida, S.N dan Utomo, A.D.(2016). Kajian kualitas perairan untuk perikanan di Rawa Pening, Jawa Tengah. Bawal, 8(3):173-182.
  3. Apriliyana, D. (2015). Pengaruh perubahan penggunaan lahan sub DAS Rawa Pening terhadap erosi dan sedimentasi Danau Rawa Pening. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 11(1):105-116..
  4. Ardi.A.D dan Rahayu, S. (2013). Kajian kesesuaian perubahan penggunaan lahan terhadap arahan pemanfaatan fungsi kawasan sub DAS Rawa Pening. Jurnal Teknik PWK, 2(4): 958-967.
  5. Arifin, Z. (2009). Kesenjangan dan konvergensi ekonomi antar kabupaten pada empat koridor di Propinsi Jawa Timur. Humanity, 6 (2): 154-164.
  6. Bappeda Provinsi Jawa Tengah. (2005). Penyusunan action plan pengembangan kawasan Rawa Pening. Laporan akhir. CV Galihloka. Semarang.
  7. Bangun, R.H. (2018). Analisis prioritas pembangunan wilayah berdasarkan sektor produk domestik regional bruto Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara. Jurnal litbang Sukowati, 2 (1): 19-35.
  8. Baskoro, A.W.N. (2018). Strategi pengembangan objek wisata bukit cinta Rawa Pening. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro. Semarang.
  9. Berawi, M.A., T.Y. Zagloel, P. Miraj dan H. Mulyanto. (2017). Producing alternative concept for the trans Sumatera toll road project development using location quotient method. Procedia Engineering 171 (2017): 265-273. doi: 10.1016/j.proeng.2017.01.334
  10. Billings, S.B dan E.B. Johnson. (2012). The location quotient as an estimator of industrial concentration. Regional Science and urban Economics, 42 (2012): 642-647.
  11. Cahyono, S.A dan W.W. Wijaya. (2014). Identifikasi sektor ekonomi unggulan dan ketimpangan pendapatan antar kabupaten di sub das Bengawan Solo Hulu. Jurnal Penelitia Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 11(1): 32-43.
  12. Caska dan Riadi, R.M. (2008). Pertumbuhan dan ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah di Provinsi Riau. Jurnal Industri dan Perkotaan, 12 (21): 1629—1642.
  13. Cristianawati, O. 2017. Tradisi masyarakat nelayan Rawa Pening kelurahan Bejalen Kecamatan Ambarawa Kabupaten Semarang. Sabda, 12 (2): 155-160.
  14. Darwin, R. (2016). Analisis potensi sektor basis di kota Pekanbaru. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Dharma Andalas, 18 (2): 336-345.Dedy, M. (2008). Peran kabupaten/kota di kawasan Sumatera Tengah terhadap ekonomi regional propinsi Sumatera Selatan. Skripsi. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.
  15. Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana. (2016). Studi Masterplan Danau Rawa Pening. Semarang: Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. .
  16. Destiningsih, R., A. Achsa dan Y. Septiani. (2019). Analisis potensi wilayah Provinsi Jawa Tengah (studi kasus tahun 2010-2016. Jurnal Riset Ekonomi Pembangunan, 4(1): 73-86.
  17. Emalia, Z dan Farida, I. (2018). Identifikasi pusat perrtumbuhan dan interaksi spasial di Provinsi Lampung. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, 19 (1): 61-74. . DOI: 10.18196/jesp.19.1.4100
  18. Erna, F., Harisudin, M dan Rahayu, W. (2017). Analisis peran subsektor pertanian terhadap pembangunan Kabupaten Karanganyar: sebuah pendekatan comparative performance index. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 14 (1): 28-38.
  19. Faijah, N dan A.Z. Wahbi. (2014). Metode spasial dalam memetakan sektor peternakan unggulan di Indonesia. Journal of Applied busuness and economics, 192):136-145.
  20. Farikhah, S. N. Fatimah dan A. luthfi. (2018). Pemberdayaan masyarakat melalui program integrated ecofarming (studi kasus di desa Asinan Kecamatan Bawen kabupaten Semarang). Journal on Socio Economics of
  21. Agriculture and Agribusiness, 12 (1): 1-14. https://doi.org/10.24843/SOCA.2018.v12.i01.p01
  22. Fikri, M.T. dan Fafurida. (2018). Sektor unggulan dan keterkaitan spasial ekonomi antar kabupaten/kota di Jawa Tengah. Economics Development Analysis Journal, 7(3): 243-250.
  23. Girsang, A.R.P dan D.I. Rinawati (2019). Usulan strategi pengembangan wisata yang berkelanjutan di Bukit Cinta Rawa Pening dengan menggunakan SWOT analisis dan pendekatan analytical network process. Industrial Engineering Online Journal, 8(1): 12 halana.
  24. Guimaraes, P., O. Figueiredo dan D. Woodward. (2009). Dartboard test for the location quotient. Regional Science and Urban Economics, 39 (2009): 360-364.
  25. Hadi, M.F., Suciati, S dan Asnawi, M. (2018). Analisis penentuan sektor unggulan dalam penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Indragiri Hulu, pendekatan tipologi Klassen. Jurnal Akuntansi dan Ekonomi, 8 (2): 198-208.
  26. Hakim, L ., R. Masniadi dan D. Mardhia. (2019). Identifikasi pengembangan potensi ekowisata di Kabupaten Sumbawa. Jurnal Riset Kajian Teknologi dan Lingkungan, 2 (1): 24-30.
  27. Haryadi, W dan Julyana. (2017). Analisis potensi ekonomi sektoral di kabupaten Sumbawa tahun 2011-2015. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 14 (1): 12-25.
  28. Haryani, G. (2010). Bencana perairan darat di Indonesia: membangun kapasitas kesiapsiagaan bersama masyarakat, Prosiding Seminar Nasional Limnologi V 2010; prospek ekosistem perairan darat Indonesia: mitigasi bencana dan peran masyarakat. Pusat Penelitian Limnologi LIPI.
  29. Heriza, D.H., Sukmono, A dan Bashit, N. (2018). Analisis perubahan kualitas perairan Danau Rawa Pening periode 2013, 2015 dan 2017 dengan menggunakan data citra Landsat 8 multitemporal. Jurnal Geodesi Undip, 7(1): 79-89.
  30. Hidayah, I. (2010). Analisis prioritas unggulan perkebunan daerah Kabupaten Buru. AGRIKA, 4 (1): 1--8
  31. Hidayati, R.A. (2008). Analisis ketimpangan ekonomi antar kecamatan di Kabupaten Gresik. Jurnal Logos, 6 (1): 83—97.
  32. Hidayati, N., Soeprobowati, T.R dan Helmi, M. (2018). The evaluation of water hyacinth (Eichhornia crassiper) control program in Rawa Pening Lake, Central Java Indonesia. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 142 (2018) 012016 . doi :10.1088/1755-1315/142/1/012016
  33. Hidayati, N. dan Soeprobowati, T.R. 2017. Pertanian ramah lingkungan di daerah tangkapan air Danau Rawa Pening. Proceding Biology Education Conference, 14 (1):126-130.
  34. Ibrahim, I. (2018). Analisis potensi sektor ekonomi dalam upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi (studi empiris pada kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo tahun 2012-2016). Gorontalo Development Review, 1 (1): 44-58.
  35. Indriyani. F. 2018. Analisis ketimpangan antar wilayah kecamatan di Kabupaten Semarang tahun 2009-2013. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
  36. Irawan, E. (2016). Tata kelola pemilihan fungsi Danau Rawa Pening. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. http://balitekdas.org/penelitian/kegiatan/tahun/2016/baca/96/Tata-kelola-Pemulihan-Fungsi-Danau-Rawa Pening. Akses tgl 10 November 2019.
  37. Iyan, R. (2014). Analisis komoditas unggulan sektor pertanian di Wilayah Sumatera. Jurnal Sosial Ekonomi Pembangunan, 4(11):215-235.
  38. Jamaliah dan Kurniawan, A. (2010). Analisis struktur ekonomi serta basis ekonomi di Propinsi Kalimantan Barat. Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Kewirausahaan, 1 (2): 67-81.
  39. Jumiyanti, K.R. (2018). Analisis location quotient dalam penentuan sektor basis dan non basis di Kabupaten Gorontalo. Gorontalo Development Review, 1 (1): 31-43.
  40. Kementerian Lingkungan Hidup. (2010). Program danau prioritas nasional tahun 2010-2014. Kementerian Lingkungan Hidup. Jakarta.
  41. Kementerian Lingkungan Hidup. (2011). Gerakan Penyelamatan Danau (Germadan) Rawa Pening. Jakarta : Kementerian Linhgkungan Hidup.
  42. Kesuma, N.A. (2015). Analisis sektor unggulan dan pergeseran pangsa ekonomi kabupaten Klungkung. Jurnal Ekonomi kuantitatf Terapan, 8(1): 100-107.
  43. Listyana, N.H. (2016). Analisis tanaman obat yang menjadi prioritas untuk dikembangkan di Jawa Tengah. SEPA, 13(1): 90-97.
  44. Miroah, C. (2015). Analisis penentuan sektor unggulan kota Semarang melalui pendekatan tipologi Klassen. Skripsi. Fakultas ekonomi Universitas Negeri Semarang. Semarang.
  45. Muljaningsih, S. (2008). Keberadaan pasar memberikan multiplier efect terhadap pengembangan ekonomi wilayah: studi kasus di lingkup wilayah Pasar Gempol Kab. Pasuruan Prop. Jawa Timur. Jurnal Agribisnis Kerakyatan, 1 (2): 16—47.
  46. Mustofa, L.J dan T. Haryati. (2018). Analisis tipologi potensi pariwisata di Provinsi Jawa Tengah. Economics Development Analysis Journal, 7(2): 186-193.
  47. Nadjib, M. 2016. Problematika prinsip manajemen kolaboratif dalam kerangka penyelamatan Danau Rawapening. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 18 (3): 487-502.
  48. Naja, D.A.B., D. Wijayanto dan Sardiyatmo. (2017). Analisis komoditas unggulan perikanan tangkap di Provinsi Jawa Tengah. Journal od Fisheries utilization Management and Technology, 6 (3):37-46.
  49. Nasution, Y dan Suparta, I.M. (2018). Strategi peningkatan pertumbuhan ekonomi mellaui analisis sektor basis di Kota Batu periode 2010-2014. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 3 (1): 543-554.
  50. Nindhitya, R.O. (2013). Pemetaan sub sektor pertanian dalam rangka pengembangan perekonomian daerah Kabupaten Wonosobo. Economics Development Abalysis Journal, 2 (1):1-8.
  51. Ningrum, P.A. (2017). Analisis potensi sektor basis dan non basis ekonomi pada perubahan struktur perekonomian di kota Salatiga tahun 2010-2015. Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
  52. Ningsih, Y,W., T. Kurniawan, A.N Rahmawati, D.A. Permatasari, D.A. Ghunarso, R.A. Pratama, A.M. Sanjayadan W. Widiyatmoko. 2019. Persepsi masyarakat terhadap tanaman eceng gondok Rawa Pening di Desa Banyubiru Kabupaten Semarang. Jurnal Geografi, Edukasi dan Lingkungan, 3 (2):83-91.
  53. Nugroho, N.P. (2017). Estimasi hasil air dari daerah tangkapan air Danau Rawa Pening dengan menggunakan Model Invest. Majalah Ilmiah Globe, 19(2):157-166.
  54. Nuraini, R.A dan L. Setiartiti. (2017). Strategi pengembangan Kota Magelang sebagai kawasan andalan di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, 18(2):173-182.
  55. Partomo, Mangkuprawira, S., Hubeis, A.V.S., dan Adrianto, L. (2011). Pengelolaan danau berbasis co-management: kasus Rawa Pening. JPSL, 1 (2): 106-113.
  56. Partomo, S. mangkuprawira, A.V.S. Hubeis dan L. Adrianto. (2011). Ketergantungan dan kerentanan masyarakat terhadap sumberdaya danau: kasus Danau Rawa Pening. Media Konservasi, 16(3): 114-121.
  57. Pinem, D. E. (2016). Menemukan strategi pengembangan kawasan industry melalui analisis sektor unggulan Kota Binjai. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 4 (1): 45—64.
  58. Pramita, M. (2017). Peranan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam perekonomian wilayah Kabupaten Lampung Tengah. Tesis. Program Pascasarjana Magister Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Bandar Lampung.
  59. Patricia, N., Hardiati, P dan Sanjoto, T.B. (2016). Pengaruh alih guna lahan sawah ke non sawah terhadap perubahan mata pencaharian dan asset keluarga Kecamatan Bawen. Geo Image, 5(2):1-7.Piranti, A. S., D.R, Rahayu dan G. Waluyo (2018). Evaluasi status mutu air Danau Rawa Pening. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 8 (2): 151_160.
  60. Pujiati, A. (2009). Analisis kawasan andalan di Jawa Tengah. Aset, 11 (2): 117—128.
  61. Purboseno, S., Bambang, A. N., Suripin, & Hadi, S. P. (2013). Evaluasi Karakteristik Daerah Tangkapan Air Sebagai Acuan Kegiatan Konservasi Sumber Daya Air. In Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2013 (pp. 226–231).
  62. Pusat Bendungan. (2018). Penanganan Danau Rawa Pening Kabupaten Semarang. Presentasi dalam Rapat Penyelamatan Danau Rawa Pening 8 Maret 2018. Semarang: Pusat Bendungan Direktorat Jenderal Sumberdaya Air Kementerian Pekerjaan Umum.
  63. Pusat Limnologi LIPI. (2011). Sistem Informasi Danau Indonesia. Retrieved from http://danau.limnologi.lipi.go.id/index.php/danau_c/lihatdanau/jaw_rwpg. Diakses 10 Desember 2017.
  64. Raharjo, S.A.S., F. Falah dan S.A. Cahyono. (2019). Germadan Rawa Pening: tindakan bersama dalam pengelolaan common pool resources. Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, 3(1): 1-12.
  65. Rahcman, M.R. (2010). Analisis investasi terhadap tingkat kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan. Skripsi. Surabaya: Fakultas Ekonomi. Universitas Pembangunan Nasional Veteran.
  66. Ridwan, B. (2013). Kesadaran dan tanggungjawab pelestarian lingkungan masyarakat muslim Rawa Pening Kabupaten Semarang. Inferensi, 7(2): 321-342.
  67. Restiatun. (2009). Identifikasi sektor unggulan dan ketimpangan antar kabupaten/kota di Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ekonomi dan Studi Pembangunan, 10 (1): 77-98.
  68. Riyardi,A. M.I. Hasmarini. Triyono, E. Setyowati. B.Setiaji, A. Wardhono dan N. Wahab. (2013). Deindustrialisasi pada industry tekstil dan produksi tekstil di Pulau Jawa. Jejak, 6 (1):106-119. DOI: 10.15294/jejak.v6i1.3752
  69. Rusdarti. (2010). Potensi ekonomi daerah dalam pengembangan UKM unggulan di Kabupaten Semarang. Jejak, 3(2):143-155.
  70. Rustiadi, E, Saefulhakim, S dan Panuju, D.R. (2011). Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  71. Sari, R.M. (2010). Analisis komoditas unggulan pertanian di Pulau Buru, Provinsi Maluku. Jurnal Agroforestry, 5 (3): 228—236.
  72. Seftyono, C. (2014). Rawa Pening dalam perspektif politik lingkungan: sebuah kajian awal. Indonesian Journal of Conservation, 3(1):7-15.
  73. Setianto, P., dan I. Susilowati. (2014). Komoditas perkebunan unggulan yang berbasis pada pengembangan wilayah kecamatan di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 2 (2):
  74. -156.
  75. Soeprobowati, T.R. (2011). Variabilitas keanekaraganan dan distribusi vertikal diatom Danau Rawa Pening. Jurnal Sains dan Matematika, 19(3):65-70.
  76. Soeprobowati, T.R. (2012). Mitigasi danau eutrofik: studi kasus Danau rawa Pening. Prosiding Seminar Nasional Limnologi VI tahun 2012. hal 36-48.
  77. Soeprobowati, T.R. (2015). Integrated lake basin management for save Indonesian lake movement. Procedia Environmental Sciences 23 (2015): 368-374.
  78. Soleh, A. (2012). Kontribusi dan daya saing ekspor sektor unggulan dalam perekonomian Jawa Tengah. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
  79. Subanti, S. 2015. Pengukuran kontribusi terhadap nilai ekonomi obyek wisata kawasan rawa pening Kabupaten Semarang dengan pendekatan multiplier effect. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika UMS 2015. Surakarta. Hal 519-530.
  80. Sudarsono, S,. Fitriadi, F dan Nurjana, N. (2017). Analisis sektor ekonomi basis dan non basis. Jurnal Ilmu Ekonomi Mulawarman, 2 (4): DOI: http://dx.doi.org/10.29264/jiem.v2i4.2469
  81. Suhartono. (2011). Struktur ekonomi, kesempatan kerja dan ketimpangan pendapatan di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Organisasi dan Manajemen, 7 (2): 86—101.
  82. Susanto, H. (2014). Kajian komoditas unggulan, andalan dan potensial di Kabupaten Grobogan. Journal of Rural and Development, 5 (1): 63-80.
  83. Susilowati, G.I. 2013. Valuasi ekonomi sumberdaya alam rawa pening dan strategi pelestariannya di Kabupaten Semarang. Diponegoro Journal of Economics, 2 (2): 1-9.
  84. Sutikno dan M.S.W. Suliswanto. (2015). The development of manufacturing industry cluster as an effort of economic improvement expansion in east java. Procedia-Social and Behavioral Sciences 211 (2015): 992-998.
  85. Titisari, K.H. (2009). Identifikasi potensi ekonomi daerah Boyolali, Karanganyar, dan Sragen. Jurnal Ekonomi dan Kebijakan, 2 (2): 167-182.
  86. Wicaksono, C.P. (2010). Analisis disparitas pendapatan antar kabupaten/kota dan pertumbuhan ekonomi di Propinsi Jawa Tengah tahun 2003-2007. Skripsi. Semarang: Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro.
  87. Yusroni, N dan Chadhiq, U. (2008). Analisis pemerataan pendapatan antar wilayah kecamatan di KAbupaten Semarang. Jurnal AKSES, 3(6):162-172.