Politik Penguasaan Teknologi: Jalan Keluar dari Stigmatisasi Negara Berkembang di Regional Asia

*Bagus Pradana  -  Ifada Initiative, Indonesia
Received: 18 Jul 2019; Revised: 26 Aug 2019; Accepted: 28 Aug 2019; Published: 9 Sep 2019; Available online: 9 Sep 2019.
Open Access Copyright 2019 JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan
License URL: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 207 137

Abstract

Tulisan ini berkeinginan untuk menjelaskan bagaimana stigmatisasi sebagai negara berkembang di regional Asia bisa terjadi dan secara bersamaan menujukkan adanya peluang untuk keluar dari keadaan tersebut. Sebagaimana diketahui bersama, nyaris semua rujukan negara maju adalah negara-negara di Eropa dan Amerika, yang memiliki tingkat kemutahiran terhadap teknologi yang tinggi. Berangkat dari poin tersebut, maka penulis melakukan kajian pustaka untuk melihat bagaimana politik penguasaan teknologi berkembang di Asia. Pengalaman perusahaan Acer dan perusahaan rintisan Gojek, menjadi pelajaran berharga bahwa negara-negara di regional Asia harus mulai keluar dari jebakan komoditas, terutama yang masih berkutat pada industri barang mentah. Dengan politik penguasaan teknologi inilah, sebuah negara bisa duduk sejajar dalam pergaulan global.

 

Keywords
Asia; Acer; Gojek; jebakan komoditas; negara berkembang; politik penguasaan teknologi

Article Metrics:

  1. CNN Indonesia. (2017). Gojek Bersiap Ekspansi ke Empat Negara Asia Tenggara. Diakses pada 19 Agustus 2018, dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171002162314-206-245599/gojek-bersiap-ekspansi-ke-empat-negara-asia-tenggara
  2. Economic and Social Council. (2018). Summary of the Economic and Social Survey of Asia and the Pacific 2018. United Nations. Diunduh dari http://www.regionalcommissions.org/ESCAPsurv18.pdf
  3. Felipe, J., Kumar, U., & Abdon, A. (2010). How rich countries became rich and why poor countries remain poor: It’s the economic structure…duh! Japan and the World Economy, 29, 46–58. https://doi.org/10.1016/j.japwor.2013.11.004
  4. Goh, E., & Simon, S. W. (Eds.). (2008). China, the United States, and Southeast Asia: Contending Perspectives on Politics, Security, and Economics. New York: Routledge.
  5. Hidalgo, C. A., Klinger, B., Barabási, A.-L., & Hausmann, R. (2007). The Product Space Conditions the Development of Nations. American Association for the Advancement of Science, 217(587), 482–487. https://doi.org/10.1126/science.1144581
  6. Majumdar, S., Guha, S., & Marakkath, N. (Eds.). (2015). Technology and Innovation for Social Change. Springer.
  7. Mann, L., & Chan, J. (Eds.). (2011). Creativity and innovation in business and beyond: Social science perspectives and policy implications. New York: Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203833063
  8. Martel, A., & Klibi, W. (2016). Designing Value-Creating Supply Chain Networks. Cham: Springer.
  9. Mathew, J. A. (2002). Dragons Multinational a New Models for Global Growth. Oxford: Univercity Press.
  10. Octavia, M. (2017). Ekspansi Bisnis Go-Jek, dari Ojek ke Fintech. Diakses pada 11 Agustus 2018, dari https://katadata.co.id/infografik/2017/12/29/ekspansi-bisnis-go-jek-dari-ojek-ke-fintech
  11. Perez, C. (2001). Technological Change and Opportunities for Developments as a Moving Targe. Cheltenham: Cepal Review.
  12. Stiglitz, J. E., & Yusuf, S. (Eds.). (2001). Rethinking the East Asian Miracle. World Bank Publications.
  13. United Nations Development Programme. (2018). Human Development Indices and Indicator: 2018 Statistical Update. New York: UNDP. Diunduh dari http://hdr.undp.org/sites/default/files/2018_human_development_statistical_update.pdf
  14. Yi, T. (2010). The Oil and Gas Service Industry in Asia: A Comparison of Business Strategies. New York: Palgrave Macmillan.
  15. Zysman, J. (2014). Escaping the Commodity Trap: Toward Sustainable Growth. Dalam the BRIE-ETLA Conference on August 29. Diunduh dari https://www.etla.fi/wp-content/uploads/BRIE-ETLA-29-Aug-2014-Position-Paper.pdf