Multikulturalisme Tanpa Fondasi: Limitasi Pendekatan Legal-Formal dalam Mewujudkan Masyarakat Multikultural di Indonesia

*Nuruddin Al Akbar  -  Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies, Indonesia
Listiana Asworo  -  Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia
Received: 28 Jul 2019; Revised: 27 Aug 2019; Accepted: 28 Aug 2019; Published: 9 Sep 2019; Available online: 9 Sep 2019.
Open Access Copyright 2019 JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan
License URL: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 179 95

Abstract

Studi ini hendak melakukan pembacaan kritis terhadap strategi pemerintah Jokowi untuk membendung arus radikalisme di Indonesia dengan pendekatan legal formal sebagaimana yang nampak dari disahkannya Undang Undang tentang Ormas. Studi ini berargumen bahwa logika legal-formal tersebut tidak dapat dilepaskan dari ide multikulturalisme yang mensyaratkan dua komponen, yakni hadirnya negara transenden dan sense of public yang kuat di masyarakat. Mengambil perspektif struktural-fungsional, ketidakhadiran satu komponen saja dalam sebuah tatanan struktur, maka akan menyebabkan fungsi yang diharapkan tidak terwujud. Studi ini sendiri secara spesifik mengambil FPI sebagai obyek studi dengan alasan sepak terjang FPI selama ini telah menabrak batas toleransi yang diizinkan dalam skema multikulturalisme. FPI tidak hanya bergerak di level ide, tetapi juga melakukan kekerasan fisik terhadap kelompok lain yang dianggap tidak sejalan dengan visinya. Studi ini menunjukkan bahwa eksistensi FPI justru mendapat dukungan dari elemen kepolisian dan TNI yang seharusnya menjadi ujung tombak negara dalam menegakkan hukum, termasuk juga dukungan sebagian masyarakat yang cukup besar pada FPI. Dukungan tersebut menjadi bukti adanya problem mendasar pada ide multikulturalisme di Indonesia, dimana prasyarat negara transendental dan sense of public yang kuat yang seharusnya menjadi basis utama penopang bekerjanya multikulturalisme ternyata tidak hadir dalam konteks Indonesia. 

Keywords
Front Pembela Islam; multikulturalisme; negara transeden, sense of public; struktural-fungsional

Article Metrics:

  1. Ahmad, R. (2017). Perppu No 2 Tahun 2017 Ancaman Demokrasi? Diakses pada 2 Mei 2019, dari https://mediaindonesia.com/read/detail/113186-perppu-no-2-tahun-2017-ancaman-demokrasi
  2. Al-Zastrouw, N. (2006). Gerakan Islam Simbolik: Politik Kepentingan FPI. Yogyakarta: LKiS.
  3. Ali, S. A. (2011). Islam non-Mainstream. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://www.nu.or.id/post/read/32202/islam-non-mainstream
  4. Anderson, B. R. (1983). Old state, new society: Indonesia’s new order in comparative historical perspective. The Journal of Asian Studies, 42(3), 477–496. https://doi.org/10.2307/2055514
  5. Azra, A. (2013). Distinguishing Indonesian Islam: Some Lessons to Learn. In J. Burhanudin & K. van Dijk (Eds.), Islam in Indonesia: Contrasting Images and Interpretations. Amsterdam: Amsterdam University Press.
  6. Beittinger-Lee, V. (2009). (Un) Civil Society and Political Change in Indonesia A Contested Arena. Abingdon: Routledge. https://doi.org/10.4324/9780203868799
  7. Bekker, S., & Leildé, A. (2003). Is multiculturalism a workable policy in South Africa. International Journal on Multicultural Societies, 5(2), 121–136. Diunduh dari http://www.simonbekker.com/simonsdocs/IJMS5_2.multiculturalism ppr.pdf
  8. Bolo, A. D. (2006). Man of Dialogue. In F. Borgias, A. D. Bolo, & B. A. Sidharta (Eds.), Prof. Dr. Mgr. N.J.C. Geise, OFM: Juragan Visioner. Yogyakarta: Kanisius.
  9. Bruinessen, M. van. (2013). Overview of Muslim Organizations, Associations, and Movements in Indonesia. In M. van Bruinessen (Ed.), Contemporary Developments in Indonesian Islam: Explaining the “conservative turn.” Singapore: ISEAS.
  10. CNN Indonesia. (2018). Koalisi Jokowi Minta Masukan FPI dan Ormas Susun Visi-Misi. Diakses pada 14 Mei 2018, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180807074011-32-320090/koalisi-jokowi-minta-masukan-fpi-dan-ormas-susun-visi-misi
  11. Council, A. F. (2014). The World Almanac of Islamism : 2014. Lanham: Rowman & Littlefield.
  12. Efendi, D. (2010). Pembaharuan Tanpa Membongkar Tradisi: Wacana Keagamaan di Kalangan generasi Muda NU Masa Kepemimpinan Gus Dur. Jakarta: Kompas.
  13. Elson, R. (2001). Brief Reflection on Indonesian Political History. In G. J. Lloyd & S. L. Smith (Eds.), Indonesia Today: Challenges of History. Singapore: ISEAS.
  14. Emmerson, D. K. (1983). Understanding the New Order: Bureaucratic Pluralism in Indonesia. Asian Survey, 23(11), 1220–1240. https://doi.org/DOI: 10.2307/2644374
  15. Erdianto, K. (2017). Perppu Ormas, Definisi Paham Bertentangan dengan Pancasila Diperluas. Diakses pada 8 Mei 2018, dari https://nasional.kompas.com/read/2017/07/12/14001971/perppu-ormas-definisi-paham-bertentangan-dengan-pancasila-diperluas
  16. Erwanti, M. oktavia. (2018). Koalisi Jokowi akan Minta Masukan Ormas Keagamaan, Termasuk FPI. Diakses pada 10 Agustus 2018, dari https://news.detik.com/berita/4153225/koalisi-jokowi-akan-minta-masukan-ormas-keagamaan-termasuk-fpi
  17. Express. (2016). 1000 Muslims close London streets to chant Allahu Akbar and demand Islamic caliphate. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://www.express.co.uk/news/world/743825/1000-Muslims-close-London-streets-chant-Allahu-Akbar-demand-Islamic-caliphate
  18. Fortier, A.-M. (2008). Multicultural Horizons Diversity and the Limits of the Civil Nation. Abingdon: Routledge.
  19. Goh, D. P. (2016). The Plural Society and Multiculturalism in Malaysia and Singapore. Abingdon: Routledge. Diunduh dari https://www.taylorfrancis.com/books/e/9781315596228/chapters/10.4324/9781315596228-14
  20. Haris, S. (2006). Membangun format baru otonomi daerah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  21. Harris, M. (2001). The Rise of Anthropological Theory: A History of Theories of Culture. Lanham: AltaMira Press.
  22. Hefner, R. W. (2012). Islamic Radicalism in Democratizing Indonesia. In S. Akbarzadeh (Ed.), Routledge Handbook of Political Islam. Abingdon: Routledge.
  23. Heng. (2017). Opinion | Heng on Indonesia’s Decree to Ban Radical Groups. R Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://www.nytimes.com/2017/07/16/opinion/heng-on-indonesias-decree-to-ban-radical-groups.html
  24. Ibrahim, G. M. (2017). Dukung Perppu Ormas, Azyumardi: Ini soal Eksistensi Bangsa. Diakses pada 8 Mei 2018, dari https://news.detik.com/berita/d-3689610/dukung-perppu-ormas-azyumardi-ini-soal-eksistensi-bangsa
  25. Ichwan, M. N. (2013). Toward A Puritanical Moderate Islam: The Majelis Ulama Indonesia and the Politics of Religious Orthodoxy. In M. van Bruinessen (Ed.), Contemporary Developments in Indonesian Islam: Explaining the “conservative turn.” Singapore: ISEAS.
  26. Indra, P. A. (2016). FPI dalam Lintasan Sejarah. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://tirto.id/fpi-dalam-lintasan-sejarah-b1NT
  27. Jawa Pos. (2016). Banyak Daerah Tolak BPJS, Ini Sebabnya. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://www.jawapos.com/nasional/humaniora/08/05/2016/banyak-daerah-tolak-bpjs-ini-sebabnya-
  28. Jordan, R. (2017). Istana: Tak Terima Dibubarkan, Ormas Bisa Gugat Pemerintah ke PTUN. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://news.detik.com/berita/d-3562010/istana-tak-terima-dibubarkan-ormas-bisa-gugat-pemerintah-ke-ptun
  29. Jupp, J. (2011). Multiculturalism and Integration A Harmonious Relationship. Canberra: ANU E Press.
  30. Kahin, A. . (2015). Historical Dictionary of Indonesia. Lanham: Rowman & Littlefield.
  31. Kamran, T. (2007). Islam, Urdu and Hindu as the Other: Instruments of Cultural Homogeneity in Pakistan. In B. Chandra & S. Mahajan (Eds.), Composite Culture in a Multicultural Society (pp. 93–122). New Dhelhi.
  32. Kuwado, Fabian Januaris. (2017). Perppu Ormas Disahkan, Jokowi Nilai Banyak yang Dukung Jaga Pancasila. Diakses 5 Agustus 2018, dari https://nasional.kompas.com/read/2017/10/26/10334761/perppu-ormas-disahkan-jokowi-nilai-banyak-yang-dukung-jaga-pancasila
  33. Kuwado, Fabian Januarius. (2017). Perppu Ormas Disahkan, Jokowi Nilai Banyak yang Dukung Jaga Pancasila. Diakses pada 8 Agustus 2018, dari https://nasional.kompas.com/read/2017/10/26/10334761/perppu-ormas-disahkan-jokowi-nilai-banyak-yang-dukung-jaga-pancasila
  34. Lane, R. (1976). Criminal Violence in America: The First Hundred Years. The Annals of the American Academy of Political and Social Science, 423, 1–13. Diunduh dari https://www.jstor.org/stable/1041418
  35. Lay, C. (2012). Democratic Transition in Local Indonesia: An Overview of Ten Years Democracy. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 15(3). https://doi.org/10.22146/jsp.10915
  36. Leilde, S. B. (2003). Is Multiculturalism a Workable Policy in South Africa? International Journal on Multicultural Societies (IJMS), 5(22). Diunduh dari http://simonbekker.com/simonsdocs/IJMS5_2.multiculturalism ppr.pdf
  37. Luhur, A. B. (2017). Cara Mengamalkan Hadits Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Diakses pada 2018, dari https://islam.nu.or.id/post/read/84670/cara-mengamalkan-hadits-amar-maruf-nahi-munkar
  38. Massier, A. (2008). The Voice of the Law in Transition: Indonesian Jurists and Their Languages, 1915-2000. Leiden: KITLV Press.
  39. Meien, J. v. (2004). The Multiculturalism Vs. Integration Debate in Great Britain. Norderstedt Germany: GRIN Verlag.
  40. Movanita, ambaranie N. K. (2017). Ada Perppu, Polri Merasa Lebih Mudah Tindak Anggota Ormas Bermasalah. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://nasional.kompas.com/read/2017/07/13/19150341/ada-perppu-polri-merasa-lebih-mudah-tindak-anggota-ormas-bermasalah
  41. Newman, D. M. (2010). Sociology: Exploring the Architecture of Everyday Life. California: Pine Forge Press.
  42. Nordholt, H. S., & Klinken, G. Van. (2007). Renegotiating boundaries: local politics in post-Suharto Indonesia. Leiden: KITLV Press.
  43. NU Online. (2018). Buletin Kaffah Diduga Milik HTI Masih Menyebar di Jombang. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://www.nu.or.id/post/read/86255/buletin-kaffah-diduga-milik-hti-masih-menyebar-di-jombang
  44. Olofinjana, I. O. (2014). The Significance of Multicultural Churches in Britain: A Case Study of Crofton Park Baptist Church. In Churches, Blackness, and Contested Multiculturalism (pp. 75–85). New York: Palgrave Macmillan.
  45. Parekh, B. (1999). What is Multicilturalism? In A symposium on democracy in culturally diverse societies. Diakses dari https://www.india-seminar.com/1999/484/484 parekh.htm
  46. Prihatin, I. U., Mashabi, S., & Mardani. (2017). Ketika Muhammadiyah dan NU berseberangan di Perppu Ormas. Diakses pada 5 Agustus 2018, dari https://www.merdeka.com/peristiwa/ketika-muhammadiyah-dan-nu-berseberangan-di-perppu-ormas.html
  47. Putri, Z. A. (2017). Dukung Perppu Ormas, MUI: Pancasila Dasar Negara Final. Diakses pada 8 Mei 2018, dari https://news.detik.com/berita/3679458/dukung-perppu-ormas-mui-pancasila-dasar-negara-final
  48. Qurtuby, S. A. (2017). Pro-Kontra Perppu No. 2 Tahun 2017. Diakses pada 10 Agustus 2019, dari https://www.dw.com/id/pro-kontra-perppu-no-2-tahun-2017/a-39827177
  49. Rimawan, R. (2014). Bila Dibubarkan, FPI Akan Ganti Nama seperti ’Bukan Empat Mata. Diakses pada 5 Agugustus 2018, dari https://manado.tribunnews.com/2014/10/13/bila-dibubarkan-fpi-akan-ganti-nama-seperti-bukan-empat-mata
  50. Sahrasad, H. (2009). Centurygate: Refleksi Ekonomi-Politik Skandal Bank Century. Jakarta: Freedom Foundation, Yayasan Indonesia Baru & LSIK.
  51. Santoso, P. (2018). Lokalitas Sebagai Konteks untuk Berdemokrasi. In P. Santoso, L. N. Bayo, & W. P. Samadhi (Eds.), Rezim Lokal di Indonesia: Memaknai Ulang Demokrasi Kita. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  52. Sasongko, J. P. (2017). DPR Sahkan Perppu Ormas Jadi Undang-undang. Diakses pada 6 Maret 2018, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171024135314-32-250616/dpr-sahkan-perppu-ormas-jadi-undang-undang
  53. Sidel, J. T. (2006). Riots, Pogroms, Jihad: Religious Violence in Indonesia. New York: Cornell University Press.
  54. Silaen, V. (2013). Pemimpin atau Pengemis. Tabloid Reformata, 166, 6.
  55. Sutrisno, M. (2010). Krisis Ruang Publik Kultural. In F. B. Hardiman (Ed.), Ruang Publik. Melacak Partisipasi Demokratis dari Polis Sampai Cyberspace. Yogyakarta: Kanisius.
  56. Tempo.co. (2018). Kasus Korupsi Tahun 2017, ICW: Kerugian Negara Rp 6,5 Triliun. Diakses pada 21 April 2019, dari https://nasional.tempo.co/read/1062534/kasus-korupsi-tahun-2017-icw-kerugian-negara-rp-65-triliun
  57. Tribunnews.com. (2018). Bongkar Tenda Nikah Pakai Jalan Umum, Polisi: Gak Tahu Diri, Mau Hajatan Gak Bermodal. Diakses pada 20 Mei 2018, dari https://medan.tribunnews.com/2018/02/01/bongkar-tenda-nikah-pakai-jalan-umum-polisi-gak-tahu-diri-mau-hajatan-gak-bermodal
  58. Turmudi, E., & Sihbudi, R. (Eds.). (2005). Islam dan radikalisme di Indonesia. Jakarta: LIPI Press.
  59. Umam, F. (2015). Kala Beragama Tak Lagi Merdeka: Majelis Ulama Indonesia dalam Praksis Kebebasan Beragama. Jakarta: Kencana.
  60. Wahab, A. J. (2014). Manajemen Konflik Keagamaan: Analisis Latar Konflik Keagamaan Aktual. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
  61. Widyantini, A. R. (2016). Globalisasi dan Radikalisme Islam. In M. Hisyam & C. Pamungkas (Eds.), Indonesia, Globalisasi, dan Global Village. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  62. Wilson, I. D. (2015). The Politics of Protection Rackets in Post-New Order Indonesia: Coercive Capital, Authority, and Street Politics. Abdingdon: Routledge.
  63. Zulfikar, M. (2017). Dukung Perppu Ormas, Said Aqil Siradj Persilakan Mantan Anggota HTI Masuk NU. Diakses pada 8 Mei 2018, dari https://www.tribunnews.com/nasional/2017/10/21/dukung-perppu-ormas-said-aqil-siradj-persilakan-mantan-anggota-hti-masuk-nu
  64. Zulkifli. (2013). The Struggle of the Shi‘is in Indonesia. Canberra: ANU Press.