Pemodelan Hidrogeologi Cekungan Airtanah Samarinda-Bontang Segmen Penajam Dalam Upaya Konservasi Airtanah Berbasis Cekungan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur

*Arizatur Reza Wicaksono -  Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Thomas Triadi Putranto -  Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Reddy Setyawan -  Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Revised: 24 Jan 2019; Accepted: 7 Feb 2019; Published: 31 Mar 2019.
Open Access Copyright 2019 Jurnal Geosains dan Teknologi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 53 26
Abstract

Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2017 tentang Cekungan Airtanah pasal 2 ayat 3 menyebutkan bahwa sistem pengelolaan airtanah didasarkan pada Cekungan Airtanah, namun di Indonesia masih banyak daerah-daerah yang masih menggunakan sistem pengelolaan berbasis sumur produksi yang dibatasi pada wilayah administrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat model numerik pada Cekungan Airtanah (CAT) Samarinda segmen Penajam berdasarkan model konsep yang dibuat berdasarkan data-data di lapangan. Model nantinya akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan rekomendasi terkait konservasi airtanah dari hasil simulasi model. Model numerik dibuat dengan memasukkan parameter-parameter hidrogeologi. Diskritisasi geometri dan iterasi berdasarkan metode beda hingga (finite differences method). Simulasi model yang dilakukan berdasarkan prediksi debit pemompaan hingga 20 tahun kedepan. Hasil kalibrasi model didapatkan nilai RMSE sebesar 0,75 m, ME sebesar 0,1 m, dan MAE sebesar 0,63 m, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,944. Zona konservasi airtanah dibuat dengan mengkombinasikan persentase penurunan airtanah berdasarkan simulasi model pada skenario terburuk, daerah imbuhan dan lepasan, dan nilai daya hantar listrik di daerah penelitian. Didapatkan 4 (empat) prediksi zona konservasi airtanah, yaitu: zona perlindungan airtanah seluas 107,69 km2 (26,39%), zona aman seluas 229,35 km2 (56,21%), zona rawan seluas 60,35 km2 (14,79%), dan zona kritis seluas 10,64 km2 (2,61%).

Keywords
airtanah; cekungan airtanah Samarinda-Bontang; pemodelan hidrogeologi; zona konservasi airtanah; MODFLOW

Article Metrics:

  1. Badan Pusat Statistik Kabupaten Penajam Paser Utara, 2017, Kabupaten Penajam Paser Utara Dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik Kabupaten Penajam Paser Utara: Penajam.
  2. Chow, V.T., Maidment, D.R., dan Mays, L.W., 1998, Applied Hydrology. McGraw-Hill Book Company: New York.
  3. Cornelia, S.B., 2004, Pemodelan Dan Analisis Kimia Airtanah dengan Menggunakan Software Modflow di Daerah Bekas Tpa Pasir Impun Bandung, Jawa Barat. Institut Teknologi Bandung: Bandung.
  4. Danaryanto, T. H., Setiadi H., dan Siagian, Y., 2007, Kumpulan Panduan Teknis Pengelolaan Air Tanah. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi, Pusat Lingkungan Geologi: Bandung.
  5. Hendrayana, H., 2011, Penetapan Program Pengelolaan Airtanah Di Cekungan Airtanah Yogyakarta-Sleman.UGM Press: Yogyakarta.
  6. Hidayat, S., dan Umar, I., 1994, Peta Geologi Lembar Balikpapan Kalimantan, Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi 1814, skala 1:250,000.
  7. Kementerian ESDM, 2017, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Cekungan Airtanah di Indonesia.
  8. Margono, B., 1995, Peta Hidrogeologi Lembar Balikpapan, skala 1:250.000. Direktorat Geologi Tata Lingkungan: Bandung.
  9. McDonald, M. G., dan Harbaugh, A.W., 1988, A Modular Three-Dimensional Finite-Difference Ground-Water Flow Model, Open-File Report No. 83-875.
  10. Spitz, K dan Moreno, J., 1996, A Practical Guide to Groundwater and Solute Transport Modeling, John Wiley & Sons Inc.: New York.