Karakteristik Interaksi Fluida-Batuan dan Pendugaan Suhu Reservoir pada Sistem Panasbumi Kamojang Garut Berdasarkan Data Kimia Gas Sumur Produksi

*Yoga Aribowo -  Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Marcelina Ramadhani -  Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 17 Jul 2018; Published: 31 Jul 2018.
Open Access Copyright 2018 Jurnal Geosains dan Teknologi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 212 452

Abstract
Lapangan Panasbumi Kamojang merupakan salah satu lapangan tertua yang berproduksi di Indonesia, dengan karakter dominasi uap. Salah satu cara memahami tatanan sistem panasbumi adalah dengan menganalisis kimia fluida, baik air maupun gas. Analisis geokimia gas pada lapangan Kamojang ini dilakukan pada gas yang berasal dari 10 sumur produksi, dengan metoda kromatografi gas untuk gas non reaktif dan metoda titrasi untuk gas reaktif. Hasil analisis diplot pada beberapa diagram segitiga untuk analisis asal air. Perhitungan suhu reservoir dilakukan dengan geotermometer berdasar formula dari beberapa penulis sebelumnya. Berdasar terneri N2-He-Ar, fluida pada sumur B, E, A, G diperkirakan berasal dari gas magmatik, sedangkan sumur I, H, D, C dari air meteorik, dan berdasar terneri N2-CO2-Ar, input gas diperkirakan berasal dari gas magmatik. Berdasar perhitungan geotermometer, suhu reservoir berkisar antara 230-279,7oC.
Keywords
kromatografi gas; titrasi; asal fluida; geotermometer

Article Metrics:

  1. Altamirano, J. I. C., 2006. Sampling and Analyses of Geothermal Steam and Geothermometer Applications in Krafla, Theistareykir, Reykjanes and Svartsengi, Iceland. Geothermal Training Programme: Iceland.
  2. Arnorsson, S. dan Gunlaugsson, E., 1985. New Gas Geothermometers For Geothermal Exploration – Calibration and Application, Geochimca et Cosmochimica Acta, vol 49, hal. 1307 – 1325.
  3. Arnorsson, S., Andresdottir, A., Gunnarsson, I., Stefánsson, A., 1998. New calibration for the quartz and Na/K geothermometers – valid in the range 0-350OC (in Icelandic). Proceedings of the Geoscience Society of Iceland Annual Meeting, April, 42-43.
  4. Arnorsson, S., 2000. Isotopic and Chemical Techniques in Geothermal Exploration, Development and Use: Sampling Methods, Data Handling, Interpretation. International Atomic Energy Agency, Vienna.
  5. D’Amore, F. dan Truesdell, A. H., 1985. Calculation of Geothermal Reservoir Temperatures and Steam Fractions From Gas Compostion; Trans. Geothermal Res. Council, Vol. 9, Part 1, August 1985, hal. 305-310.
  6. D’Amore, F., Panichi, C., 1980. Evaluation of deep temperatures of hydrothermal systems by a new gas geothermometer, Geochimica et Cosmochimica Acta, vol.44, hal. 549 -556.
  7. Giggenbach, W.F., dan Glover., R. B., 1992. Tectonic Regime and Major Processes Governing The Chemistry of Water and Gas Discharges From The Rotorua Geothermal Field, New Zealand, Geothermics, Vol 21, 121-140.
  8. Giggenbach W.F, dan Goguel, R.L., 1989. Collection and Analysis of Geothermal and Volcanic Water and Gas Discharge, Chemistry Division, Departement of Science and Industrial Research, New Zealand.
  9. Giggenbach, W., 1991. Geothermal gas equilibria. Geochemica et Cosmochimica Acta, vol. 44, hal. 393-410.
  10. Powell, T., 2000. A Review of Exploration Gas Geothermometry. Proceedings, 25th Workshop on Geothermal Reservoir Engineering, Stanford University, Stanford, CA, SGP-TR-165.