Mengurai Perempuan dan Pembangunan (Studi Kasus Kartini Kendeng)

*Samuel B. T. Rajagukguk -  Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: 1 Oct 2016.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
DOI: 10.3592/2
Full Text:
Statistics: 59 74
Abstract

Sudah hampir 3 (tiga) tahun, Indonesia khususnya masyarakat Pegununan Kendeng di Jawa Tengah dihadapkan pada persoalan bagaimana sebenarnya konsep yang tepat dalam merumuskan masyarakat yang dicita-citakan. Tidak lebih perdebatannya adalah siapa yang akan merumuskan ataupun mendeskripsikan masyarakat ideal. Hal ini dihadapkan pula oleh kekuasaan dan sifat mendasar dari manusia Indonesia itu sendiri. Definisi pembangunan guna mencapai masyarakat yang dicitakan menjadi program sentral pemilik modal, kuasa, dan budaya-budaya Patriarki manusia Indonesia. Masyarakat kecil termajinalkan, masyarakat adat dihilangkan, kaum minoritas dianggap tidak ada, hingga persoalan lainnya. Tebakannya adalah mungkin saja Indonesia masih proses menjadi. Tetapi, nilai fundamentalnya adalah menjadi apa, konsep kaum urbankah, pandangan kaum andropsentriskah, atau lainnya untuk mencapai masyarakat yang inginkan. Bidang pertambangan dan industrialisasi sering kali yang menjadi korban adalah perempuan. Apakah dalam pengetahuan perempuan menolak pertambangan dan/atau industrialisasi.

Kata Kunci: Pembangunan, Pertambangan, Industrialisasi, Perempuan.

Article Metrics:

  1. Dewi, Saras, Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam., (Tangerang Selatan: Marjin Kiri , 2015)
  2. Haris Retno dkk,“Jurnal Perempuan: Perempuan di Pertambangan”, (Jakarta :Yayasan Jurnal Perempuan, 2003)
  3. Imam Cahyono dkk,“Jurnal Perempuan: Mengurai Kemiskinan, Dimana Perempuan?”(Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan , 2005)
  4. Saparinah Sadli, dkk, “Jurnal Perempuan: Pengetahuan Perempuan”, (Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan, 2006)
  5. Sususeno, Magnis Frans, Kuasa dan Moral: EƟka Pembangunan, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2000)