Penurunan Kampung Melayu Sebagai Kawasan Cagar Budaya Kota Semarang

*Anis Febbiyana -  Program Studi Magister Pembangunan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, Indonesia
Djoko Suwandono -  Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia, Indonesia
Published: 20 Oct 2016.
Open Access Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Full Text:
Statistics: 52 147
Abstract

Menurut Soetomo (2013:137), jalinan sejarah pembangunan kota diperlukan dalam proses pengembangan yang mengantar kepada kemajuan (modernisasi) peradaban ke peradapan, yang setiap peradapan tentu mempunyai hasil yang baik untuk masa akan datang atau peradaban baru (l’avenir du passé). Keberadaan bangunan kuno-bersejarah di masa lalu akan ikut memberikan identitas yang berbeda atau khas dari kawasan perkotaan di masa depan. Menurut UU No 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya, pengertian revitalisasi adalah upaya untuk meningkatkan nilai lahan atau kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya.

Kampung Melayu merupakan perkampungan multi-etnis yang berada dekat dengan Kota Lama. Berbagai budaya membaur dalam kehidupan sosial masyarakat yang beragam. Kampung Melayu mengalami gejala penurunan vitalitas namun belum mendapatkan perhatian dan penanganan yang khusus. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan penurunan vitalitas Kampung Melayu sebagai kawasan cagar budaya di Kota Semarang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deduktif kualitatif rasionalistik.

Berdasarkan analisis penelitian dengan kajian teori tentang penurunan vitalitas Kampung Melayu sebagai kawasan cagar budaya maka penelitian ini menyimpulkan  bahwa penurunan vitalitas dibagi menjadi 3 yaitu penurunan vitalitas sosial budaya, penurunan vitalitas ekonomi dan penurunan vitalitas fisik. Hasil penelitian dilapangan, Kampung Melayu masih memiliki karakteristik kampung kota. Selain itu, Kampung Melayu merupakan sebagai kawasan cagar budaya yang memiliki bangunan lebih dari 50 tahun.

 

Keywords
Penurunan Vitalitas; Revitalisasi; Kawasan Cagar Budaya

Article Metrics: