skip to main content

Pengelolaan Hulu Sub-DAS Logawa dalam Perda Penataan Ruang Kabupaten Banyumas

*Budi Prabowo As'attohara  -  Environmental Science, General Soedirman University, Jl. Dr. Soeparno Utara, Grendeng, Purwokerto, Banyumas, Indonesia 53122., Indonesia
Imam Santosa  -  Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia
Tamad Tamad  -  Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2021 Jurnal Wilayah dan Lingkungan
Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

The watersheds upstream degradation in Java, is alarming and trigger changes to overall hydrological character of watersheds and its ecosystem services. Maintaining healthy watershed from future degradation can be initiated by a means formulating policies and designing appropriate management plan. The Logawa sub-watershed is not a critical watershed, nonetheless the upstream is part of mountain slope with very high annual rainfall. The headwater of Logawa sub-watershed plays an important role in catching annual rainfall and provide the underground and surface water supply for Kota Purwokerto. It is important to study the government's regulation related on its management, to determine the current management policy. This study aims to analyze the district level spatial and regional planning regulation related to the upstream management of the Logawa Sub-watershed. When this study was conducted, Local Government Regulation Number 10 year of 2011, concerning regional spatial planning was the only regulation of the Banyumas district that could regulate management of the upstream zone of Logawa sub-watersheed. This spatial regulation assign the upstream area of the Logawa sub-watershed as conservation zone, as well as the development area for generating electricity and river tourism, but does not specifically stipulate a minimum conservation zone forest land cover. The regulation is not sufficient for managing healthyness of the upstream Logawa Sub-watershed for the future, as well as to manage the upstream zone of the Logawa Sub-watershed as an upstream watershed ecosystem.

Fulltext View|Download
Keywords: Logawa sub-watershed; regional spatial planning regulation; upstream watershed; watershed management

Article Metrics:

  1. Dharmawan, A. H., Krisnamurthi, B., Tanjung, D., Tonny, F., Prasetyo, L. B., Fausia, L., Prasodjo, N. W., Suharno, S., Indaryanti, Y., & Mardiyaningsih, D. I. (2004). Desentralisasi pengelolaan dan sistem tata – pemerintahan sumberdaya alam Daerah Aliran Sungai Citanduy (Project Working Paper Series No. 01). Bogor
  2. Dharmawan, A. H. (2005). Analisis politik ekologi sistem tata pernerintahan sumberdaya alam common pool resources Daerah Aliran Sungai Citanduy (Pembaharuan tata pemerintahan lingkungan (menciptakan ruang kemitraan negara-masyarakat sipil-swasta). Bogor
  3. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas. (2009). Status lingkungan hidup daerah Kabupaten Banyumas tahun 2009. Kabupaten Banyumas: Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas
  4. Dye, T. R. (2017). Understanding public policy (15th Ed). Florida State University Pearson
  5. Ethika, D.N.; Ris, Hadi Purwanto; Senawi, Senawi; Masyhuri, M. (2014a). Kontribusi usaha hutan rakyat di bagian hulu Sub Das Logawa Kabupaten Banyumas (Kajian kelayakan usaha kayu sengon di Kecamatan Kedungbanteng). Jurnal Agrin Fakultas Pertanian Unsoed, 18(2). doi: 10.20884/1.agrin.2014.18.2.217
  6. Ethika, D.N.; Ris, Hadi Purwanto; Senawi, Senawi; Masyhuri, M. (2014b). Peranan Petani terhadap strategi pembangunan hutan rakyat di bagian Hulu Sub Das Logawa di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 21(3), 377–385. doi: 10.22146/jml.18566
  7. Ethika, D. N. (2015). Strategi pembangunan hutan rakyat Sub Das Logawa di Kabupaten Banyumas. Universitas Gadjah Mada
  8. Handayani, I. G. A. K. R. (2013). Urgensi peraturan daerah pengelolaan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo dalam rangka penguatan fungsi lingkungan hidup dan good governance. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 20, 255–277. doi: 10.20885/iustum.vol20.iss2.art5
  9. Harmiati, H., Aprianty, H., Supriyono, S., Sulistyo, B., Triyanto, D., & Alexsander, A. (2018). Implementasi good enviromental governance dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) Bengkulu. Jurnal Ilmu Pemerintahan : Kajian Ilmu Pemerintahan dan Politik Daerah, 3, 136-148. doi: 10.24905/jip.3.2.2018.136-148
  10. Imperial, M. T., & Hennessey, T. (2000). Environmental governance in watersheds: The role of collaboration. Retrieved from: https://hdl.handle.net/10535/1046
  11. Irawadi, I. (2014). Pengembangan konsep manajemen aset kelembagaan sumberdaya air pada Sub Daerah Aliran Sungai Logawa. Universitas Gajah Mada
  12. Kementerian Kehutanan. (2009). Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 39 Tahun 2009 tentang pedoman penyusunan rencana pengelolaan DAS Terpadu. Jakarta: Kementerian Kehutanan
  13. Lestari, W. (2004). The fish community of a tropical organically polluted river: A case study of the Logawa River, Central Java, Indonesia. Cuvillier Verlag Göttingen, Germany
  14. Likens, G. E., & Bormann, F. H. (1974). Linkages between Terrestrial and Aquatic Ecosystems. BioScience, 24(8), 447–456. doi: 10.2307/1296852
  15. Nk, R., Fauzi, M., Rahmawati, Firmansyah, R., Fathoni, A., & Hatmoko, W. (2013). Neraca ketersediaan air permukaan dan kebutuhan air pada wilayah sungai di Indonesia. In Kolokium Hasil Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air. Bandung: Pusat Litbang Sumber Daya Air
  16. Nugroho, S. P. (2009). Perubahan watak hidrologi sungai-sungai bagian hulu di Jawa. Jurnal Air Indonesia, 5(2), 112–118. doi: 10.29122/jai.v5i2.2439
  17. Nursidah, Nugroho, B., Darusman, D., Rusdiana, O., & Rasyid, Y. (2012). Pengembangan institusi untuk membangun aksi kolektif lokal dalam pengelolaan hutan kawasan lindung SWP DAS Arau, Sumatera Barat. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, 18(1), 18–30. doi: 10.7226/jtfm.18.1.18
  18. Omernik, J. M.; Bailey, R. G. (1997). Distinguishing between watersheds and ecoregions. American Water Resources Association, 33(5), 935–949
  19. Ostrom, E. (1990). Governing the commons institutions: The evolution of institution for collective action. New York: Cambrige University Press
  20. Ostrom, Elinor. (2008). The challenge of common-pool resources. Environment: Science and Policy for Sustainable Development, 50(4), 8–21. doi: 10.3200/ENVT.50.4.8-21
  21. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. (2013). Peraturan Daerah Kabupaten Banjarnegara Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Daerah aliran Sungai. Banjarnegara: Pemerintah Kabupaten Banjarnegara
  22. Pemerintah Kabupaten Banyumas. (2011). Peraturan Daerah Kabupaten Banyumas Nomor 10 Tahun 2011 tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Banyumas 2011-2031. Banyumas: Pemerintah Kabupaten Banyumas
  23. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. (2014). Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 15 Tahun 2014 tentang daerah aliran sungai di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Semarang: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah
  24. Pemerintah Republik Indonesia. (2004). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Jakarta
  25. Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 tentang pengelolaan DAS (2012). Jakarta
  26. Purniawati, P., Kasana, N., & Rodiyah, R. (2020). Good environmental governance in indonesia (perspective of environmental protection and management). The Indonesian Journal of International Clinical Legal Education, 2(1), 43–56. doi: 10.15294/ijicle.v2i1.37328
  27. Saridewi, T., Hadi, S., Fauzi, A., & Rusastra, I. (2014). Penataan ruang Daerah Aliran Sungai Ciliwung dengan pendekatan kelembagaan dalam perspektif pemantapan pengelolaan usahatani. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 32(2), 87. doi: 10.21082/fae.v32n2.2014.87-102
  28. Slamet, B. (2015). Kegagalan collective action dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (studi kasus kelembagaan forum DAS). 1-17.doi: 10.13140/RG.2.1.1331.9523
  29. Suradisastra, K., Pasaribu, S. M., Sayaka, B., Dariah, A., Las, I., Haryono, H., Pasandaran, E. (2010). Membalik kecenderungan degradasi sumber daya lahan dan air. Bogor: IPB Press
  30. Susanti, Y.; Syafrudin, Syafrudin; Helmi, M. (2020). Analisa perubahan penggunaan lahan di Daerah Aliran Sungai Serayu Hulu dengan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis. BIOEDUKASI: Jurnal Pendidikan Biologi, 13(1), 23–30
  31. Suwarno, Suwarno; Sutomo, Sutomo; Setiawan, E. (2017). Pemetaan bahaya erosi di Sub-Daerah Aliran Sungai Logawa Kabupaten Banyumas dengan sistem informasi geografis. Prosiding Seminar Nasional Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (pp. 159–164). Pontianak
  32. Wicaksono, P. A., Somantri, M., & Windarto, D. (2013). Sistem Informasi Potensi dan Analisa Perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dI Indonesia menggunakan pemrograman PHP. Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 2(2)
  33. Wijaya, W., Windarto, J., & Karnoto, K. (2012). Analisa perencanaan pembangkit listrik tenaga mini hidro di Sungai Logawa Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas. Transient: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 1(3)
  34. Work, R. (2001). The role of participation and partnership in decentralised governance: A brief synthesis of policy lessons and recommendations of nine country case studies on service delivery for the poor. New York

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.