BibTex Citation Data :
@article{JPII32311, author = {Rikky Andreanto and Luqman Buchori and Luqman Buchori and Widayat Widayat and Widayat Widayat}, title = {Analisa Terjadinya Liquid Condensate Pada Plant CO2 Removal dan DHU System SP Karangbaru Kapasitas 5 MMSCFD}, journal = {Jurnal Profesi Insinyur Indonesia}, volume = {4}, number = {2}, year = {2026}, keywords = {}, abstract = { Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab utama terbentuknya liquid condensate atau crude oil pada sistem CO2 Removal dan Dehydrarion Unit (DHU) di SP Karangbaru berkapasitas 5 MMSCFD. Fenomena kondensasi hidrokarbon ditemukan menyebabkan gangguan operasi seperti fouling, carry-over, dan penurunan efisiensi pengeringan gas. Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis deskriptif-kuantitatif berbasis simulasi proses dan evaluasi termodinamika dengan perangkat lunak Aspen HYSYS, menggunakan model Peng–Robinson Equation of State (PR-EOS). Data lapangan mencakup tekanan, suhu, laju alir, serta komposisi gas untuk memverifikasi model kesetimbangan fasa (phase envelope). Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas dew point hidrokarbon terjadi pada tekanan 95 psig dan suhu 123 °F, sementara kondisi operasi aktual (82 psig, 108 °F) telah berada dalam zona dua fasa gas-cair. Penyebab utama terbentuknya liquid condensate adalah kombinasi antara tekanan dan suhu yang rendah, efisiensi regenerasi TEG yang tidak optimal, serta kandungan hidrokarbon berat (C₅⁺ ≈ 2.8 mol %). Rekomendasi teknis yang diusulkan meliputi pengendalian tekanan ≥ 95 psig, suhu operasi ≥ 120 °F, optimasi regenerasi TEG, serta pemasangan sistem pemantauan dew point secara real-time untuk mencegah terjadinya kondensasi berulang. Kata kunci : CO₂ Removal; DHU System; liquid condensate, phase envelope, TEG regeneration }, issn = {2985-8100}, doi = {10.14710/jpii.2026.32311}, url = {https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jpii/article/view/32311} }
Refworks Citation Data :
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab utama terbentuknya liquid condensate atau crude oil pada sistem CO2 Removal dan Dehydrarion Unit (DHU) di SP Karangbaru berkapasitas 5 MMSCFD. Fenomena kondensasi hidrokarbon ditemukan menyebabkan gangguan operasi seperti fouling, carry-over, dan penurunan efisiensi pengeringan gas. Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis deskriptif-kuantitatif berbasis simulasi proses dan evaluasi termodinamika dengan perangkat lunak Aspen HYSYS, menggunakan model Peng–Robinson Equation of State (PR-EOS). Data lapangan mencakup tekanan, suhu, laju alir, serta komposisi gas untuk memverifikasi model kesetimbangan fasa (phase envelope). Hasil penelitian menunjukkan bahwa batas dew point hidrokarbon terjadi pada tekanan 95 psig dan suhu 123 °F, sementara kondisi operasi aktual (82 psig, 108 °F) telah berada dalam zona dua fasa gas-cair. Penyebab utama terbentuknya liquid condensate adalah kombinasi antara tekanan dan suhu yang rendah, efisiensi regenerasi TEG yang tidak optimal, serta kandungan hidrokarbon berat (C₅⁺ ≈ 2.8 mol %). Rekomendasi teknis yang diusulkan meliputi pengendalian tekanan ≥ 95 psig, suhu operasi ≥ 120 °F, optimasi regenerasi TEG, serta pemasangan sistem pemantauan dew point secara real-time untuk mencegah terjadinya kondensasi berulang.
Kata kunci: CO₂ Removal; DHU System; liquid condensate, phase envelope, TEG regeneration
Article Metrics:
Last update:
Alamat Kontak:
Program Studi Program Profesi Insinyur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Gedung Dekanat Baru Lt 3. Prof. Sudarto SH Tembalang Semarang 50275
www.psppi.ft.undip.ac.id