Analisis perilaku memilih pada Pilkada Kota Kupang Tahun 2017

*Frans Bapa Tokan -  Universitas Katolik Widya Mandira, Indonesia
Received: 24 Apr 2019; Published: 8 May 2019.
Open Access Copyright 2019 Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 86 88
Abstract

Tulisan ini mengajukan pertanyaan utama apakah perilaku memilih warga Kota Kupang 2017 dipengaruhi oleh faktor sosiologis atau psikologis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan teknik multistage random sampling. Hasilnya ditemukan bahwa perilaku memilih warga Kota Kupang mayoritas cenderung  berkarakter sosiologis, yakni sebesar 63,50%, dengan sebaran dari akumulasi dua pasang calon atas nama Yonas Salean dan Niko Frans (disingkat Sahabat) sebesar 31%  dan Jefri Riwu Kore dan Herman Man (disingkat FirmanMu) sebesar 32,50%. Sedangkan  untuk alasan psikologis jauh lebih kecil, yakni hanya 21% dari akumulasi dua pasang paket calon atas nama Sahabat sebesar 12% dan FirmanMu sebesar 9%. Sedangkan sebagian lainnya memilih calon atas pertimbangan pragmatis yaitu sebesar 15,50% karena diberi bantuan barang atau uang menjelang hari pencoblosan. Jadi disimpulkan bahwa faktor sosiologis perilaku pemilih warga Kota Kupang lebih dominan dalam menentukan pilihan calon kepala daerahnya.

Keywords
Perilaku Memilih, Sosiologis; Psikologis; Pilkada

Article Metrics:

  1. Alfitri. (2014). Perilaku Politik Transaksi Calon Legislatif dan Pemilih pada Pemilu Legislatif 2014 di Kelurahan Sako. Palembang: Proceeding Konferensi Nasional Sosiologi III Palembang.
  2. Ambardi, K., Mujani, S., & Liddle, R. W. (2012). Kuasa Rakyat: Analisis tentang Perilaku Memilih dalam Pemilihan Legislatif dan Presiden Indonesia Pasca Orde Baru. Jakarta: Mizan.
  3. Ananta, A., Arifin, E. N., & Suryadinata, L. (2004). Indonesian Electoral Behaviour: A Statistical Perspective. Institute of Southeast Asian Studies.
  4. Firmansyah. (2010). Persaingan, Legitimasi Kekuasaan, dan Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  5. Gaffar, A. (1992). Javanese Voters: A Case Study Of Election Under A Hegemonic Party System. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  6. King, D. Y. (2003). Half-hearted Reform: Electoral Institutions and the Struggle for Democracy in Indonesia. Connecticut: Praeger Publishers.
  7. Mallarangeng, A. (1997). Contextual Analysis on Indonesian Electoral Behavior. Northem Ilinois University.
  8. Pamungkas, S. (2010). Pemilu Perilaku Pemilih dan Kepartaian. Yogyakarta: Institut for Democracy and Welfarism (IDW).
  9. Qodari, M. (2007). Split-Ticket Voting dan Faktor-Faktor yang Menjelaskannya pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2004. Universitas Gdjah Mada.
  10. Rakhmat, J. (2003). Psiklogi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
  11. Roth, D. (2009). Studi Pemilu Empiris: Sumber, Teori-teori, Instrumen dan Metode (terj). (D. Ambardi, Ed.). Jakarta: Friedrich Naumann Stiftung dan LSI.
  12. Sarwono, S. W. (2006). Pengantar Umum Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.
  13. Sobur, A. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
  14. Walgito, B. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: Andi.