Keraton Yogyakarta Masa Lampau dan Masa Kini: Dinamika Suksesi Raja-Raja Jawa dan Politik Wacana “Raja Perempuan”

*Ilmiawati Safitri -  Program Studi S2 Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Received: 11 May 2019; Revised: 30 Jun 2019; Accepted: 4 Jul 2019; Published: 7 Jul 2019; Available online: 6 Jul 2019.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: IN
Full Text:
Supp. File(s):
Kraton Yogyakarta Masa Lampau dan Masa Kini: Dinamika Suksesi Raja-Raja Jawa dan Politik Wacana “ Raja Perempuan” di Kraton Yogyakarta
Subject
Type Research Instrument
  Download (62KB)    Indexing metadata
Statistics: 93 70
Abstract

This article presents the dynamics of the succession of the king's regime in the Yogyakarta palace, which entered the crisis period because of the absence of successors to the male king. The emergence of the queen discourse that echoed at the Yogyakarta palace since 2010. It has sparked new tensions for the relatives of the palace. This discussion continues to grow. The words of the king echoed by Sultan Hamengku Buwono X under the pretext of gender became political ambition to perpetuate power. This study used the historical method to answer the problems that in every change of regimes in the Sultan Palace, Yogyakarta was always followed by conflicts over the throne and tug of war which affected the people outside the palace, such as when Islamic Mataram broke into four kingdoms. At that time, the community took part in regional warfare. This impact arose because of the desires of every descendant of the king, who feels entitled to become the next king.

Note: This article has supplementary file(s).

Keywords
Yogyakarta Palace; King Successions; Sultan HB X; Queen.

Article Metrics:

  1. Berlian, S. (2002). “Legitimasi dan suksesi (studi tentang dasar hubungan rakyat dan penguasa dalam sejarah politik Jawa abad XV-XVI) (Tesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  2. Carey, Peter (terjemahan) (1985). Asal-usul Perang Jawa: pemberontakan Sepoy dan lukisan Raden Salen. Jakarta: Pustaka Azet.
  3. Darmasastri, Hayu A. (2006). Tradisi militer di kerajaan Jawa: Prajurit wanita di Kasultanan Yogyakarta masa Sultan Hamengkubuwono II 1767-1830 (Tesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  4. Dewi, Kurniawati H. (2017). Pegangkatan putri mahkota dan indikasi pergeseran konsep kuasa Jawa: Analisis Pendahuluan. Jurnal Masyarakat & Budaya, 19 (1): 59-76.
  5. Fuhaidah, U. (2015). Resistensi penobatan putri mahkota untuk Kasultanan Yogyakarta. Jurnal Esensia, 16 (2). 169-175.
  6. Harjono, S. (2011). Konflik di seputar suksesi Raja Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat: Dulu, kini serta konteks masa depan (Tesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  7. Houben, Vincent J. H. (2002). Keraton dan kompeni Surakarta dan Yogyakarta, 1830-1870. Yogyakarta: Bentang Budaya.
  8. Https://tirto.id/mk-putuskan-sultan-perempuan-bisa-jadi-gubernur-diy-cvGN, diakses 17 Oktober 2018.
  9. Https://www.kratonjogja.id/raja-raja/6/sri-sultan-hamengku-buwono-v, diakses pada 17 Oktober 2018.
  10. Kedaulatan Rakyat, 7 Mei 2015.
  11. Margana, et al. (2016). Sultan Hamengkubuwono VII dan Kedaton Ambarukmo, Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY.
  12. Moedjanto, G. (1987). Konsep kekuasaan Jawa: penerapannya oleh raja-raja Mataram, Yogyakarta: Kanisius.
  13. Purwadi (2007). Sejarah raja-raja Jawa (sejarah kehidupan kraton dan perkembangannya di Jawa). Yogyakarta: Media Abadi.
  14. Putra, Fajar R. (2016). Sikap Politik Media dalam Polemik Suksesi Raja Yogyakarta (Analisis Wacana Kritis terhadap Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat Dalam Polemik Suksesi Kraton Yogyakarta) (Skripsi). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
  15. Ricklefs, M. C. (2005). Sejarah Indonesia modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
  16. Sesana, R. (2010). Intrik politik dan pergantian tahta di Kasultanan Yogyakarta 1877-1921 (Tesis). Universitas Indonesia, Depok.
  17. Soekanto (1952). Sekitar Jogjakarta. Yogyakarta: t.p.
  18. Sumbogo, R. M. Wibatsu Harianto (2000). Sri Sultan Hamengku Buwana II, Sultan Sepuh Hambangun Tapa. Yogyakarta: Mandara Giri Mataram.
  19. Supariadi (1998). Surakarta Masa Pemerintahan Sunan Pakubuwono IV 1788-1820 Priyayi dan Kyai pada Masa Transisi Kolonial (Tesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.