Sistem Pertanian Konservasi Pola Agroforestri dan Hubungannya dengan Tingkat Erosi di Wilayah Sub Das Wuno, Das Palu, Sulawesi Tengah

DOI: https://doi.org/10.14710/jwl.6.3.%25p

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

 Wuno sub watershed, Palu Watershed mainly upstream massive exploitation of land use occurs, such exploitation has the effect of increasing erosion. One way to reduce the rate of erosion is the practice conservation farming systems. This research aims to know the farming system conservation of agroforestry patterns based on geographic information system  as well as erosion level on agroforestry farm conservation system applied by community of Wuno Sub watershed, Palu watershed of Sigi Regency, Central Sulawesi. The results showed that there are four agroforestry patterns in Wuno Sub watershed that are trees along border, alternate rows, alley cropping and random mixture. The highest erosion rates in all four agroforestry patterns are alley cropping of 5.17 grams/ha and lowest trees along border of 0.47 grams/ha,  total rainfall of 493.6 mm. The canopy cover of the agroforestry pattern influences the amount of erosion that occurs.

Keywords

conservation; erosion; watershed

  1. Naharuddin Naharuddin  Scopus Scholar Sinta
    Departemen Kehutanan, Universitas Tadulako, Indonesia
    Penelitian ini dibiayai dengan dana Dikti melalui Skim Penelitian Produk Terapan Tahun 2017 dan wajib dipublikasikan.
  1. Aida, N., Rachman, L. M., dan Baskoro, D. P. T. (2016). Analisis nilai konservasi tinggi aspek pengendali erosi dan sedimentasi (HCV 4.2) Di DAS Ciliwung Hulu. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 6 (2), pp. 151-159
  2. Asdak, C. (2002). Hidrologi dan pengelolaan daerah aliran sungai. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
  3. As-syakur, A. R. (2011). Perubahan penggunaan lahan di Provinsi Bali. Ecotrophic: Jurnal Ilmu Lingkungan, 6(1), pp. 1-7.
  4. As-Syakur, AS. (2009). Pengaruh tutupan kanopi terhadap besarnya erosi tanah. https://mbojo.wordpress.com (4 Maret 2009).
  5. Atmojo, S. W. (2008). Peran agroforestri dalam menanggulangi banjir dan longsor DAS. Disajikan dalam seminar basional pendidikan agroforestri sebagai strategi menghadapi pemanasan global. Fakultas Pertanian UNS. Solo.
  6. Braud, I., Vich, A. I. J., Zuluaga, J., Fornero, L., and Pedrani, A. (2001). Vegetation influence on runoff and sediment yield in the Andes region: observation and modeling. Journal of Hydrology, 254 (1-4), pp. 124-144.
  7. Budiastuti, M. S. (2013). Hidrologi Tapak Lahan: Perubahan Tutupan Lahan dan Tingkat Resapan Air. Sains Tanah-Journal of Soil Science and Agroclimatology, 6 (1), pp. 15-26.
  8. Darmayanti, A. S. (2012). Beberapa Sifat Fisika Kimia Tanah yang Berpengaruh Terhadap Model Kecepatan Infiltrasi pada Tegakan Mahoni, Jabon dan Trembesi di Kebun Raya Purwodadi. Jurnal Penelitian Hayati, 17(1), pp. 185-191.
  9. Daswir. 2010. Role of serai wangi as a conservation plant at cocoa plantation on critical land. Bul Littro 21 (2), pp. 117-128.
  10. Hairiah, K., M.A. Sardjono dan S.Sabarnurdin. 2003. Bahan Ajaran Agroforestry I Pengantar Agroforestry. World Agroforestry Center (ICRAF).
  11. Liu, J., Liu, W., & Zhu, K. (2018). Throughfall kinetic energy and its spatial characteristics under rubber-based agroforestri sistems. Catena, 161, pp. 113-121.
  12. Monde, A., Sinukaban, N., Murtilaksono, K., dan Pandjaitan, N. H. (2008). Dinamika kualitas tanah, erosi dan pendapatan petani akibat alih guna lahan hutan menjadi lahan kakao di DAS Nopu, Sulawesi Tengah. In J. Forum Pascasarjana IPB. Sekolah Pascasarjana IPB, Bogor, pp. 215-225.
  13. Naharuddin, N. (2018). Komposisi dan Struktur Vegetasi dalam Potensinya Sebagai Parameter Hidrologi dan Erosi. Jurnal Hutan Tropis, 5(2), pp. 134-142.
  14. Ngaji, A. U. K. (2009). Pengaruh Perubahan Tutupan Lahan Terhadap Kondisi Hidrologis Kawasan Daerah Aliran Sungai Talau. Partner, 16 (1), pp. 51-55.
  15. Nurmani, U., Monde, A., dan Rahman, A. (2016). Indeks bahaya erosi (IBE) pada beberapa penggunaan lahan di Desa Malei Kecamatan Balaesang. Jurnal Agrotekbis, 4 (2), pp. 186-194.
  16. Rahman, M. W., Purwanto, M. Y. J., dan Suprihatin, S. (2014). Status Kualitas Air Dan Upaya Konservasi Sumberdaya Lahan Di DAS Citarum Hulu, Kabupaten Bandung. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 4 (1), pp. 24-34.
  17. Sarminah, S., Karyati, K., Karmini, K., Simbolon, J., dan Tambunan, E. (2018). Rehabilitation and soil conservation of degraded land using sengon (Falcataria moluccana) and peanut (Arachis hypogaea) agroforestri system. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 19 (1), pp. 222-228.
  18. Sardjono, M. A., Djogo, T., Arifin, H. S., dan Wijayanto, N. (2003). Klasifikasi dan pola kombinasi komponen agroforestry. Bahan Ajaran Agroforestri, 2. World Agroforestri Centre (ICRAF) Southeast Asia. Bogor
  19. Savitri, E., dan Pramono, I. B. (2017). Reklasifikasi Peta Penutupan Lahan untuk Meningkatkan Akurasi Kerentanan Lahan. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 5 (2), pp. 83-94.
  20. Setyowati, D. L. (2007). Sifat fisik tanah dan kemampuan tanah meresapkan air pada lahan hutan, sawah, dan permukiman. Jurnal Geografi, 4(2), pp, 112-148.
  21. Syam A. (2003). Dryland management sistem in upper watershed. Jurnal Litbang Pertanian, 22 (40), pp. 162-171.
  22. Tunas, I. G. Pengaruh Prosedur Perkiraan Laju Erosi terhadap Konsistensi Nisbah Pengangkutan Sedimen. Jurnal SMARTek, 6(3),pp. 135 - 143.