Sistem Pertanian Konservasi Pola Agroforestri dan Hubungannya dengan Tingkat Erosi di Wilayah Sub-DAS Wuno, Das Palu, Sulawesi Tengah

*Naharuddin Naharuddin -  Departemen Kehutanan, Universitas Tadulako, Indonesia
Received: 21 Jun 2018; Published: 31 Dec 2018.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 356 779
Abstract
The upstream part of Wuno Subwatershed in Palu Watershed experiences massive land use change exploitation, causing erosion impact increasingly. An alternative way for reduce the erosion level is by applying conservation farming system. This research aims to examine the conservation farming system with GIS-based agroforestry pattern and its effects to the erosion level reduction perceived by the community living in the Wuno Subwatershed. The method used is image interpretation and field survey to obtain data directly on an object using GPS.The results show that there are four agroforestry patterns in Wuno subwatershed, that is, trees along border, alternate rows, alley cropping and random mixture. The highest erosion level shown by the alley cropping pattern at 5.17 grams/ha and the lowest is trees along border at 0.47 grams/ha, all compared to the total rainfall level of 493.6 mm. The canopy cover of the agroforestry pattern influences the erosion level occurs.
Keywords
conservation, erosion, watershed

Article Metrics:

  1. As-Syakur, A. R. (2011). Perubahan penggunaan lahan di Provinsi Bali. Ecotrophic: Jurnal Ilmu Lingkungan (Journal of Environmental Science), 6(1), 1–7.
  2. Asdak, C. (2002). Hidrologi dan pengelolaan daerah aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  3. Atmojo, S. W. (2008). Peran agroforestri dalam menanggulangi banjir dan longsor DAS. In Disajikan dalam dalam Seminar Nasional Prndidikan Agroforestry Sebagai Strategi Menghadapi Pemanasan Global di Fakultas Pertanian.
  4. Braud, I., Vich, A. I. J., Zuluaga, J., Fornero, L., & Pedrani, A. (2001). Vegetation influence on runoff and sediment yield in the Andes region: Observation and modelling. Journal of Hydrology, 254, 124–144. doi:10.1016/S0022-1694(01)00500-5.
  5. Budiastuti, Mt. S. (2009). Hidrologi tapak lahan: Perubahan tutupan lahan dan tingkat resapan air. Sains Tanah (Journal of Soil Science and Agroclimatology), 6(1), 15–26. Retrieved from http://jurnal.fp.uns.ac.id/index.php/tanah/article/view/62.
  6. Danoedoro, P. (2012). Pengantar penginderaan jauh digital. Yogyakarta: Penerbit Andi Yogyakarta.
  7. Darmayanti, A. S. (2012). Beberapa sifat fisika kimia tanah yang berpengaruh terhadap model kecepatan infiltrasi pada tegakan mahoni, jabon, dan trembesi di Kebun Raya Purwodadi. Jurnal Penelitian Hayati, 17(1), 185–191.
  8. Daswir, D. (2010). Peran seraiwangi sebagai tanaman konservasi pada pertanaman kakao di lahan kritis. Buletin Littro, 21(2), 117–128.
  9. Hairiah, K., Sardjono, M. A., & Sabarnurdin, S. (2003). Pengantar agroforestri: Bahan ajaran agroforestri 1. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF). Retrieved from www.worldagroforestry.org/sea/Publications/files/lecturenote/LN0001-04.pdf%0A%0A.
  10. Liu, J., Liu, W., & Zhu, K. (2018). Throughfall kinetic energy and its spatial characteristics under rubber-based agroforestry systems. Catena, 161, 113–121. doi:10.1016/j.catena.2017.10.014.
  11. Monde, A. (2008). Dinamika kualitas tanah, erosi, dan pendapatan petani akibat alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian dan kakao/agroforestri kakao di DAS Nopu, Sulawesi Tengah. Institut Pertanian Bogor. Retrieved from https://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/3081.
  12. Naharuddin, N. (2017). Komposisi dan struktur vegetasi dalam potensinya sebagai parameter hidrologi dan erosi. Jurnal Hutan Tropis, 5(2), 134–142. Retrieved from https://ppjp.ulm.ac.id/journal/index.php/jht/article/view/4367.
  13. Ngaji, A. U. K. (2009). Pengaruh perubahan tutupan lahan terhadap kondisi hidrologis kawasan daerah aliran sungai Talau. Partner, 16(1), 51–55. Retrieved from http://jurnal.politanikoe.ac.id/index.php/jp/article/view/61.
  14. Nuraida, N., Rachman, L. M., & Baskoro, D. P. T. (2016). Analisis nilai konservasi tinggi aspek pengendali erosi dan sedimentasi (HCV 4.2) di DAS Ciliwung Hulu. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan, 6(2), 151–159. doi:10.19081/jpsl.6.2.151.
  15. Nurmani, U., Monde, An., & Rahman, A. (2016). Indikasi bahaya erosi (IBE) pada beberapa penggunaan lahan di Desa Malei Kecamatan Balaesang Tanjung Kabupaten Donggala. Jurnal Agrotekbis, 4(2), 186–194.
  16. Rahman, M. W., Purwanto, M. Y. J., & Suprihatin, S. (2014). Status kualitas air dan upaya konservasi sumberdaya lahan di DAS Citarum Hulu, Kabupaten Bandung. Jurnal Pengelolaam Sumberdaya Alam Dan Lingkungan, 4(1),
  17. –34. doi:10.29244/jpsl.4.1.24.
  18. Sardjono, M. A., Djogo, T., Arifin, H. S., & Wijayanto, N. (2003). Klasifikasi dan pola kombinasi komponen agroforestri: Bahan ajaran agroforestri 2. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF). Retrieved from https://www.worldagroforestry.org/region/sea/publications/download?dl=/lecturenote/LN0002-04.pdf&pubID=76.
  19. Sarminah, S., Karyati, K., Karmini, K., Simbolon, J., & Tambunan, E. (2018). Rehabilitation and soil conservation of degraded land using sengon (Falcataria moluccana) and peanut (Arachis hypogaea) agroforestry system. Biodiversitas, 19(1), 222–228. doi:10.13057/biodiv/d190130.
  20. Setyowati, D. L. (2008). Sifat fisik tanah dan kemampuan tanah meresapkan air pada lahan hutan, sawah, dan permukiman. Jurnal Geografi, 4(2), 114–128. Retrieved from https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JG/article/view/103.
  21. Syam, A. (2003). Dryland management sistem in upper watershed. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, 22, 162–171.
  22. Tunas, I. G. (2008). Pengaruh prosedur perkiraan laju erosi terhadap konsistensi nisbah pengangkutan sedimen. Jurnal SMARTek, 6(3), 135–143. Retrieved from http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/SMARTEK/article/view/476.
  23. van Noordwijk, M., Agus, F., Suprayogo, D., Hairiah, K., Pasya, G., Verbist, B., & Farida, F. (2005). Peranan agroforestri dalam mempertahankan fungsi hidrologi daerah aliran sungai (DAS). In Dampak hidrologis hutan, agroforestri, dan pertanian lahan kering sebagai dasar pemberian imbalan kepada penghasil jasa lingkungan di Indonesiaidrologis hutan, agroforestri, dan pertanian lahan kering sebagai dasar pemberian imbalan kepada penghasil jasa (pp. 23–38). Bogor: ICRAF. Retrieved from http://www.worldagroforestry.org/publication/peranan-agroforestri-dalam-mempertahankan-fungsi-hidrologi-daerah-aliran-sungai-das.