Selama ini, masyarakat luas masih mengenal bahwa pemerintah telah menyediakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak penyandang cacat (difabel) yaitu pada Sekolah Luar Biasa (SLB). Ternyata, secara tidak sadar hal ini telah menciptakan segregasi pendidikan serta membangun tembok eksklusifisme bagi penyandang disabilitas (difabel). Kota Semarang merupakan salah satu kota yang memiliki visi untuk menjadi Kota Inklusi. Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin mengatakan, saat ini memang baru ada 18 SD dan 7 SMP Negeri di Kota Semarang yang menerapkan program inklusi. Namun dalam praktiknya, kebijakan penunjukkan sekolah inklusi tersebut tidak diikuti dengan penyediaan fasilitas yang inklusif, sehingga banyak terjadi SBK mengalami kesulitan akses dan pengunaan ruan
Last update:
Last update: