skip to main content

Aplikasi Platform Google Earth Engine untuk Estimasi Stok Karbon Mangrove di Barat Laut Pulau Enggano, Sumatra

1Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, Indonesia

2Program Studi Sains Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, Indonesia

3Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, Indonesia

Received: 23 Jan 2026; Revised: 8 Oct 2026; Accepted: 9 Oct 2026; Available online: 25 Oct 2026; Published: 10 Nov 2026.
Open Access Copyright (c) 2026 Jurnal Kelautan Tropis under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca terutama karbon dioksida (CO2), di atmosfer merupakan faktor penyebab timbulnya pemanasan iklim secara global. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dampak tersebut adalah meningkatkan peran hutan sebagai penyerap CO2 melalui pengelolaan hutan, salah satunya adalah hutan mangrove. Ekosistem mangrove, sebagaimana ekosistem hutan lainnya, berperan sebagai penyerap CO2 dari atmosfer. Area Barat Laut Pulau Enggano memiliki ekosistem mangrove yang sebagian berada di dalam Kawasan Cagar Alam Tanjung Laksaha. Diketahui, bahwa mengukur jumlah karbon yang disimpan dalam tubuh mangrove pada suatu lahan dapat menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap oleh mangrove. Hutan mangrove menjadi sumber emisi gas rumah kaca apabila kondisi hutan mangrove rusak, sehingga kemampuan menyerap karbonnya berkurang. Sampai saat ini belum terdapat data dan informasi terkait kandungan karbon mangrove di barat Laut Pulau Enggano. Pendekatan penginderaan jauh berbasis Google Earth Engine (GEE) yang dikombinasikan dengan data lapangan dan model regresi NDVI–AGB mampu mengestimasi stok karbon mangrove di barat Laut Pulau Enggano secara efektif dan andal. Ekosistem mangrove di Barat Laut, Pulau Enggano, teridentifikasi seluas 199,72 ha. Estimasi rata-rata stok karbon pada bagian atas vegetasi (AGB) sebesar 496,91 ton/ha dan pada bagian bawah vegetasi (BGB) sebesar 188,82 ton/ha, dengan tingkat akurasi klasifikasi sebesar 95,45%. Total potensi simpanan karbon mencapai 64.368,95 ton, yang didominasi oleh mangrove berkerapatan tinggi sebagai penyumbang utama stok karbon. Temuan ini menegaskan peran strategis mangrove dalam mitigasi perubahan iklim serta menyediakan dasar ilmiah yang kuat untuk perencanaan pengelolaan, konservasi, dan pengembangan skema karbon biru yang berkelanjutan. Selain itu, Pendekatan berbasis cloud computing ini menjadi terobosan penting dalam pemetaan karbon biru, karena mampu memproses data dalam skala besar tanpa bergantung pada perangkat keras lokal dan dapat diperbarui secara temporal.

Keywords: Cloud Computing; Google Earth Engin; Penginderaan Jauh

Article Metrics:

Article Info
Section: Articles
Language : ID

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.