ANALISIS LUAS PENGELOLAAN WILAYAH LAUT JAWA TENGAH PADA BEBERAPA SISTEM PROYEKSI DAN SISTEM KOORDINAT

*Moehammad Awaluddin scopus  -  Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Fauzi Janu Ammarohman  -  Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Arief Laila Nugraha  -  Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Bandi Sasmito  -  Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Khofifatul Azizah  -  Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 18 Oct 2020; Published: 4 Dec 2020.
View
Open Access
Citation Format:
Abstract

Permendagri No. 141 tahun 2017 menyebutkan bahwa Peta Batas Daerah termasuk Peta Batas Pengelolaan Wilayah Laut menggunakan sistem proyeksi Transverse Mercator dan sistem koordinat UTM. Sistem proyeksi ini bersifat konform yang mempertahankan bentuk (sudut) tetapi tidak mempertahankan luas dan jarak. Penelitian ini menghitung perbedaan luas pada beberapa sistem proyeksi dan sistem koordinat di batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Tengah. Sistem proyeksi dan sistem koordinat yang digunakan adalah: Proyeksi Lambert Silinder Equal Area, Proyeksi UTM Zona 49 Selatan, Proyeksi Transverse Mercator dan Proyeksi Mercator dengan dua sistem koordinat yang berbeda. Selisih luas dihitung terhadap luas hasil proyeksi Lambert Silinder Equal Area yang mempertahankan luas pada sistem proyeksinya. Luas daerah pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Tengah pada proyeksi UTM dan Transverse Mercator mempunyai persentasi selisih luas yang kecil jika dibandingkan dengan luas proyeksi Lambert Silinder Equal Area. Besarnya persentase selisih luas tidak signifikan sehingga penarikan batas pengelolaan wilayah laut Provinsi Jawa Tengah dapat dilakukan pada sistem proyeksi konform UTM. Perbedaan persentasi luas yang besar pada proyeksi Mercator dibandingkan dengan proyeksi UTM dan Transverse Mercator disebabkan letak daerah yang berjarak paling jauh pada garis yang mempunyai distorsi nol.


Permendagri No. 141 of 2017 states that the regional boundary map including the maritime area management boundary map uses the Transverse Mercator projection system and the UTM coordinate system. This projection system is conform projection which maintains shape (angle) but does not maintain area and distance. This study calculates the area differences in several projection systems and coordinate in the management boundaries of the sea territory of The Central Java Province. The projection system and coordinate system used are: Equal Area Cylindrical Lambert Projection, UTM Projection zone 49 south, Transverse Mercator Projection and Mercator Projection with two different coordinate systems. The difference in area is calculated against the projected area of the Lambert Cylindrical Equal Area which maintains the area of the projection system. The area of the sea management area of Central Java Province in the UTM and Transverse Mercator projections has a small percentage difference in area when compared to the projected area of the Lambert Cylindrical Equal Area. The magnitude of the percentage difference in area is not significant so that the drawing of boundaries for the management of the sea area of Central Java Province can be carried out on the UTM conforming projection system. The bigger percentage of area difference of the Mercator projection compared to the UTM and Transverse Mercator projections is due to the location of the area that is the farthest away from the line which has zero distortion.

Article Metrics:

  1. ______. (2014). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
  2. ______. (2017). Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 141 Tahun 2017 tentang Penegasan Batas Daerah
  3. ______. (2007). Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 73 Tahun 2007 tentang Batas Daerah Provinsi Jawa Timur dengan Provinsi Jawa Tengah
  4. ______. (2009). Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 2009 tentang Batas Daerah Provinsi Jawa Tengah dengan Provinsi Jawa Barat
  5. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. (2020). Profil dan Sejarah Provinsi Jawa Tengah. https://jatengprov.go.id/sejarah/ . diakses 14 September 2020
  6. Arddinatarta, M., Sudarsono, B. dan Awaluddin, M. (2016). "Analisis Dampak Perubahan Garis Pantai Terhadap Batas Pengelolaan Wilayah Laut Kabupaten Jepara". Jurnal Geodesi Undip, vol. 5, no. 3, pp. 52-60, Aug. 2016. [Online]
  7. Battersby, SE and Montello, DR. (2009). Area Estimation of World Regions and the Projection of the Global-Scale Cognitive Map. Annals of the Association of American Geographers, 99(2) 2009, pp. 273–291. Taylor & Francis, LLC
  8. Muryamto, R. 1994. Hitungan Proyeksi Peta. UGM. Jogjakarta
  9. Lumban-Gaol, Y., Safi’i, AN., Hartanto, P. dan Rachma, TRN. (2019). Analysis on the Effect of Map Projection System for Area Calculation. IPTEK Journal of Proceedings Series No. (2)
  10. Prihandito, A. 1988. Proyeksi Peta. Penerbit Kanisius. Jogjakarta
  11. Šavrič, Bojan & Patterson, Tom & Jenny, Bernhard. (2019). The Equal Earth map projection. International Journal of Geographical Information Science. 33. 454–465. 10.1080/13658816.2018.1504949
  12. Syetiawan, A. (2019). Perhitungan Luas Wilayah dan Panjang Garis Pantai Indonesia Menggunakan Sistem Proyeksi Distorsi Minimal. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Geografi 2019. Program Studi Magister Pendidikan Geografi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung
  13. Weisstein, Eric W. "Cylindrical Equal-Area Projection." From MathWorld -- A Wolfram Web Resource. https://mathworld.wolfram.com/CylindricalEqual-AreaProjection.html diakses 14 September 2020

Last update: 2021-05-05 20:38:04

No citation recorded.

Last update: 2021-05-05 20:38:04

No citation recorded.