PERANAN PROGRAM SERTIFIKAT UTZ TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI KAKAO DI KABUPATEN JEMBRANA PROVINSI BALI

*windi Arihta Ginting  -  Udayana University, Indonesia
Gusti Agung Ayu Ambarawati  -  Udayana University, Indonesia
Ida Ayu Listia Dewi  -  Udayana University, Indonesia
Received: 15 Apr 2019; Published: 30 Nov 2019.
Open Access Copyright 2019 Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 57 65

Abstract

Indonesia merupakan penghasil kakao ketiga di dunia. Komoditi kakao Indonesia sangat berpotensi untuk dikembangkan dari segi kuantitas namun dari segi kualitas dinilai masih rendah untuk pasar dunia terutama Eropa.  Salah satu program yang dapat mendorong produksi dan kualitas kakao adalah melalui sertifikasi pertanian berkelanjutan yaitu UTZ Certified. Salah satu pemegang sertifikat UTZ di Indonesia adalah Koperasi Kerta Semana Samaniya di Kabupaten Jembrana. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan produksi dan pendapatan usahatani kakao bersertifikat UTZ dan yang tidak mengikuti program sertifikat UTZ di Kabupaten Jembrana, mengidentifikasikan alasan petani kakao mengikuti program sertifikasi UTZ. Analisis data yang digunakan adalah menghitung pendapatan usahatani, uji beda (uji-t) dan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata produktivitas usahatani kakao bersertifikat UTZ sebanyak 173,20 kg/ha dan  non sertifikat sebanyak 211,88 kg/ha, yang menunjukkan bahwa produksi kakao bersertifikat UTZ lebih rendah sebesar 22,3% dibandingkan dengan non sertifikat. Pendapatan Usahatani bersertifikat UTZ lebih tinggi 45,17% yaitu sebesar Rp 4.887.639/ha/tahun dibandingkan dengan petani non sertifikat yang hanya memperoleh Rp 2.676.833/ha/tahun.  Usahatani kakao bersertifikat UTZ memiliki R/C  sebesar 3,3 sedangkan petani kakao non sertifikat UTZ sebesar 1,9. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani kakao bersertifikat lebih menguntungkan dibandingkan dengan usahatani kakao non sertifikat. Tiga alasan utama petani mengikuti program sertifikasi UTZ adalah adanya sosialisasi pengenalan program sertifikasi, mendapatkan harga jual yang tinggi.

Kata Kunci: Pendapatan Petani, Usahatani Kakao, UTZ Certified

Keywords
Kata Kunci: Program UTZ, Usahatani Kakao, Pendapatan

Article Metrics:

  1. Anwar, H. 2014. Analisis Kapasitas Kelembagaan dan Penerimaan Petani Anggota Poktan Program Nestle Cocoa Plan Pisagro. [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
  2. Chairawaty F. 2012. Dampak pelaksanaan perlindungan lingkungan melalui Sertifikasi Fair Trade (studi kasus: petani kopi anggota Koperasi Permata Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Nangroe Aceh Darusalam. Jurnal Ilmu Lingkungan UNDIP: 10 (2): 76-84.
  3. Direktorat Jenderal Perkebunan., Kementerian Pertanian. 2013. Statistik Perkebunan Tahun 2008-2012. http://ditjenbun.deptan.go.id Diakses 09 Mei 2019
  4. FAO. 2013. Assets Infograpich Chocolate. United Nations. www.fao.org Diakses 21 November 2017
  5. Fraenkel, J. dan Wallen, N. (1993). How to Design and evaluate research in education. (2nd ed). New York: McGraw-Hill Inc.
  6. Gay, L.R. and Diehl, P.L. 1992. Research Methods for Business and Management. Mc. Millan Publishing Company, New York.
  7. Hasibuan AM. 2012. Model System Dinamis Pengembangan Agroindustri Kakao [Tesis].Bogor: Institut Pertanian Bogor
  8. Hasibuan, A. Analisis Kinerja Dan Daya Saing Perdagangan Biji Kakao Dan Produk Kakao Olahan Indonesia Di Pasar Internasional. Jurnal Buletin RISTRI 3 (1)57-69.
  9. Ingram V. van Rijn F. Waarts Y. Gilhuis H. 2018. The Impacts of Cocoa Sustainability Initiatives in West Africa. LEI Wageningen UR. Den Haag, The Netherlands.
  10. Ingram V., Waarts Y, Ge L., van Vugt S., Wegner L., Puister-Jansen L., Ruf F., Tanoh R. 2014. Impact of UTZ Certification of cocoa in Ivory Coast Assessment framework and baseline. LEI Wageningen UR. Den Haag, The Netherlands.
  11. Juwita T. 2013. Manfaat Pembinaan dan Verifikasi Kopi dalam Upaya Peningkatan Mutu Kopi (Studi Kasus: Program Verifikasi Binaan PT Nestlé Indonesia di Kabupaten Tanggamus). Universitas Lampung: Lampung. JIIA, 2 (3) : 276-284.
  12. Kalimajari. 2015. Laporan Participatory Action Research Kalimajari. Yayasan Kalimajari. Bali
  13. Oktami, N. 2014. Manfaat Sertifikasi Rainforest Alliance (RA) dalam Mengembangkan Usahatani Kopi Yang Berkelanjutan Di Kecamatan Pulau Panggung Kabupaten Tanggamus. [Skripsi]. Universitas Lampung. Lampung.
  14. Oseni; Joseph O; Adams, Adewale Q. 2013. Cost-Benefit Analysis of Certified Cocoa Production in Ondo State. Invited paper presented at the 4th International Conference of the African Association of Agricultural Economists. Nigeria: Federal University Of Technology.
  15. Rahayu, Y. 2014. Perencanaan Usaha Tani Berkelanjutan Berbasis Kakao Di Sub Das Way Semah Provinsi Lampung. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
  16. Rinaldi, J. 2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Kakao Pada Perkebunan Rakyat Di Bali: Pendekatan Stochastic Frontier. Sepa : 10 (1): 47 – 54.
  17. Saragih JF. 2013. Socioeconomic and ecological dimension of certified and conventional arabica coffee production in North Sumatra, Indonesia. Asian Journal of Agriculture and Rural Development: 3(3): 93-107.
  18. Sari, DM. 2017. Efisiensi Produksi dan Pendapatan Usahatani Kakao Rakyat Di Provinsi Lampung. [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
  19. Soekartawi. Soeharjo. Dillon, JL. Hardaker, JB. 1984. Ilmu Usahatani Dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta: UI Press
  20. Tresliyana, A. Fariyanti. Riffin. 2015. Daya Saing Kakao Indonesia di Pasar Internasional. Jurnal Manajemen dan Agribisnis. 12 (2): 150-161.
  21. UTZ. 2015. Pedoman Perilakui inti versi 1.1. Amsterdam:UTZ
  22. Wahyudi T. Pangabean R. Pujiyanto. 2009 Panduan Lengkap Kakao-Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Jakarta: Penebar Swadaya.