DAYA DUKUNG LAHAN DALAM PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH (STUDI KASUS KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR)

DOI: https://doi.org/10.14710/tataloka.19.4.266-279

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 14-07-2017
Published: 31-10-2017
Section: Articles
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author

Daya dukung lahan merupakan hal penting yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan tata ruang wilayah, agar mampu mendukung aktivitas pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi daya dukung lahan dalam perencanaan tata ruang Kabupaten Blitar dengan evaluasi kemampuan lahan. Evaluasi dilakukan dengan mengkaji kesesuaian antara penggunaan lahan aktual dan alokasi pola ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten blitar terhadap kelas kemampuan lahan. Kelas kemampuan lahan ditentukan pada setiap satuan lahan yang merupakan kombinasi antara bentuk lahan dan hasil survei lapang penelitian sebelumnya. Analisis penggunaan lahan aktual merupakan hasil pembaharuan peta penggunaan lahan dengan menggunakan citra SPOT-6 tahun 2015. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelas kemampuan lahan di wilayah Kabupaten Blitar terdiri atas kelas II, III, IV, VI, VII dan kelas VIII. Wilayah dengan kelas kemampuan lahan II-IV yang dapat dimanfaatkan sebagai wilayah budidaya pertanian hanya mencakup 39,0% wilayah penelitian, sedangkan 61,0% lainnya adalah wilayah dengan kelas kemampuan lahan yang tidak memungkinkan untuk budidaya pertanian (kelas VI-VIII). Daya dukung lahan secara aktual berdasarkan kesesuaian antara penggunaan lahan aktual dengan kemampuan lahan hanya sebesar 69.662 ha (43,8%), sedangkan daya dukung lahan secara aspek perencanaan berdasarkan kesesuaian antara RTRW dengan kemampuan lahan mencapai 79.498 ha (50,0%).

Keywords

Evaluasi kemampuan lahan; perencanaan; penggunaan lahan; Kabupaten Blitar

  1. Iman Sadesmesli 
    Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Indonesia


  2. Dwi Putro Tejo Baskoro 
    Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
  3. Andrea Emma Pravitasari 
    Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
  1. Arsyad, S. (2010). Konservasi Tanah dan Air. Edisi Kedua Cetakan Kedua. Bogor: Serial Pustaka IPB Press.
  2. Baja, S. (2012). Perencanaan Tata Guna Lahan dalam Pengembangan Wilayah. Yogyakarta: Penerbit ANDI YOGYAKARTA.
  3. Fahimuddin, M.M., Barus, B., Mulatsih, S. (2016). Analisis Daya Dukung Lahan di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Jurnal Tataloka. 18(3): 183-196
  4. Hardjowigeno, S. Widiatmaka.( 2007). Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  5. Harjadi, B. (2007). Perhitungan Erosi Kuantitatif Metode MMF dengan PJ dan SIG di DAS Benain-Noelmina. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. 7(2): 127-132.
  6. Johnson, B.G. and Zuleta, G.A. (2013). Land-use land-cover change and ecosystem loss in the Espinal Ecoregion, Argentina. Elsevier: Agriculture, Ecosystems and Environment, 181: 31– 40.
  7. Klingebiel, A.A. and Montgomery, P.H. (1961). Land capability classification. Agriculture Handbook, 210. Soil Conservation Service, U.S. Department of Agriculture. Washington, DC. pp. 1-3.
  8. Kumar, P. (2009). Assessment of Economic Drivers of Land Use Change in Urban Ecosystems of Delhi, India. Springer Science & Business Media, 38(1): 5-9.
  9. Lillesand, T.M. and Kiefer, R.W. (1987). Remote Sensing and Image Interpretation. New York: John Wiley and Sons, Inc.
  10. Peprah, K. (2015). Land degradation is indicative: proxies of forest land degradation in Ghana. J.Degraded and Mining Management. 3(1): 477-489.
  11. Pontoh, N.K. dan Sudrajat, D.J. (2005). Hubungan Perubahan Penggunaan Lahan Dengan Limpasan Air Permukaan: Studi Kasus Kota Bogor. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. 16(3): 44-56.
  12. Prăvălie, R., Săvulescu, I., Patriche, C., Dumitraşcu, M., Bandoc, G. (2017). Spatial assessment of land degradation sensitive areas in southwestern Romania using modified MEDALUS method. J.Catena. 153: 114-130.
  13. Ran, J. and Nedovic-Budic, Z. (2016). Integrating spatial planning and flood risk management: A new conceptual framework for the spatially integrated policy infrastructure. Computers, Environment and Urban Systems. 57: 68-79.
  14. Rayes, L. (2007). Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Yogyakarta: Penerbit ANDI YOGYAKARTA.
  15. Rosca, S., Bilasco, S., Pacurar, I., Oncu, M., Negruisier, C., Petrea, D. (2015). Land Capability Classification for Crop and Fruit Product Assessment Using GIS Technology. Case Study: The Niraj River Basin (Transylvania Depression, Romania). Not Bot Horti Agrobo. 43(1): 235-242.
  16. Rustiadi, E., Saefulhakim, S., Panuju, D.R. (2011). Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta: Crestpent Press dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  17. Sitorus, S.R.P., Susanto, B., Hardjaja, D. (2011). Kriteria dan Klasifikasi Tingkat Degradasi Lahan di Lahan Kering (Studi Kasus : Lahan Kering di Kabupaten Bogor). Jurnal Tanah dan Iklim. 34: 66-83.
  18. You, H. (2017). Agricultural landscape dynamics in response to economic transition: Comparisons between different spatial planning zones in Ningboregion, China. Land Use Policy. 61: 316-328.