KESESUAIAN KEBERADAAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) TERHADAP TATA RUANG WILAYAH DI KOTA YOGYAKARTA

DOI: https://doi.org/10.14710/tataloka.19.4.291-305

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 10-08-2017
Published: 06-11-2017
Section: Articles
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author

Residence is one of the basic rights of every person, meaning that every citizen has the right to reside and got a decent living environment. But in reality, not everyone can get a place to stay that is livable. This has been, is, and will became always a problem for communities and governments in developing residential areas with proper environmental quality. Therefore, this paper presents the results of research that aims to: (1) identification and mapping out where residence were un-inhabitable (RTLH); (2) analysis of the suitability of the location RTLH the spatial plan; and (3) analysis RTLH handling, to formulate strategies based on spatial policy. The study was conducted in the city of Yogyakarta, is based on a spatial approach using secondary data, data analysis using quantitative and qualitative descriptive methode. The results showed that the number of RTLH in Yogyakarta until the year 2014 as a whole is 3,304 residences, or 3.55 percent of the total number of residences (92 965 pieces), spread over 14 districts and 45 villages. Judging spatial, the majority (65.63%) RTLH is in a residential zone, while others (34.37%) RTLH are in non-residential zone. RTLH in non-residential zone, 13.09 percent are in protected areas, namely in the zone of green open space (RTH) of 9.42 percent, and 3.67 percent in the zones of nature reserves and cultural heritage. The remaining 21.28 percent RTLH contained in non-residential area of cultivation. RTLH handling can be done by way of demolition, relocation, land acquisition, as well as indemnity. RTLH for priority handling should be done in a protected area. Efforts that can be implemented to overcome the problems RTLH and slums, is to provide support for policy and program strategies appropriate, integrated and comprehensive.

Keywords

Suitability; Un-inhabitable residence (RTLH); Spatial Pattern; Strategy

  1. Su Ritohardoyo 
    Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas. Geografi UGM Yogyakarta
  2. Mohammad Isnaini Sadali 
    Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas. Geografi UGM Yogyakarta
  1. Badan Perencanaan Pembangnan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, 2015. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta. Yogyakarta.
  2. Badan Pusat Statistik (BPS). 2007. Statistik Kesejahteraan Rakyat Tahun 2007. Jakarta
  3. Badan Pusat Statistik (BPS). 2008. Statistik Kesejahteraan Rakyat Tahun 2008. Jakarta
  4. Badan Pusat Statistik (BPS). 2014. Statistik Kesejahteraan Rakyat Tahun 2014. Jakarta
  5. Dani, E. T., Sitorus, S. R. P., dan Munibah, K. 2017. Analisis Penggunaan Lahan dan Arahan Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kabupaten Bogor. TATALOKA, 19 (1): 40 – 52. DOI: 10.14710/tataloka.19.1.40-52
  6. Fahimuddin, M. M, Barus, B., dan Mulatsih, S. 2016. Analisis Daya Dukung Lahan di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. TATALOKA, 18 (3): 183 – 196
  7. Fahmi, F. Z., Hudalah, D., Rahayu, P., and Woltjer, J. 2014. Extended Urbanization in Small and Medium-size Cities. The Case of Cirebon, Indonesia. Habitat International, 42: 1-10.
  8. Faruqi, I., Hadi S., dan Sahara. 2015. Analisis Potensi dan Kesenjangan Wilayah Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. TATALOKA, 17(4): 231 – 247.
  9. Firman, T., Kombaitan, B., and Pradono, P. 2007. The Dynamics of Indonesia’s Urbanization, 1980-2006. Urban Policy and Research, 25(4): 433-454.
  10. Hadi, B. S. dan Mulyowiyono, S. 2003. Evaluasi Perubahan Kualitas Lingkungan Permukiman Kota berdasarkan Foto Udara Multitemporal: Kasus Kecamatan Umbulharjo dengan Bantuan Sistem Informasi Geografi. J. Manusia dan Lingkungan, 10 (2): 63 – 73
  11. Jeremy, B. 2015. UN State of The World Cities 2009. Ireland: European Anti Poverty Network
  12. Kementerian Perumahan Rakyat RI. 2014. Renstra Kemenpera Tahun 2010-2014. Dalam http://dokumen.tips/real-estate/rencana-strategis-kementerian-perumahan-rakyat-renstra-kemenpera-tahun-2010-2014.html. Diunduh tanggal 1 Juni 2017,
  13. Keputusan Walikota Nomor 393 tahun 2014 tentang Penetapan Lokasi Kawasan Tidak Layak Huni di Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Kantor Pemerintah Daerah Kota Yogyakarta.
  14. Khoo, T.C. 2015, New Lenses on Future Cities, Suplemen New Lens Scenarios. Singapura: Center Liveable Cities.
  15. Kurniati, N. 2014. Pemenuhan Hak atas Perumahan dan Kawasan Permukiman yang Layak dan Penerapannya Menurut Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial,dan Budaya di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum, 1 (1): 78-98.
  16. Lynch, K. 2009. Good City Form. Conference Paper in Computer Science and Information Engineering, 2009 WRI World Congress Hokkaido University. May 2009.
  17. Muhammad, B. A. dan Sulistryarso, H. 2016. Arahan Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Kecamatan Kenjeran dengan Pendekatan Eco-Sattlements. Jurnal Teknik. 5 (2): 124-128.
  18. Muta’ali, L. dan Nugroho, A.R. 2016. Perkembangan Program Penanganan Permukiman Kumuh di Indonesia dari Masa ke Masa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  19. Nurhidayati, E., Buchori, I., dan Mussadun, M. 2016. Prediksi Perkembangan Lahan Permukiman terhadap Kerentanan Bencana Banjir dan Kebakaran di Permukiman Tepian Sungai Kapuas Kota Pontianak. TATALOKA, 18 (4): 249 – 260.
  20. Purwanto, E., Setioko, B., dan Olivia, D. 2017. Faktor - Faktor Pengaruh Kinerja Permukiman Sebagai Antisipasi Perwujudan Kampung Wisata Bahari: Studi Kasus: Kampung Nelayan Tambak Lorok, Kota Semarang. TATALOKA, 19 (1): 1 – 14. DOI: 10.14710/tataloka.19.1.1-14
  21. Ratnasari, A., Sitorus, S. R. P., dan Tjahjono, B. 2015. Perencanaan Kota Hijau Yogyakarta Berdasarkan Penggunaan Lahan Dan Kecukupan RTH. TATALOKA, 17 (4): 196 - 208
  22. Sadali, M. I. 2014. Trend Perkembangan Penduduk dan Implikasinya Terhadap Kebutuhan RTH (Ruang Terbuka Hijau) di D.I. Yogyakarta. Di dalam Prosiding Pertemuan Ilmiah Ikatan Geograf Indonesia (IGI). Eds. Hastuti et al. pp: 366-379. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Geografi UNY.
  23. Safaruddin; S. T. dan Izziah. 2015. Penataan Perumahan Kumuh Desa Pusong Kecamatan Banda Sakti Kota Loksumawe. Jurnal Teknik Sipil. 5 (1): 61-70.
  24. Santosa, E. B., dan Therik, L. V. 2016. Faktor Penentu Bertempat Tinggal pada Kawasan Kumuh di Kota Malang Berdasarkan Teori Doxiadis. Tata Loka, 18 (4): 261 – 273
  25. Satyohutomo, M. 2009. Manajemen Kota dan Wilayah, Realita dan Tantangan. Jakarta: PT. Bumi Aksara
  26. Satyohutomo, M. 2016. Tata Guna Tanah dan Penyerasian Tata Ruang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  27. Setiadi, A. 2014. Tipologi dan Pola Penanganan Permukiman Kumuh di Kota Bontang. Tata Loka, 16 (4): 220 - 233.
  28. Setyono, J. S., Yunus, H. S., dan Giyarsih, S. R. 2017. Pengelolaan Kota – Kota Kecil di Jawa Tengah: Studi Kasus pada Empat Kota Kecil di Wilayah Joglosemar. Tataloka, 19 (2): 142 – 162. DOI: 10.14710/tataloka.19.2.142-162
  29. Sunarti dan Apriliasari, N. K. 2015. Dampak Perubahan Iklim terhadap Permukiman Pesisir di Kelurahan Demaan Kabupaten Jepara. Tata Loka, 17 (4): 248 – 256
  30. Tacoli, C. (ed.). 2006. The Earthscan Reader in Rural-Urban Lingkages. London: Earthscan Publication.
  31. Triatmodjo, S., Djunaedi, A., Sastrosasmito, S., dan Subroto, Y. W. 2009. Desakralisasi Ruang Cikal Bakal di Permukiman Kauman Yogyakarta: Sebuah Perubahan Makna Ruang Permukiman Tradisional di Kota. J. Manusia dan Lingkungan, 16 (3): 141 – 152
  32. Undang Undang Dasar (UUD) 1945, Penjelasan Pasal 28 Sampai Pasal 28J UUD 1945. Dalam http://limc4u.com/uud-1945/penjelasan-pasal/penjelasan-pasal-28-sampai-pasal-28j-uud-1945/, Diunduh tanggal 1 Juni 2017.
  33. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman. Dalam thttp://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/lt4d50fb4b171ba/node /39/uu-no-1tahun -2011-perumahan-dan-kawasan-permu. Diunduh tanggal 1 Juni 2017
  34. United Nations Population Division. 2007. World Urbanization Prospects. New York: Department of Economic and Social Affairs Population Division.
  35. Yudarwati, R., Sitorus, S. R. P., dan Munibah, K. Arahan Pengendalian Perubahan Penggunaan Lahan Menggunakan Markov Celuler –Automata di Kabupaten Cianjur. Tata Loka, 18 (4): 211 - 221
  36. Yunus, H.S. 2002. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.