skip to main content

PENGARUH TINGKAT KEPADATAN TELUR YANG BERBEDA TERHADAP EMBRIOGENESIS, LAMA WAKTU PENETASAN DAN DERAJAT PENETASAN TELUR IKAN TAWES (Barbonymus gonionotus)

Universitas Diponegoro, Indonesia

Open Access Copyright 2020 Ziadah Alfath, Fajar Basuki, Ristiawan Agung Nugroho

Citation Format:
Abstract

Proses penetasan telur merupakan salah satu fase yang menentukan keberhasilan budidaya ikan. Daya tetas telur yang tinggi dengan kualitas telur yang baik akan menjadikan produksi larva tawes dengan kualitas yang baik. Permasalahan dari produksi dalam budidaya ikan tawes hanya mampu menghasilkan telur sebanyak 10.000 dengan daya tetas yang rendah yaitu sebesar 22%. Sebagai upaya peningkatan derajat penetasan telur ikan tawes yaitu dengan perlakuan tingkat kepadatan yang berbeda pada setiap wadah penetasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kepadatan yang berbeda terhadap perkembangan telur dan derajat penetasan telur ikan tawes (B.gonionotus), untuk mengetahui kepadatan yang optimal bagi penetasan telur ikan tawes. Penelitian dilaksanakan Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Ngrajek, Magelang, Jawa Tengah pada Bulan Maret-April 2018. Bahan uji yang digunakan adalah telur ikan tawes (B.gonionotus) hasil pemijahan di Balai. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan yakni, kepadatan dalam 10 liter air A (10 butir/liter air), B (20 butir/liter air), C (30 butir/liter air), D (40 butir/liter air). Variabel yang diukur meliputi: Pengamatan perkembangan telur secara deskriptif, waktu penetasan (menit), derajat penetasan (HR) dan kualitas air. Data derajat penetasan dianalisis dengan analisis ragam, apabila berpengaruh maka dilakukan uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui beda antar perlakuan untuk menentukan perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepadatan yang berbeda berpengaruh nyata (F hitung > F tabel) terhadap parameter uji. Hasil perkembangan embrio tercepat diperoleh perlakuan C dan D secara bersamaan, derajat penetasan tertinggi diperoleh perlakuan B yaitu sebesar 89,83±3,55.

Fulltext View|Download

Article Metrics:

  1. Andriyanto A, Bejo S, I Made DJA. 2013. Perkembangan Embrio dan Rasio Penetasan Telur Ikan Kerapu Raja Sunu (Plectropoma Laevis) pada Suhu Media Berbeda. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis 5(1): 192-203
  2. Agustin, F. dan B.S. Rahardja. 2013. Teknik Pembenihan Ikan Tawes (Puntius javanicus) dengan Sistem Induksi di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Muntilan, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. J. Aquaculture and Fish Health. Vol. 2(2)
  3. Ardhardiansyah. 2017. Embriogenesis dan Karakteristik Larva Persilangan Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) Jantan dengan Ikan Baung (Hemibagrus nemurus) Betina. J. Perikanan dan Kelautan Vol. 7 (2): 17-27
  4. Blaxter, J.H.S. 1969. Development : Eggs and Larva in Fish Physiology, Vol III Reproduction and Growth, Bioluminescent, Pigmen and Poisons. Academic Press. New York
  5. Evi, R. 2001. Usaha Perikanan di Indonesia. Penerbit Mutiara Sumber Widya, Jakarta, 150 hlm
  6. Hadid, Yanal, M. Syaifudin, dan M. Amin. 2014. Pengaruh Salinitas Terhadap Daya Tetas Telur Ikan Baung (Hemibagrus nemurus Blkr.). Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 2(1) :78-92
  7. Hanief, M.A. Rifqi, Subandiyono dan Pinandoyo. 2014. Pengaruh Frekuensi Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Benih Tawes (Puntius javanicus). Journal of Aquaculture Management and Technology. 3(4): 67-74
  8. Hardaningsih, Sukardi dan T. Rochmawatie. 2008. Pengaruh Fluktuasi Suhu Air Terhadap Daya Tetas Telur dan Kelulushidupan Larva Gurame (Osphronemus gouramy). J. Akuakultur Indonesia. Vol. 9(1):55-60
  9. Hepher, B dan Y. Pruginin. 1981. Comemrcial Fish Farming: With Special Reference to Fish `Culture In Israel. John Wiley and Sons. New York
  10. Hutagalung, Junita, H. Alawi dan Sukendi. 2010. Pengaruh Suhu dan Oksigen Terhadap Penetasan Telur dan Kelulushidupan Awal Larva Ikan Pawas (Osteochilus hasselti C.V.). Universitas Riau
  11. Nawir, Sukendi dan Nuraini. 2016. The Embryonic of Pawas (Osteochilus hasselti C.V) with Different Temperature. Universitas Riau
  12. Nur, Bastian Chumaidi, Sudarto, L. Pouyaud dan J. Slembrouck. 2009. Pemijahan dan Perkembangan Embrio Ikan Pelangi (Melanotaenia spp.) Asal Sungai Sawiat, Papua. J. Ris. Akuakultur 4(2):147-156
  13. Pangreksa, Amelia, Mustahal, F.R. Indaryanto dan B. Nur. 2016. Pengaruh Perbedaan Suhu Inkubasi Terhadap Waktu Penetasan dan Daya Tetas Telur Ikan Sinodontis (Synodontis eupterus). Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol.6(2): 147 – 160
  14. Putri, Dwi A., Muslim dan Mirna Fitrani. 2013. Persentase Penetasan Telur Ikan Betok (Anabas testudineus) dengan Suhu Inkubasi yang Berbeda. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 1(2) :184-19
  15. Ray, A. K. 2013. Feasibility of Cage Culture of Exotic Carp Barbonymus gonionotus (Bleeker, 1850) in Composite Fish Farming Systems. [thesis]. Department of Aquatic Environment Management Faculty Of Fishery Sciences West Bengal University of Animal and Fishery Sciences 5 - Budherhat Road, Chakgaria, P.O. Panchasayar, Kolkata-94
  16. Redha, A.Rasyid, E.I. Rahardjo dan Hastiadi Hasan. 2014. Pengaruh Suhu yang Berbeda Terhadap Perkembangan Embrio dan Daya Tetas Telur Ikan Kelabau (Osteochilus melanopleura). Jurnal Ruaya Vol.4
  17. Renita, Rachimi dan E.I. Raharjo. 2016. Pengaruh Suhu Terhadap Waktu Penetasan, Daya Tetas Telur dan Kelangsungan Hidup Larva Ikan Cupang (Betta splendens). Universitas Muhammadiyah Pontianak
  18. Rosmawati dan Muarif. 2010. Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias sp.) pada Sistem Resirkulasi dengan Kepadatan Berbeda. Jurnal Sains Akuatik. Vol. 13 (2):1 –8
  19. Rustidja, 1997. Pembenihan Ikan-Ikan Tropis. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang
  20. Sastrawibawa, 2011. Teknologi Produksi Ikan Tawes (Puntius javanicus blkr) Diploid dan Haploid. Unpad Press. Bandung. 165 hal
  21. Sinjal, H. 2011. Pengaruh Substrat Ijuk dan Hydrilla sp. terhadap Derajat Pembuahan dan Penetasan Telur Ikan Mas. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis.7 (1): 32-35
  22. Srigandono, B. 1992. Rancangan Percobaan. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro. Semarang (Untuk Kalangan Sendiri). 128 hlm
  23. Sugihartono, Muhammad. 2013. Respon Tingkat Kepadatan Telur Ikan Gurami (Osphronemus gouramy. Lac.) yang Berbeda Terhadap Daya Tetas Telur. J. Ilmiah Batanghari Jambi. Vol.13(4)
  24. Vladimirov. 1975. Critical period in Developmen of Fishes. Journal of Ichtiology, 15 (6). 51 - 53

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.