skip to main content

Pola Penerapan Hukum Adat dalam Penyelenggaraan Pembangunan di Wilayah Pembangunan III Grime Kabupaten Jayapura-Papua

*Kristian V. Griapon  -  Tata Bangunan dan Perumahan Bidang Keciptakaryaan, Indonesia
Samsul Ma'rif  -  Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2016 Jurnal Wilayah dan Lingkungan

Citation Format:
Abstract
The Development Region III of Grime (the indigenous Dumutru territory) in Jayapura District has a problem on indigeneous land ownership system. The development process by the local government of Dumutru territory is off target and in conflict with the structures and cultural systems in the community. The study aims to assess and to identify the rules of customary law that can be synergized with the formal legal rules. The study is conducted by the qualitative method through qualitative descriptive analysis. The analysis shows that the problems of development in the Development Region III of Grime Jayapura District are because of lack of synergy of positive and customary laws. The development process needs to refer to the formal legal regulations governing land acquisition mechanism and rules of customary law.
Fulltext View|Download
Keywords: development; positive law; customary law

Article Metrics:

Article Info
Section: Research Articles
Language : ID
  1. Alting, H. (2011). Penguasaan tanah masyarakat hukum adat (Suatu kajian terhadap masyarakat hukum adat Ternate). Jurnal Dinamika Hukum, 11(1), 87-98
  2. Arnstein, S. R. (1969). A ladder of citizen participation. Journal of the American Institute of Planners, 35(4), 216-224. doi: 10.1080/01944366908977225
  3. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Jayapura. (2010). Pemetaan hak ulayat masyarakat Port Numbay Kota Jayapura. Jayapura: LPKM Universitas Hasanudin Makassar
  4. Bauw, L. & Sugiono, B. (2009). Pengaturan hak masyarakat hukum adat di Papua dalam pemanfaatan sumber daya alam. Jurnal Konstitusi, 1(1), 104-137
  5. Dinas Kebudayaan Provinsi Papua. (2008). Peta suku bangsa di tanah Papua. Pemerintah Provinsi Papua: Dinas Kebudayaan Provinsi Papua
  6. Kartasasmita, G. (1997). Administrasi pembangunan. Jakarta: LP3ES
  7. Muchsin. (2006). Kedudukan tanah ulayat dalam sistem hukum tanah nasional. Varia Peradilan, 21(245)
  8. Pemerintah Republik Indonesia. (1960) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Pokok Agraria. Indonesia: Sekretaris Negara Republik Indonesia
  9. Pemerintah Republik Indonesia. (2005) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Indonesia: Sekretaris Negara Republik Indonesia
  10. Pemerintah Republik Indonesia. (2012) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Indonesia: Sekretaris Negara Republik Indonesia
  11. Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Kegiatan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Indonesia: Sekretaris Negara Republik Indonesia
  12. Setiady, T. (2013). Intisari hukum adat Indonesia dalam kajian kepustakaan. Bandung: Alfabeta
  13. Siagian, S. P. (2003). Administrasi pembangunan: Konsep, dimensi dan strateginya. Jakarta: Bumi Aksara
  14. Soekanto, S. & Mamudji, S. (2012). Penelitian hukum normatif: Suatu tinjauan singkat. Jakarta: Penerbit Raja Grafindo Persada
  15. Sumardjono. (2009). Tanah dalam perspektif hak ekonomi sosial dan budaya. Jakarta: Kompas Media Nusantara
  16. Tjokrowinoto. (1995). Manajemen pembangunan. Jakarta: Gunung Agung
  17. Todaro, M. (1977). Pembangunan ekonomi di dunia ketiga. Jakarta: Erlangga
  18. Wihardi, D., Hernandi, A., Abdulharis, R., & Handayani, A. P. (2010). Sistem konversi hak atas tanah adat Kampung Naga. Jurnal Sosioteknologi, 20(9), 883-894

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.