BibTex Citation Data :
@article{JWL24833, author = {Ariko Vega Munandhar and Bachtiar Wahyu Mutaqin and Djati Mardiatno}, title = {Kajian Kerentanan Fisik dan Sosial Ekonomi Untuk Pengelolaan Lingkungan Kawasan Pesisir Kabupaten Bintan}, journal = {Jurnal Wilayah dan Lingkungan}, volume = {13}, number = {3}, year = {2025}, keywords = {Bintan; ICVI; Kawasan pesisir; Kerentanan; Pengelolaan}, abstract = { Kawasan pesisir memiliki interaksi berbagai komponen dari daratan, lautan serta aktivitas manusia yang dihadapkan oleh kenaikan muka air laut, sehingga menjadi wilayah paling rentan di bumi. Kabupaten Bintan memiliki Kawasan pesisir yang berhadapan dengan laut terbuka dan mengalami perkembangan sektor wisata. Tujuan penelitian yaitu menilai kerentanan kawasan pesisir Kabupaten Bintan. Penilaian menggunakan integrated Coastal Vulnerability index (ICVI) berdasarkan parameter fisik dan sosial ekonomi yang dikombinasikan dengan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil Penelitian menunjukkan kerentanan fisik pada kategori sedang (1,79%), tinggi (17,77%), dan sangat tinggi (80,45%) dengan kontribusi terbesar yaitu bentuk lahan dan elevasi. Semakin tinggi tingkat kerentanan fisik menunjukkan bentuk lahan yang lebih rentan dengan elevasi yang semakin rendah. Kerentanan sosial ekonomi berada pada kategori rendah (1,02%), sedang (51.19%), tinggi (6,89%), dan sangat tinggi (40,11%) dengan kontribusi terbesar yaitu kepadatan penduduk. Semakin tinggi tingkat kerentanan sosial ekonomi menunjukkan semakin tinggi nilai dan sistem sosial ekonomi suatu wilayah. Tingkat kerentanan wilayah berada pada kategori sedang (9,72%), tinggi (48,30%) dan sangat tinggi (41,98%). Kategori sangat tinggi menunjukkan permukiman kepadatan tinggi di kerentanan fisik sangat tinggi. Kategori tinggi menunjukkan tidak terdapat permukiman padat namun memiliki lokasi wisata dan jalan di tingkat kerentanan fisik tinggi. Kategori sedang menunjukkan hanya terdapat lokasi wisata dan jalan pada kerentanan fisik sedang. Strategi pengelolaan kawasan pesisir tingkat kerentanan sangat tinggi melalui integrasi pola protektif dan akomodatif, tingkat kerentanan tinggi melalui pola protektif dan ,tingkat kerentanan sedang melalui pola akomodatif dan mundur. Penerapan strategi diintegrasikan dengan konsep Integrated Coastal Zone Management (ICZM) yang memperhatikan kondisi ekosistem, sosial dan kelembagaan. }, issn = {2407-8751}, pages = {72--91} doi = {10.14710/jwl.13.3.72-91}, url = {https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jwl/article/view/24833} }
Refworks Citation Data :
Kawasan pesisir memiliki interaksi berbagai komponen dari daratan, lautan serta aktivitas manusia yang dihadapkan oleh kenaikan muka air laut, sehingga menjadi wilayah paling rentan di bumi. Kabupaten Bintan memiliki Kawasan pesisir yang berhadapan dengan laut terbuka dan mengalami perkembangan sektor wisata. Tujuan penelitian yaitu menilai kerentanan kawasan pesisir Kabupaten Bintan. Penilaian menggunakan integrated Coastal Vulnerability index (ICVI) berdasarkan parameter fisik dan sosial ekonomi yang dikombinasikan dengan Analytic Hierarchy Process (AHP). Hasil Penelitian menunjukkan kerentanan fisik pada kategori sedang (1,79%), tinggi (17,77%), dan sangat tinggi (80,45%) dengan kontribusi terbesar yaitu bentuk lahan dan elevasi. Semakin tinggi tingkat kerentanan fisik menunjukkan bentuk lahan yang lebih rentan dengan elevasi yang semakin rendah. Kerentanan sosial ekonomi berada pada kategori rendah (1,02%), sedang (51.19%), tinggi (6,89%), dan sangat tinggi (40,11%) dengan kontribusi terbesar yaitu kepadatan penduduk. Semakin tinggi tingkat kerentanan sosial ekonomi menunjukkan semakin tinggi nilai dan sistem sosial ekonomi suatu wilayah. Tingkat kerentanan wilayah berada pada kategori sedang (9,72%), tinggi (48,30%) dan sangat tinggi (41,98%). Kategori sangat tinggi menunjukkan permukiman kepadatan tinggi di kerentanan fisik sangat tinggi. Kategori tinggi menunjukkan tidak terdapat permukiman padat namun memiliki lokasi wisata dan jalan di tingkat kerentanan fisik tinggi. Kategori sedang menunjukkan hanya terdapat lokasi wisata dan jalan pada kerentanan fisik sedang. Strategi pengelolaan kawasan pesisir tingkat kerentanan sangat tinggi melalui integrasi pola protektif dan akomodatif, tingkat kerentanan tinggi melalui pola protektif dan ,tingkat kerentanan sedang melalui pola akomodatif dan mundur. Penerapan strategi diintegrasikan dengan konsep Integrated Coastal Zone Management (ICZM) yang memperhatikan kondisi ekosistem, sosial dan kelembagaan.
Note: This article has supplementary file(s).
Article Metrics:
Last update:
Start from Volume 13 Number 2 2025, authors who publish in the Jurnal Wilayah dan Lingkungan (JWL) retain full copyright ownership (Copyright@Authors) of their work. In keeping with the journal’s commitment to open access, all articles are published under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License (CC BY-NC-SA 4.0).
Before it, copyright was still owned by the publisher, Universitas Diponegoro. To support a better open access program, we have created a new policy so that authors have full copyright ownership.
Research Group in Regional Development and Environmental Management Department of Urban and Regional PlanningFaculty of Engineering - Diponegoro University
Building B, 3rd Floor Department of Urban and Regional Planning Campus Jl. Prof Soedarto, S.H., Tembalang, Semarang 50275, Indonesia Telp/Fax: (024) 76480856 Email: jwl.laredem@gmail.com
Jurnal Wilayah dan Lingkungan by http://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jwl is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
View My Stats