skip to main content

“ARSITEKTUR SEBAGAI AGEN SISTEM KONSERVASI IN-SITU: PERANCANGAN FASILITAS PENGELOLAAN TAMAN NASIONAL DAN LANSKAP KONSERVASI GAJAH DI TWA SEBLAT, BENGKULU”

*Aurel Parsa Awanta  -  UNIVERSITAS DIPONEGORO, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Indonesia, khususnya Sumatera, satwa dan habitatnya menghadapi krisis ekologi akibat  deforestasi, fragmentasi habitat, perburuan liar, dan perubahan iklim yang mengancam  kelangsungan hidup berbagai spesies fauna terancam punah. Taman Nasional dipahami  sebagai salah satu perlindungan dan habitat asli dari satwa-satwa yang terancam punah.  Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sebagai salah satu kawasan konservasi terbesar di  Sumatera menjadi habitat megafauna kunci seperti harimau sumatera, gajah sumatera, dan tapir, namun terus menghadapi tekanan antropogenik yang semakin intensif. Di area  penyangga TNKS, Taman Wisata Alam (TWA) Seblat yang memiliki Pusat Latihan Gajah  (PLG) sebagai salah satu pusat konservasi gajah sumatera. Berdasarkan hal tersebut, studi terkait kegiatan dan sistem konservasi menghasilkan  pemahaman bahwa rangkaian kegiatan konservasi satwa memiliki berbagai utama tahap  yang mencakup penyelamatan, rehabilitasi, hingga monitoring pasca pelepasliaran atau  penangkaran jangka panjang. Berdasarkan hal tersebut difahami bahwa kegiatan tersebut  memiliki berbagai sistem, aktor, dan rangkaian kegiatan yang beragam. Arsitektur di  posisikan sebagai instrumen yang dapat berkontribusi dalam sistem konservasi satwa dan  habitat aslinya (in-situ) melalui akomodasi ruang berdasarkan sistem, aktor, dan rangkaian  kegiatan konservasi yang berorientasi di perlindungan satwa dan habitat aslinya,  penyelamatan dan rehabilitasi, serta produksi ilmu pengetahuan. Metode penelitian mencakup pendekatan deskriptif, pengumpulan data melalui studi  literatur dan data statistik, analisis komparatif terhadap preseden fasilitas taman nasional  nasional dan internasional, serta survei lapangan di lokasi TWA Seblat, menghasilkan  program rancangan yang terdiri atas dua sistem utama: (1) fasilitas pengelolaan taman  nasional berbasis operasional lapangan, mencakup area riset, area penyelamatan satwa, dan  markas pelatihan lembaga keamanan kawasan; (2) pengembangan kawasan PLG Seblat  sebagai pusat konservasi dan penyelamatan gajah sekaligus destinasi ekowisata etis-edukatif  yang dapat menopang keberlanjutan finansial program konservasi. Kata kunci: arsitektur konservasi satwa dan ekosistem, taman nasional, gajah sumatera,  Kerinci Seblat, TWA Seblat, ekowisata, fasilitas pengelolaan, konservasi in-situ
Article Info
Section: Articles
Language : ID
  1. Braverman, I. (2014). Conservation without nature: The trouble with in situ versus ex situ conservation. Geoforum, 51. https://doi.org/10.1016/j.geoforum.2013.09.018

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.