EVALUASI KONDISI EKSISTING KAWASAN TAMBAK LOROK UNTUK PENERAPAN KONSEP MINAPOLITAN

Sintia Dewi Wulanningrum dan Theresia Budi Jayanti

Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanegara

Issue Vol 4, No 1 (2016)

DOI http://dx.doi.org/10.14710/jpk.4.1.21-28

Copyright (c) 2017 Jurnal Pengembangan Kota

Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Abstrak

Minapolitan adalah kawasan ekonomi yang terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan komoditas kelautan dan perikanan, jasa, perumahan dan kegiatan terkait lainnya.Tambak Lorok merupakan salah satu kawasan pesisir yang memiliki fungsi utama sebagai kawasan pemukiman, tambak dan perdagangan khususnya hasil laut. Kawasan ini mempunyai aktifitas cukup tinggi, karena mempunyai nilai akses yang tinggi, lokasinya yang strategis, dekat dengan pusat kegiatan, pusat kota dan pusat transportasi. Permasalahan utama yang berada di Tambak Lorok antara lain: adanya rob, tingkat ekonomi masyarakat yang masih rendah, infrastruktur yang kurang mewadai. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi konsep minapolitan yang sesuai dengan kondisi setempat sehingga diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir melalui subsistem agribisnis dan subsistem penunjang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitati deskriptif.

Kata Kunci: kawasan pesisir, minapolitan, tambak lorok


[Title: Minapolitan Plan in Tambak Lorok, North Semarang] Minapolitan is an economic region consisting of production centres, marine and fishery commodities, services, housing and other related activities. Tambak Lorok is one of fishery villages located in the coastline of Java Sea in Tanjung Mas, North Semarang. The main function of Tambak Lorok is as residential areas, ponds and trades especially seafood. The main issues in Tambak Lorok are rob, low economy, and less infrastructure. The concept of minapolitan is used to improve the local economy of the coastal communities through supporting agribusiness subsystems and its subsystems. This study employed descriptive qualitative method.

Keyword: Coastal areas, minapolitan, tambak lorok

table of content

1. PENDAHULUAN

Kampung Tambak Lorok merupakan salah satu perkampungan nelayan yang letaknya berada di garis pantai Laut Jawa. Fungsi utama kampung Tambak Lorok sebagai kawasan pemukiman, tambak dan perdagangan khusus hasil laut (Dimitra & Yuliastuti, 2012). Kampung Tambak Lorok terletak di Kelurahan Tanjung Mas di kecamatan Semarang Utara. Kampung Tambak Lorok terletak dekat wilayah penghubung kegiatan fungsi-fungsi utama Kota Semarang (lihat gambar 1), seperti kawasan pelabuhan (Pelabuhan Tanjung Emas), pergudangan, pusat kota lama, Stasiun Kereta Api Tawang serta pusat pemukiman (Fikadiana, 2001). Keberadaan kawasan pesisir memiliki arti yang strategis. Salah satu prioritas pengembangan di wilayah pesisir antara lain peningkatan permukiman pesisir.

Penggerak utama ekonomi di Kawasan Minapolitan dapat berupa sentra produksi dan perdagangan perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan ikan, atau pun kombinasi kedua hal tersebut (Arifin, Kepel, & Amri, 2013; Raissa, Setiawan, & Rahmawati, 2014). Sentra produksi dan perdagangan perikanan tangkap yang dapat dijadikan penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan adalah pelabuhan perikanan. Sementara itu, penggerak utama minapolitan di bidang perikanan budidaya adalah sentra produksi dan perdagangan perikanan di lahan-lahan budidaya produktif (Edrus, 2015). Sentra produksi pengolahan ikan dan perdagangan yang berada di sekitar pelabuhan perikanan, juga dapat dijadikan penggerak utama ekonomi di kawasan minapolitan (Aryany, 2013). Program Nasional Minapolitan mengangkat konsep pembangunan kelautan dan perikanan berbasis wilayah dengan struktur :

a) Ekonomi kelautan dan perikanan berbasis wilayah: Indonesia dibagi menjadi sub-sub wilayah pegembangan ekonomi berdasarkan potensi sumber daya alam, prasarana dan geografi.

b) Kawasan Ekonomi Unggulan Minapolitan : Setiap Propinsi dan kabupaten/kota dibagi menjadi beberapa kawasan ekonomi unggulan bernama minapolitan.

c) Sentra Produksi : Setiap kawasan minapolitan terdiri dari sentra-sentra produksi dan perdagangan komoditas kelautan dan perikanan dan kegiatan lainnya yang saling terkait.

d) Unit produksi/usaha : setiap sentra produksi terdiri dari unit-unit produksi atau pelaku-pelaku usaha perikanan produktif.

Tujuan pembangunan sektor kelautan dan perikanan dengan konsep minapolitan adalah sebagai berikut :

a) Meningkatkan produksi, produktifitas dan kualitas

b) Meningkatkan pendapatan nelayan, pembudidaya, dan pengolah ikan yang adil dan merata,

c) Mengembangkan Kawasan Minapolitan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di daerah dan sentra- sentra produksi perikanan sebagai penggerak ekonomi rakyat.

Kemampuan finansial masyarakat nelayan yang lemah maka telah mendorong masyarakat nelayan untuk lebih mengesampingkan peningkatan mutu lingkungan demi pemenuhan kebutuhan pokok mereka (Mussadun & Nurpratiwi, 2016; Setioko, 2013). Jika para nelayan ini hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka maka kebutuhan-kebutuhan lain seperti peningkatan pengelolaan permukiman serta sarana dan prasarananya akan terbengkalai (Samuel, Martono, & Susanti, 2015; Sestiyani & Sariffuddin, 2015). Permasalahan permukiman kumuh di kawasan pesisir Kota Semarang masih menjadi tantangan dalam pembangunan nasional dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Tantangan yang dimaksud merupakan suatu pertanyaan bagaimana suatu permukiman pesisir dikatakan layak huni dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir pada khususnya.

Seperti halnya kondisi rumah yang telah rusak tidak dapat diperbaiki, jalan-jalan lokal yang rusak juga tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, permasalahan pada jaringan drainase dan sanitasi yang buruk juga tidak segera ditangani, dan masih banyak lagi permasalahan pada lingkungan permukiman.

Gambar 1. Peta administratif Kawasan Tambak Lorok. Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2014

table of content

2. METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Metode kualitatif yang digunakan adalah deskriptif dimana metode ini digunakan untuk mendesripsikan kondisi eksisting, potensi dan permasalahan di kampung pesisir Tambak Lorok dan menganalisi konsep minapolitan yang akan digunakan untuk pengembangan ekonomi kawasan ini berdasarkan program minapolitan yang telah ada.

Dalam menentukan analisis menggunakan metode SCORING untuk melihat kesesuaian kondisi eksisting kawasan Tambak Lorok dengan program minapolitan, sehingga dapat diketahui mana subsistem yang yang memiliki potensi untuk berkembang dan mana subsistem yang kurang berkembang di kawasan ini. Berdasarkan jumlah nilai terbanyak dari 4 parameter/indikator program nasional kelautan yang meliputi; ekonomi kelatuan, kawasan ekonomi unggulan minapolitan, sentra produksi dan unit produksi/ usaha. Analisis program nasional minapoitan menunjukkan semakin besar score nilai, berarti semakin terdapat banyak di temui pada eksisting Tambak Lorok.

1. Nilai 1 menunjukkan paling sedikit adanya program ekonomi minapolitan pada kondisi eksisting

2. Score 2 menunjukkan hanya sedikit program ekonomi minapolitan pada kondisi eksisting

3. Nilai 3 menunjukkan banyak terdapat program ekonomi minapolitan pada kondisi eksisting

4. Nilai 4 menunjukkan paling banyak adanya program ekonomi minapolitan pada kondisi eksisting

table of content

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Identifikasi Karakteristik Kawasan. Masyarakat Kampung Tambak Lorok sebanyak 80% merupakan masyarakat dengan penghasilan sebagai nelayan sisanya merupakan buruh pabrik serta buruh bangunan. Laki-laki sebagai kepala keluarga melaut dibantu oleh anak laki-laki remaja dan dewasa mereka (lihat gambar 2 dan gambar 3). Kebanyakan nelayan disini menggunakan kapal pribadi dengan sistem kelompok atau menggunakan kapal sewaan dengan model pembayaran melalui bagi hasil atas tangkapan yang diperoleh. Hasil laut nelayan kebanyakan langsung dijual kepada para tengkulak yang akan dijual ke luar wilayah Tambak Lorok terutama ke Kota Semarang dan sekitarnya serta kepada para pemilik rumah makan dan restoran terhadap hasil tangkapan yang memiliki kualitas dan jenis tertentu. Sebagian kecil tangkapan dijual langsung ke pasar di Tambak Lorok, di rumah makan.

Gambar 2. Hasil laut dari Nelayan Tambak Lorok.

Gambar 3. Hasil laut dari Nelayan Tambak Lorok yang dijual dan diolah kembali.

Keberadaan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Tambak Lorok ternyata tidak berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat nelayan Tambak Lorok, karena hasil tangkapan masyarakat nelayan Tambak Lorok kurang memenuhi kualitas dan ukuran standar yang disyaratkan sehingga hanya sebagian kecil hasil tangkapan nelayan setempat yang mampu menembus pasar TPI.

Gambar 4. Kondisi Permukiman di Kawasan Tambak Lorok.

Jadi sebagian besar ikan dan hasil laut di TPI adalah hasil tangkapan dari nelayan kapal-kapal yang lebih besar yang dimiliki oleh nelayan di luar Tambak Lorok. Hal ini disebabkan kebanyakan nelayan Tambak Lorok menggunakan kapal yang relatif kecil dengan modal yang lebih kecil tentunya sehingga berpengaruh terhadap daya jangkau atau jarak lautan yang mampu ditempuh dan akhirnya berpengaruh terhadap kualitas dan ukuran hasil tangkapan. Masyarakat bekerja sebagai nelayan,buruh, dan pedagang ikan dengan rata- rata pendapatan sebesar Rp.500.000 - Rp.1.500.000/bulan. Para nelayan setiap hari mendapatkan penghasilan kotor dari penjualan hasil tangkapannya sebesar Rp. 500.000 lalu dipotong untuk membeli bahan bakar solar kapal sebesar Rp.300.000.

Kondisi eksisting permukiman yang ada di Kampung Tambak Lorok sangat tidak mendukung pertumbuhan ekonomi sekitar (lihat gambar 4). Kondisi jalan yang berlubang, sistem drainase yang buruk serta masalah persampahan merupakan masalah yang ada di kampung ini. Hal ini disebabkan permasalahan- permasalahan yang ada di Kampung Tambak Lorok, seperti adanya rob yang senantiasa menjadi bagian tidak terpisahkan dengan wilayah ini menyebabkan kondisi pemukiman Tambak Lorok semakin buruk dan kumuh. Kondisi kekumuhan ini terjadi akibat penurunan kualitas lingkungan.

Selain itu belum tersedianya sarana dan prasarana yang mencukupi akan mempengaruhi aktivitas perekonomian yang ada di Kampung Tambak Lorok. Lebih jauh permasalahan yang ada di Kampung Tambak Lorok dapat dilihat pada gambar 5 rumusan kajian permasalahan yang ada di Kampung Tambak Lorok berikut ini:

Gambar 5. Identifikasi potensi dan permasalahan. Sumber: Hasil Analisa, 2015

Identifikasi Potensi dan Permasalahan Program Nasional Minapolitan di Kawasan Tambak Lorok. Berikut merupakan penggambaran dari Program Nasional Minapolitan di Kawasan Tambak Lorok:

Ekonomi Kelautan. Potensi sumber daya alam yang berupa hasil laut, diantaranya cumi, udang, kerang, ikan kakap merah, manyung. Prasarana, kondisi akses lingkungan banyak yang berlubang akibat sering rob, perahu yang masih tradisional, MCK komunal, listrik sudah tersedia, sumber air bersih masih terbatas Kondisi geografis dengan topografi datar (0-2%), sementara rata-rata tinggi genangan air pasang maksimal adalah 0,40-0,60m. Berdasarkan zonasi wilayah pantai Kota Semarang, Tambak Lorok termasuk kawasan kawasan Kelurahan Tanjung Mas yang berada pada Zona Amblesan > 0,20 m per tahun. Kawasan ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hampir seluruh kawasan pemukiman tergenang pada saat laut sedang pasang. Hal ini menjadikan penduduk secara periodik menaikkan peil (titik ketinggian lantai dasar) bangunan rumah mereka.

Kawasan ekonomi unggulan-minapolitan. Komoditi ekonomi yang sudah ada dan berpotensi untuk menjadi komoditi unggulan yaitu penjualan kulit kerang untuk diolah kembali, hasil tangkapan laut yang langsung dijual.

Sentra produksi. Sudah adanya ketersedian tempat produksi ikan asap yang berupan industri rumah tangga. Ketersediaan tenaga kerja yang mencukupi tetapi masih perlu pembinaan

Unit produk/usaha. Ketersediaan bahan baku yang merupakan hasil tangkapan dari laut masih tergantung pada iklim, hal ini berpengaruhterhadap kuantitas karena sebagian besar nelayan masih menggunakan perahu tradisional.

Tabel 1. Analisis Program Nasional Minapolitan di Kawasan Tambak Lorok :

Dari hasil analisis melalui scoring di tabel 1 di atas menunjukkan bahwa :

1) Subsistem Agribisnis Hulu . Pada hasil skoring mengenai sentra produksi dikawasan Tambak Lorok menunjukkan jumlah sentra produksi yang kurang optimal. Pada kenyataanya, di Kawasan Tambak Lorok telah terdapat sentra produksi berupa home industry yang jumlahnya masih terbatas. Home industry ini mengolah kulit kerang untuk dijual kembali menjadi bahan baku kerajinan. Akan tetapi, home industry yang berada disana kurang berkembang karena keterbatasan modal. Selain itu, pada sub Unit produk/usaha mengenai ketersedian bahan baku di kawasan Tambak Lorok memiliki score yang cukup optimal, dimana bahan baku yang terdapat di kawasan ini antara lain kulit kerang dan ikan dimana jumlah bahan baku tergantung pada musim.

2) Subsistem Usaha Budidaya. Potensi sumber daya alam yang sudah ada di kawasan Tambak Lorok seperti hasil laut misalnya ikan cuwe, ikan manyung, ikan kakap merah, cumi, kepiting dan layur sedangkan hasil tambak seperti ikan tongkol, gurame,bandeng dan bawal. Di saat musim barat atau musim angin kencang yang menghalangi aktivitas melaut bagi nelayan masyarakat Tambak Lorok memilih menganggur sehingga untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga mereka akan meminjam uang karena biasanya masa panceklik ini tidak berlangsung lama.

3) Subsistem Agribisnis Hilir. Pada hasil scoring diatas menunjukkan bahwa di kawasan Tambak lorok belum memiliki komoditi unggulan yang mampu meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat sekitar. Komoditi atau produk yang biasa dijual hanya berupa hasil tangkapan ikan dari nelayan.

4) Subsistem Jasa Penunjang. Dari hasil scoring diatas menunjukkan bahwa sub Ekonomi kelautan yang berkaitan dengan prasarana yang ada memiliki score 1 yang menunjukkan bahwa prasarana di kawasan Tambak Lorok kurang optimal. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyak prasarana di kawasan ini yang kurang baik antara lain; jalan di kampung banyak yang berlubang dan rusak akibat adanya banjir dan rob. Ketersedian air bersih juga terbatas dimana hanya beberapa warga yang memiliki sumur air tanah sedangkan warga yang lain mendapatkan air dari bantuan pemerintah dan dari hasil membeli air.

Kawasan Tambak Lorok merupakan kawasan dataran rendah yang berada di wilayah pesisir dimana, di kawasan ini sering terjadi rob yang berakibat turunya muka tanah warga sehingga banyak rumah yang ditinggikan setiap tahun.

Sentra Produksi. Ketersedian sumber daya manusia memiliki score 2 dimana, dikawasan Tambak Lorok memiliki sumber daya manusia yang cukup yaitu 60% masyarakarat bekerja sebagai nelayan.

Hasil Analisis Konsep Pengembangan Minapolitan di Kawasan Tambak Lorok:

Sub Agribisnis Hulu . Peningkatan di sentra produksi diperlukan untuk meningkatkan pengembangan ekonomi di kawasan Tambak Lorok. Peningkatan di sentra produksi meliputi peningkatan dari segi kualitas tempat dan sumber daya manusia. Di kawasan Tambak Lorok, ketersedian tempat produksi masih kurang optimal, oleh karena itu diperlukkan peningkatan kualitas dan kuantitas tempat produksi misalnya dengan menambah jumlah home industri yang diikuti dengan membangun home industri yang layak untuk kegiatan produksi.

Pada sub agribisnis, ketersedian bahan baku merupakan hal yang penting untuk meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir, karena jika tidak ada bahan baku berpengaruh terhadap produktivitas masyarakat misalnya tidak ada bahan baku berupa hasil tangkapan yang dapat dijual maupun hasil tangkapan nelayan yang adapat dijual kembali. Sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah sebagai nelayan, dimana hasil tangkapan bergantung pada musim. Hal ini berpengaruh terhadap kuantitas hasil tangkapan nelayan. Oleh sebab itu, diperlukan bahan baku lainnya yang tidak tergantung musim, misalnya dengan hasil budidaya tambak seperti bandeng, cumi-cumi, udang dan kepiting.

Subsistem Usaha Budidaya. Pada sub budidaya, perlu adanya upaya untuk meningkatkan potensi hasil laut melalui pembuatan produk unggulan hasil laut dan pengolahan hasil laut yang lebih baik dari sebelumnya. Produk hasil laut yang dapat dijadikan sebagai komoditi unggulan misalnya ikan manyung, layur, kuwe,cumi-cumi, kerang dan kakap merah. Selain dijual langsung, hasil laut unggulan ini dapat dijadikan sebagai produk olahan misalnya ikan asap, keripik, risoles, abon dan srundeng.

Subsistem Agribisnis Hilir. Komoditi unggulan yang sudah dikawasan Tambak Lorok misalnya ikan manyung dan layur. komoditi unggulan ini dapat dijadikan sebagai produk unggulan yang mampu meningkatkan nilai jual ikan dari dari kampung Tambak Lorok. dengan adanya brand mampu meningkatkan nilai jual hasil tangkapan laut.

Subsistem Jasa Penunjang. Sedangkan peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dilakukan melalui kegiatan pelatihan ketrampilan baik itu pelatihan formal maupun non formal. Pelatihan formal dapat dilakukan dengan cara mengirim masyarakat Kampung Tambak Lorok yang memiliki kemampuan akademis untuk dikembangkan dan dilatih di sekolah-sekolah formal misalnya STM bahkan perguruan tinggi. Sedangkan pelatihan non formal dapat dapat dilakukan dengan cara memberikan pelatihan ketrampilan kepada masyarakat sekitar melalui kegiatan pelatihan seperti cara pengemasan produk yang baik, cara pengasapan, cara mengolah ikan dan hasil laut menjadi produk yang mampu bersaing dengan produk lainnya. Untuk mewujudkan rencana diatas diperlukkan kerjasama antara masyarakat sekitar, pemerintah dan swasta.

Kondisi geografis kawasan Tambak Lorok yang berada di garis Laut menyebabakan sering terjadinya rob, hal ini berpengaruh terhadap kondisi rumah masyarakat sekitar dan jalan lingkungan, dimana rob menyebabkan muka air tanah semakin berkurang. Cara yang dilakukan untuk mengatasi rob dan banjir adalah ada dengan cara penerapan sistem polder dan sabuk hijau. Sistem polder adalah cara penanganan banjir rob dengan bangunan fisik yang meliputi sistem drainase, kolam retensi, tanggul yang menelilingi kawasan serta pompa dan pintu air. Sedangkan sabuk hijau diharapkan mampu mengurangi dampak rob serta sekaligus digunakan sebagai area hijau pada kawasan Tambak lorok.

Selain itu, perlu adanya peningkatan prasarana yang mendukung kegiatan minapolitan. Peningkatan prasarana di kawasan inin dapat dilakukan dengan cara peningkatan kualitas kapal nelayan yang dulunya menggunakan perahu kecil menjadi kapal yang lebih modern namun tidak merusak ekosistem laut, supaya nelayan dapat bekerja tidak tergantung musim. Peningkatan infrastruktur jalan dikawasan Tambak Lorok melalui perbaikkan jalan juga perlu dilakukan supaya aksesibilaitas menuju dan keluar Kawasan Tambak Lorok tidak terganggu karena jalanan yang rusak. Hal yang tidak kalah penting adalah pengadaan sumber air bersih untuk masyarakat sekitar karena mampu mendukung kegiatan sehari-hari maupun kegiatan pengolahan ikan.

table of content

4. KESIMPULAN

Konsep minapolitan di kawasan Tambak Lorok diharapkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir Tambak Lorok. Program penerapan Konsep Minapolitan meliputi sub agribisnis, budidaya, hilir dan penunjang. Pada sub agribisnis konsep minapolitan menitikberatkan pada peningkatan kualitas tempat produksi yaitu home industri dan kualitas bahan baku (hasil tangkapan laut maupun tambak); pada sub budidaya, ditekankan untuk memaksimalkan potensi hasil laut yang sudah ada melalui produk unggulan hasil laut dan pengolahan hasil laut yang lebih baik. Konsep minapolitan pada sub hilir dititikberatkan untuk memaksimalkan komoditi unggulan.Konsep minapolitan pada sub penunjang diterapkan melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

Rekomendasi. Perlu adanya satu wadah yang menaungi dan mengawasi seluruh kegiatan minapolitan di kawasan ini misalnya paguyubannelayan yang beranggotakan warga masyarakat setempat, swasta dan pemerintah sebagai pihak yang mengawasi. Selain itu, kerjasama antara masyarakat, pemerintah dan swasta sangat diperlukan untuk mewujudkan konsep minapolitan di kawasan Tambak Lorok. Gambar 6 berikut merupakan rekomendasi pengelolaan kampong nelayan di Tambak Lorok.

table of content

5. DAFTAR PUSTAKA

Arifin, T., Kepel, T. L., & Amri, S. N. (2013). Analisis Tipologi Wilayah Dalam Mendukung Pengembangan Minapolitan di Provinsi Gorontalo. Tataloka, 15(2), 129-139. doi: http://dx.doi.org/10.14710/tataloka.15.2.129-139

Aryany, P. A. (2013). Proses Penentuan Lokasi Minapolitan di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. 2013, 1(2), 65-74. doi: http://dx.doi.org/10.14710/jpk.1.2.65-74

Dimitra, S., & Yuliastuti, N. (2012). Potensi Kampung Nelayan Sebagai Modal Permukiman Berkelanjutan di Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas. Universitas Diponegoro, Semarang. Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/42479/

Edrus, I. N. (2015). Analisis Pengembangan Kawasan Minapolitan Kota Bengkulu. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, 7 (2), 79-92. doi: http://dx.doi.org/10.15578/jkpi.7.2.2015.79-92

Fikadiana, F. (2001). Penataan Pemukiman Nelayan Tambak Lorok Semarang. Universitas Diponegoro, Semarang. Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/21600/

Mussadun, M., & Nurpratiwi, P. (2016). Kajian Penyebab Kemiskinan Masyarakat Nelayan di Kampung Tambak Lorok. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 27(1), 49-67. doi: http://dx.doi.org/10.5614%2Fjrcp.2016.27.1.5

Raissa, D. R., Setiawan, R. P., & Rahmawati, D. (2014). Identification of Indicators Influencing Sustainability of Minapolitan Area in Lamongan Regency. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 135, 167-171. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.sbspro.2014.07.342

Samuel, S., Martono, K. T., & Susanti, M. T. (2015). Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Pantai di Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah. Kapal, 12 (3), 145-150. doi: http://dx.doi.org/10.12777/kpl.12.3.145-150

Sestiyani, E., & Sariffuddin, S. (2015). Identifikasi Perubahan Perumahan di Perumahan Bumi Wanamukti, Kota Semarang. 2015, 3(1), 49-59. doi: http://dx.doi.org/10.14710/jpk.3.1.49-59

Setioko, B. (2013). Transformasi Ruang Perkotaan di Permukiman Nelayan (Studi Kasus: Tambakmulyo, Semarang). 2013, 15(3), 192-207. doi: http://dx.doi.org/10.14710/tataloka.15.3.192-207

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2016 Jurnal Pengembangan Kota

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.