skip to main content

POLA DAN FAKTOR PERKEMBANGAN PEMANFAATAN LAHAN DI KECAMATAN MRANGGEN, KABUPATEN DEMAK

*Dewa Raditya Putra  -  , Indonesia
Wisnu Pradoto  -  Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2016 Jurnal Pengembangan Kota

Citation Format:
Abstract

Sebagai wilayah pinggiran, Kecamatan Mranggen mengalami perkembangan penggunaan lahan yang intensif sejak tahun 90-an, hal ini disebabkan adanya ekspansi pembangunan perkotaan ke wilayah pinggiran, seperti pembangunan Perumnas Pucang Gading dan peningkatan kawasan pemukiman akibat tingginya urbanisasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pola dan faktor yang mempengaruhi perkembangan pemanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengumpulan data baik primer maupun sekunder. Penelitian dilakukan dalam beberapa analisis, yaitu analisis spasial overlay melalui analisis perbandingan citra 1994 dan 2015 menggunakan GIS, analisis deskriptif, dan analisis crosstabs menggunakan SPSS. Hasilnya pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Mranggen sejak tahun 1994-2015 membentuk pola yang menyebar dengan mengalami perkembangan wilayah yang berbeda-beda (cepat, sedang, dan lambat) dan faktor yang mempengaruhi pamanfaatan lahan terbangun di Kecamatan Mranggen adalah faktor lokasi, harga, lingkungan, aksesibilitas, dan fasilitas.

Keywords: Pola; Perkembangan Pemanfaatan Lahan; Mranggen

Article Metrics:

Article Info
Section: ARTICLES
Language : IDN
  1. Deng, X., Huang, J., Rozelle, S., Zhang, J., & Li, Z. (2015). Impact of urbanization on cultivated land changes in China. Land Use Policy, 45, 1-7. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.landusepol.2015.01.007
  2. Dwiyanto, T. A., & Sariffuddin, S. (2013). Karakteristik Belanja Warga Pinggiran Kota (Studi Kasus: Kecamatan Banyumanik Kota Semarang). Jurnal Pengembangan Kota, 1(2), 118-127. doi: http://dx.doi.org/10.14710/jpk.1.2.118-127
  3. Ehinmowo, A., & Eludoyin, O. (2010). The university as a nucleus for growth pole: Example from Akungba-Akoko, Southwest, Nigeria. International Journal of Sociology and Anthropology, 2(7), 149-154. doi: http://www.academicjournals.org/article/article1379428966_Ehinmowo%20and%20Eludoyin.pdf
  4. Firman, T. (2009). The continuity and change in mega-urbanization in Indonesia: A survey of Jakarta–Bandung Region (JBR) development. Habitat International, 33(4), 327-339. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.habitatint.2008.08.005
  5. Freeman, L. (2005). Displacement or Succession?: Residential Mobility in Gentrifying Neighborhoods. Urban Affairs Review, 40(4), 463-491. doi: http://dx.doi.org/10.1177/1078087404273341
  6. Koestoer, R. H. (2001). Dimensi Keruangan Kota: teori dan kasus. Jakarta: UI Press
  7. Nelson, L., & Nelson, P. B. (2010). The global rural: Gentrification and linked migration in the rural USA. Progress in Human Geography. doi: http://dx.doi.org/10.1177/0309132510380487
  8. Wang, D., & Li, S.-m. (2006). Socio-economic differentials and stated housing preferences in Guangzhou, China. Habitat International, 30(2), 305-326. doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.habitatint.2004.02.009
  9. Yunus, H. S. (2000). Struktur tata ruang kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.