skip to main content

KAPASITAS PEMERINTAH KOTA BANDUNG DALAM PENYEDIAAN TAMAN TEMATIK GUNA MEWUJUDKAN KOTA LAYAK HUNI

*Rani Widyahantari  -  Master of Urban and Regional Planning, Diponegoro University, Indonesia
Iwan Rudiarto  -  Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2018 Jurnal Pengembangan Kota

Citation Format:
Abstract

RTH merupakan tuntutan dasar yang jika tidak dipenuhi maka dapat menunjukan ketidakmampuan pemerintah dalam meningkatkan kualitas kehidupan kota dan keseimbangan ekologi. Pemerintah Kota Bandung berupaya memenuhi RTH dengan membangun taman tematik yakni taman yang diberi daya tarik agar dapat merubah taman yang semula pasif menjadi taman aktif. Taman tematik dibangun untuk meningkatkan indeks kebahagiaan warga serta mewadahi aktivitas komunitas dalam rangka mewujudkan kota layak huni. Sebanyak 30 taman tematik telah dibangun namun lokasinya masih terfokus di pusat kota. Penelitian ini hendak melihat kapasitas pemerintah daerah dalam penyediaan taman tematik yang dianalisis menggunakan kerangka tata kelola ruang publik meliputi komposisi, pemangku kepentingan, sarana serta tugas pemerintah. Dalam mewujudkan kota layak huni, pemerintah harus memegang peran utama dengan melakukan kolaborasi bersama stakeholders lainnya untuk percepatan penyediaan ruang publik terutama dalam hal anggaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa kapasitas Pemerintah Kota Bandung cukup baik terutama dalam hal anggaran dan SDM, namun ketersediaan lahan masih menjadi kendala utama sehingga belum dapat menyediakan taman tematik yang merata di seluruh wilayah Kota Bandung.

Keywords: kapasitas; pemerintah; taman tematik; kota layak huni

Article Metrics:

Article Info
Section: ARTICLES
Language : EN
  1. Azadi, H., Ho, P., Hafni, E., Zarafshani, K., & Witlox, F. (2011). Multi-Stakeholder Involvement and Urban Green Space Performance. Journal of Environmental Planning and Management, 54(6), 785-811. doi: https://doi.org/10.1080/09640568.2010.530513

    DinasPemakamandanPertamananKotaBandung.(2013).RencanaStrategisDinasPemakamandanPertamananKotaBandungTahun2013-2018.Bandung:DinasPemakamandanPertamananKotaBandung.Dzhambov,A.M.,&Dimitrova,D.D.(2014).ElderlyVisitorsofanUrbanPark,HealthAnxietyandIndividualAwarenessofNatureExperiences.UrbanForestry&UrbanGreening,13(4),806-813." target="_blank">https://doi.org/10.1080/09640568.2010.530513DinasPemakamandanPertamananKotaBandung.(2013).RencanaStrategisDinasPemakamandanPertamananKotaBandungTahun2013-2018.Bandung:DinasPemakamandanPertamananKotaBandung.Dzhambov,A.M.,&Dimitrova,D.D.(2014).ElderlyVisitorsofanUrbanPark,HealthAnxietyandIndividualAwarenessofNatureExperiences.UrbanForestry&UrbanGreening,13(4),806-813.doi:https://doi.org/10.1016/j.ufug.2014.05.006

    Evans, P. B. (2002). Livable Cities: Urban Struggles for Livelihood and Sustainability. Barkeley: University of California Press.

    Frick, H., & Mulyani, T. H. (2006). Arsitektur Ekologis: Konsep Arsitektur Ekologis di iklim Tropis. Yogyakarta: Kanisius.

    Future Communities. (2009). Place Shaping. Diakses dari http://www.futurecommunities.net/why/place-shaping-0, 5 Maret 2018

    Humaida, N., Prasetyo, L. B., & Rushayati, S. B. (2016). Priority Assessment Method of Green Open Space (Case Study: Banjarbaru City). Procedia Environmental Sciences, 33, 354-364. doi:https://doi.org/10.1016/j.proenv.2016.03.086

    IAP. (2017). Indonesia Most Livable City Index 2017. Diakses dari https://drive.google.com/file/d/1yQ6cJMLI4H7h_RsqqUbdurd9UMvzqqqX/view, Maret 10th 2018

    Kusumawanto, A., & Astuti, Z. B. (2014). Arsitektur Hijau dalam Inovasi Kota. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

    Nugraha, D. H., & Heston, Y. P. (2017). Oase di Tengah Kota: Kota Ekologis dan Penyiapan RTH. Yogyakarta: UGM PRESS.

    Nururrohmah, Z., & Suhirman. (2016). Shared-power Governance in Managing Common Pool Resources Case Study: Collaborative Planning to Manage Thematic Parks in Bandung City, Indonesia. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 227, 465-476. doi:https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.06.102

    Pemerintah Kota Bandung. (2012). Masterplan Ruang Terbuka Hijau Kota Bandung tahun 2012-2032. Bandung.

    Pemerintah Kota Bandung. (2014). RPJMD Kota Bandung 2014-2018. Bandung: Pemerintah Kota Bandung.

    Ramdhoni, S., Rushayati, S. B., & Prasetyo, L. B. (2016). Open Green Space Development Priority Based on Distribution of air Temperature Change in Capital City of Indonesia, Jakarta. Procedia Environmental Sciences, 33, 204-213. doi:https://doi.org/10.1016/j.proenv.2016.03.071

    Razak, M. A. W. A., Othman, N., & Nazir, N. N. M. (2016). Connecting People with Nature: Urban Park and Human Well-being. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 222, 476-484. doi:https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.05.138

    Tan, P. Y., & Samsudin, R. (2017). Effects of Spatial Scale on Assessment of Spatial Equity of Urban Park Provision. Landscape and Urban Planning, 158, 139-154. doi:https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2016.11.001

    Wai, A. T. P., Nitivattananon, V., & Kim, S. M. (2018). Multi-stakeholder and Multi-benefit Approaches for Enhanced Utilization of Public Open Spaces in Mandalay City, Myanmar. Sustainable Cities and Society, 37, 323-335. doi:https://doi.org/10.1016/j.scs.2017.10.038

    Woolley, H. (2003). Urban Open Spaces. London: Taylor & Francis.

    Zamanifard, H., Alizadeh, T., & Bosman, C. (2018). Towards a Framework of Public Space Governance. Cities, 78, 155-165. doi:https://doi.org/10.1016/j.cities.2018.02.010

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.