Faktor Risiko Campak Anak Sekolah Dasar pada Kejadian Luar Biasa di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung

*Ferry Ardhiansyah  -  Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran, Indonesia
Kamilah Budhi Rahardjani  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Ari Suwondo  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Mexitalia Setiawati  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Apoina Kartini  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 28 Apr 2019; Published: 31 Aug 2019.
Open Access License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID-ID
Statistics: 781 424
Abstract

Background: Measles is a contagious disease, still a health problem in Indonesia. In 2017 the measles BIAS immunization coverage in Pesawaran District was 98.8%, although coverage was quite good, measles cases in primary school-aged children were still common until the outbreak occurred. This can be caused by various child factors, maternal factors, and environmental factors. This study wants to examine the effect of child, maternal and environment factors on the incidence of measles in primary school-aged children in measles outbreaks event in Pesawaran District.

Methods: Mix methods research with case control study design supported by in-depth interviews. The participants were 81 volunteer, consist of 27 cases and 54 controls taken by purposive sampling. Dependent variable was incidence of measles in primary school age children in the outbreak event. Independent variables were child, maternal and environment factors.  Bivariate and multivariate analysis.

Result: Variables that had been proven to affect incidence of measles in Pesawaran District, were history of measles immunization (p= 0,004 OR = 13,716, 95%CI = 2,286-82,301), contact history with measles case (p=0,024 OR = 4,141, 95%CI = 1,208-14,201), occupancy density (p= 0,036 OR = 3,971, 95%CI = 1,092-14,443), and home ventilation (p= 0,036 OR = 3,591, 95%CI = 1,089-11,843). The resuts of the in-depth interviews supoorted the results of quantitative analysis that there was still a clash of religious leaders who did not support immunization.

Conclusion: Factor that had been proven to the incidence of measles in primary school-age children in outbreaks were the history of measles Immunization/BIAS, history of contact with measles case, occupancy density, and home ventilation strengthened by the support of religious leaders towards immunization.

Keywords: measles; outbreaks; BIAS immunization; support of religious leaders

Article Metrics:

  1. James Chin, M. Manual Pemberantasan penyakit Menular. 17 ed. Jakarta: CV. Infomedika; 2000. p. 344-350.
  2. Setiawan, I.M. Penyakit Campak. Vol. I. Jakarta: CV. Sagung Seto; 2008.
  3. Center of Disease Control and Prevention (CDC). Measles. Disitasi tanggal 3 februari 2018. Available from: https://www.cdc.gov/measles/hcp/index.html.
  4. Soedarto. Penyakit Menular Di Indonesia. Vol. I. Jakarta: CV. Sagung Seto; 2009. p. 201-203.
  5. Widagdo. Masalah dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Demam. Vol. 1. Jakarta: CV. Sagung Seto; 2011.
  6. Kementrian Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. Sekretariat Jenderal; 2017.
  7. Wang, F.-j., et al. An outbreak of adult measles by nosocomial transmission in a high vaccination coverage community. International Journal of Infectious Diseases; 2014. 26: p. 67-70.
  8. Zipprich, J., et al. Measles Outbreak California, December 2014–February 2015. Morbidity and Mortality Weekly Report: 2015. 64(6): p. 153-154.
  9. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Profil Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2016. Bandar Lampung: Dinas Kesehatan Provinsi Lampung; 2017.
  10. Kementrian Kesehatan RI. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. Sekretariat Jenderal; 2015.
  11. World Health Organization. Global Measles and Rubella Strategic Plan. Switzerland: World Health Organization. 2012.
  12. Casaeri. Faktor-faktor risiko kejadian penyakit campak di Kabupaten Kendal Tahun 2002. Semarang: Universitas Diponegoro; 2003.
  13. Budi, DAS. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian campak pada peristiwa kejadian luar biasa campak anak (0-59 bulan) di Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2011. Jakarta: Universitas Indonesia; 2012.
  14. Razak, A. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Campak Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Hanura Kacamatan Padang Cermin Tahun 2012. Bandar Lampung: Universitas Mitra Lampung; 2012.
  15. Adi, PD. Penelitian Case Control Faktor Risiko Kejadian Campak Di Kabupaten Karangasem Tahun 2012. Denpasar: Universitas Udayana; 2012.
  16. Giarsawan, N., et al. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Campak Di Wilayah Puskesmas Tejakula I Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2014; 4(2): p. 140-145.
  17. Arianto, M., Setiawati, M., Adi, S., Hadisaputro, S., dan Budhi, K. Beberapa Faktor Risiko Kejadian Campak Pada Balita di Kabupaten Sarolangun. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas. 3 (1), 2018, 41-47; 2018.
  18. Tang, Z., et al. Risk factors for measles in children younger than age 8 months: A case-control study during an outbreak in Guangxi, China, 2013. American Journal of Infection Control. 2016; 44(4): p. 51-58.
  19. Hungerford, D., et al. Risk factors for transmission of measles during an outbreak: matched case–control study. Journal of Hospital Infection. 2014; 86(2): p. 138-143.
  20. World Health Organization. Measles. Disitasi tanggal 11 January 2018. Available from: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs286/en/.
  21. Widoyono. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Vol. 2nd. Jakarta: Erlangga; 2011.
  22. Suharjo, B. Vaksinasi Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. 5 th ed. Prabawa, H. editor. Yogyakarta: Kanisius; 2010. p. 81-83.
  23. Lisnawati, L. Generasi Sehat Melalui Imunisasi.1st ed. Jakarta: CV. Trans Infomedia; 2011. p. 97-99.
  24. Kemenkes RI. Buku Pedoman Penyidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Mennular dan Keracunan Pangan (pedoman Epidemiologi Penyakit). Jakarta: Kementrian Kesehatan RI; 2011. p. 39-42.
  25. Kemenkes RI. Petunjuk Teknis Surveilans Campak. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI;2012.
  26. Depkes RI. Pedoman Surveilans dan Respon KLB Dalam Rangka Reduksi Campak. Jakarta: Ditjen PPM-PL; 2002.
  27. Riyadi, Sujono dan Sukarmin. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu; 2009.
  28. Williams, Frances. Baby Care Pedoman Lengkap Perawatan Bayi. Terjemahan Wahyuni R. Kamah. Jakarta: Erlangga 2003.
  29. Hidayat, A.Aziz Alimul. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Untuk Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika; 2008.
  30. Kemenkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 12 Tahun 2017 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Jakarta; 2017.
  31. Zahidie, A., Wasim S., and Fatmi Z. Vaccine Effectiveness and Risk Factors Associated with Measles Among Children Presenting to the Hospitals of Karachi, Pakistan. Vol. 24. 2014. 882-8.
  32. Salma, Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Terjadinya Campak Pada Anak (15-59 bulan) Di Kabupaten Serang,. Jakarta: Universitas Indonesia; 2000.
  33. Notoatmojo, S., Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Edisi revisi. Jakarta: Rineka Cipta; 2012.
  34. Primisasiki, RJ. Mengenal Penyakit-penyakit balita dan anak. Jakarta: Sunda Kelapa Pustaka; 2007.
  35. Mubarak, WI., Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika; 2009.
  36. Sarafino, EP., Smith, TW. Health Psychology: Biopshycosocial Interactions. Canada: John And Sons; 2014.
  37. Friedman, MM. Buku ajar keperawatan keluarga; riset, teori, & praktik. Jakarta: EGC; 2010.
  38. Sudiharto. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan Transkultural. Jakarta: EGC; 2007.
  39. Katharina K. Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Imunisasi Campak Pada Aanak Usia 12 Bulan Di Desa Bumi Restu Wilayah Kerja Puskesmas Tatakarya Lampung Utara. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai: 2014.
  40. Thomas TL, Stricklando, et. Al. Parental Papillomavirus Vaccine Survey (PHPVS): Nurse led instrument and psychometric testing for use in research and primary care sceening. Journal of Nursing Measurement. 2013; Vol 21(1). Pp 96-109.
  41. Alwi H. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka; 2007.
  42. Ruijs WLM, Hautvast JLA, et al. Religious Subgroub Influencing Vaccination Coverage in the Dutch Bible belt: an ecological study. BMC Public Health. 2011; Vol 11. pp 102
  43. Majelis Ulama Indonesia. Fatwa MUI Nomor. 4 Tahun 2016 Tentang Imunisasi. Bogor: Komisi Fatwa MUI; 2016
  44. Hurlock EB. Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. 5th ed. Jakarta: Erlangga, 1993
  45. BPS. Statistik Indonesia 2017. Jakarta: Badan Pusat Statistik.2017.
  46. Han K, Zheng H et. al. Vaccination Coverage and Its Determinants Among Migrant Children in Guangdong, China. BMC Public Health: 2014; pp 14: 203.
  47. Hu Y, Li Q, et. Al. Determinants of childhood Immunization Uptake among Socio Economically Disadvantaged Migrants in East China. Int J Environ Res Public Health. 2013;10(7): pp 2845-2856.
  48. Mujiati, ER., Mutahar., Rahmawati, A. Faktor Risiko Kejadian Campak Pada Anak Usia 1-14 Tahun Di Kecamatan Metro Pusat Provinsi Lampung Tahun 2013-2014. Ilmu Kesehatan Masyarakat; 2015. 6(2).
  49. Kementrian Kesehatan RI. Keputusan Mentri Kesehatan RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI;1999.
  50. Memarzadeh, F. Literature Review: Room ventilation and airborne disease transmision. Chicago: The american asociety for healthcare engineering; 2013
  51. Sarudji, D. Kesehatan Lingkungan. Bandung: Karya Putra Darwati; 2010.
  52. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methode). Bandung: Alfabeta; 2016.
  53. Abbas TC., Charles, T. Mixed Methodology Mengkombinasikan Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2010.
  54. Creswell, J.W. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2016.
  55. Tashakkori, Tedie, C. Mixed Methodology: Combining Qualitative and Quantitative Approach. Thousand Oaks: Sage Publication; 1998.
  56. Murti, B. Prinsip dan metode riset epidemiologi. 2 ed. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pres; 2003.
  57. Bonita, R., Beaglehole, R., Kjellstrom, T. Basic Epidemiology. 2 nd edition: World Health Organization; 2006.
  58. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta; 2016.
  59. Lemeshow, S., David W.Hosmer Jr., and Stephen K. Lwanga. Besar Sampel dalam penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press; 1997.
  60. Moleong, Lexy, J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya; 2016.
  61. Sudigdo, S., Ismael, S. Dasar-Dasar Metedeologi Penelitian Klinis. Jakarta: Sagung Seto; 2008.
  62. Natalya D. Analisis Kejadian Campak Pada Anak Balita Di Kelurahan Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai Tahun 2010. Medan: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatra Utara; 2010
  63. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Apakah Vaksin Mengandung Babi. Disitasi tanggal 20 Maret 2019. Available from: https://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/index.html.
  64. Suara Nahdlatul Ulama (NU Online). Vaksin Measles Rubella (MR): Halal atau Haram. Disitasi tanggal 20 Maret 2019. Available from: https://www.nu.or.id/post/read/93900/index.html.