BibTex Citation Data :
@article{JBCN29995, author = {Dian Rasitawati and Innawati Jusup}, title = {HUBUNGAN DEFISIENSI MIKRONUTRIEN DAN BRAIN-DERIVED NEUROTROPHIC FACTOR (BDNF) DENGAN SKIZOFRENIA}, journal = {Journal of Biomedical and Clinical Nutrition}, volume = {1}, number = {1}, year = {2026}, keywords = {}, abstract = { Skizofrenia merupakan gangguan neuropsikiatri kronik yang ditandai oleh gangguan neuroplastisitas, salah satunya melalui penurunan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). BDNF berperan penting dalam neurogenesis, plastisitas sinaps, serta regulasi neurotransmiter dopamin dan glutamat yang berkaitan dengan gejala negatif dan gangguan kognitif pada skizofrenia. Penurunan kadar BDNF berkontribusi terhadap memburuknya fungsi otak dan respons terapi pada pasien skizofrenia. Status gizi berperan penting dalam regulasi ekspresi dan aktivitas BDNF. Defisiensi energi, protein, asam folat, vitamin B6 dan B12, asam lemak omega-3, vitamin D, serta mineral seperti zink dan zat besi dapat meningkatkan inflamasi dan stres oksidatif serta mengganggu metilasi DNA, sehingga menurunkan ekspresi BDNF. Kondisi ini menyebabkan gangguan plastisitas sinaps dan fungsi kognitif, yang pada akhirnya memperberat gejala klinis skizofrenia. Dalam kerangka diagnosis gizi, pasien skizofrenia umumnya memenuhi kriteria etiologik malnutrisi menurut GLIM, yaitu adanya penyakit kronik dengan inflamasi derajat ringan hingga sedang dan asupan zat gizi yang tidak adekuat. Bila disertai kriteria fenotipik seperti penurunan berat badan, indeks massa tubuh rendah, atau penurunan massa otot, diagnosis malnutrisi dapat ditegakkan. Menurut ASPEN, kondisi ini termasuk malnutrisi terkait penyakit kronik, sehingga intervensi gizi menjadi bagian penting dari penatalaksanaan skizofrenia sebagai terapi adjuvan untuk mendukung peningkatan BDNF dan perbaikan fungsi otak. Kata kunci: defisiensi, mikronutrien, BDNF, schizofrenia }, url = {https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jbcn/article/view/29995} }
Refworks Citation Data :
Skizofrenia merupakan gangguan neuropsikiatri kronik yang ditandai oleh gangguan neuroplastisitas, salah satunya melalui penurunan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). BDNF berperan penting dalam neurogenesis, plastisitas sinaps, serta regulasi neurotransmiter dopamin dan glutamat yang berkaitan dengan gejala negatif dan gangguan kognitif pada skizofrenia. Penurunan kadar BDNF berkontribusi terhadap memburuknya fungsi otak dan respons terapi pada pasien skizofrenia.
Status gizi berperan penting dalam regulasi ekspresi dan aktivitas BDNF. Defisiensi energi, protein, asam folat, vitamin B6 dan B12, asam lemak omega-3, vitamin D, serta mineral seperti zink dan zat besi dapat meningkatkan inflamasi dan stres oksidatif serta mengganggu metilasi DNA, sehingga menurunkan ekspresi BDNF. Kondisi ini menyebabkan gangguan plastisitas sinaps dan fungsi kognitif, yang pada akhirnya memperberat gejala klinis skizofrenia.
Dalam kerangka diagnosis gizi, pasien skizofrenia umumnya memenuhi kriteria etiologik malnutrisi menurut GLIM, yaitu adanya penyakit kronik dengan inflamasi derajat ringan hingga sedang dan asupan zat gizi yang tidak adekuat. Bila disertai kriteria fenotipik seperti penurunan berat badan, indeks massa tubuh rendah, atau penurunan massa otot, diagnosis malnutrisi dapat ditegakkan. Menurut ASPEN, kondisi ini termasuk malnutrisi terkait penyakit kronik, sehingga intervensi gizi menjadi bagian penting dari penatalaksanaan skizofrenia sebagai terapi adjuvan untuk mendukung peningkatan BDNF dan perbaikan fungsi otak.
Kata kunci: defisiensi, mikronutrien, BDNF, schizofrenia
Last update: