Asymmetric Policy Concept for Border Areas Development: Issues and Challenges

*Hanief Adrian orcid  -  Ministry of National Development Planning, Indonesia
Rohmad Supriyadi  -  Ministry of National Development Planning, Indonesia
Diah Lenggogeni  -  Ministry of National Development Planning, Indonesia
Received: 10 Oct 2016; Published: 31 Oct 2017.
Open Access Copyright (c) 2017 The Indonesian Journal of Planning and Development

Citation Format:
Abstract

Since the enactment of Law No. 23 Year 2014 about Local Government, there is a mechanism shift in service delivery from the local government to central government, especially related to infrastructure management in border areas. This shift has reversed the policy of decentralized service delivery mechanism to centralized one. This policy has confused the local governments in adjusting their policies to the central government policies. Thus, an asymmetric policy needs to be implemented in order to accelerate border areas development. This paper intends to propose the alternative options in dealing with the new policy and to design a better way how the central government may intervene asymmetrically the sub-national governments in accelerating development and service delivery mechanism in border areas. The descriptive analysis is used as the main method for this paper.

Keywords: asymmetric decentralization; border areas; basic infrastructure; funding framework; regulatory framework; institutional framework
Funding: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

Article Metrics:

  1. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). (2016). Workshop Nasional Kupas Tuntas Kebijakan Asimetris di Perbatasan Negara. Jakarta
  2. Fritzen, S. A., & Lim, P. W. O. (2006). Problems and prospects of decentralization in developing countries. National University of Singapore. Singapore. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/251757699_PROBLEMS_AND_PROSPECTS_OF_DECENTRALIZATION_IN_DEVELOPING_COUNTRIES
  3. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 209/PMK.07/2011 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Dana Khusus Tahun Anggaran 2012. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  4. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2012). Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 201/PMK.07/2012 Tentang Pedoman Umum dan Alokasi Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2013. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  5. Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2013). Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 180/PMK.07/2013 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2014. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  6. Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan Nomor 9 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Badan Nasional Pengelola Perbatasan Tahun 2017. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  7. Pemerintah Republik Indonesia. (2001). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  8. Pemerintah Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  9. Pemerintah Republik Indonesia. (2007). Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  10. Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  11. Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  12. Pemerintah Republik Indonesia. (2010). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  13. Pemerintah Republik Indonesia. (2012). Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  14. Pemerintah Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  15. Pemerintah Republik Indonesia. (2015). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015-2019. Jakarta: Pemerintah Republik
  16. Indonesia
  17. Pemerintah Republik Indonesia. (2016). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia
  18. Utomo, T. W. W. (2009). Discussion Paper No. 174 Balancing Decentralization and Deconcentration: Emerging Need for Asymmetric Decentralization in the Unitary States. Graduate School of International Development. Nagoya. Retrieved from https://id.scribd.com/document/269262543/Balancing-Decentralization-and-Deconcentration-Emerging-Need
  19. Veljanovski, A. M. (2010). The model of the asymmetric fiscal decentralization in the theory and the case of Republic of Macedonia. Skopje
  20. Watts, R. L. (2004). Asymmetrical decentralization: Functional or dysfunctional. Indian Journal of Federal Studies, 1. Retrieved from http://cfsindia.org.in/jour4-1_1.htm

Last update: 2021-04-20 23:07:06

No citation recorded.

Last update: 2021-04-20 23:07:07

No citation recorded.