skip to main content

IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN LONGSOR BERDASARKAN KARAKTERISTIK BATUAN PENYUSUN DI KOTA BANDAR LAMPUNG

*Lea Kristi Agustina orcid  -  Institut Teknologi Sumatera, Indonesia
Danni Gathot Harbowo  -  Institut Teknologi Sumatera, Indonesia
Bilal Al Farishi  -  Institut Teknologi Sumatera

Citation Format:
Abstract

Kota Bandar Lampung memiliki topografi yang cukup beragam berupa lembah maupun punggungan bukit, dalam perkembangannya banyak kawasan pemukiman yang tersebar diantara perbukitan. Bencana longsor merupakan salah satu bencana yang sering terjadi di Indonesia. Perlu adanya kajian daerah rawan longsor beserta mitigasi bencana secara spesifik yang menjadi langkah konkrit dalam mengurangi angka korban jiwa maupun materi. Banyak faktor yang mempengaruhi rawan bencana longsor, yaitu: tingkat kemiringan dari kelerengan, tutupan lahan, jenis batuan dan tanah, serta didukung dengan data kejadian sebelumnya. Gambaran permukaan bumi khususnya daerah rawan longsor dapat direpresentasikan dalam peta, diawali dengan disusunnya dataset fundamental berdasarkan parameter yang berpengaruh kejadian longsor. Setiap parameter yang mempengaruhi kejadian longsor yang digunakan memiliki besar bobot yang berbeda dan terangkum dalam metode tumpang susun (Overlay). Meninjau area rawan di Kota Bandar Lampung terdapat sisa endapan gunungapi menghasilkan geomorfologi bukit terjal dimana penyusun batuannya adalah tuff dan breksi, yang kini bisa diamati di Kota Bandar Lampung, diantaranya adalah Bukit Sulah Sukarame, Bukit Koga Kedaton, Bukit Kaliawi dan Bukit Randu Tanjungkarang. Selain itu, terdapatnya banyak sesar yang berarah NW-SW sejajar orientasi Teluk Lampung, beberapa bukit di sekitarnya memiliki morfologi dengan curam. Batuan penyusunnya pun memiliki banyak rekahan, sehingga cenderung menjadikan lereng menjadi tidak stabil. Inilah yang membuat beberapa daerah di Kota Bandar Lampung rawan terjadi longsor.

Fulltext View|Download
Funding: Kemenristekdikti, Pusat Penelitian Informasi Geospasial (PPIG)
  1. Al Farishi, B., & Setiawan, M. R. (2019, April). The Mapping of Contamination Potential Surrounding Bakung Landfill Based on Geological Studies. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 258, No. 1, p. 012022). IOP Publishing
  2. Arifin, S., & Ita, C. (2006). Implementasi Pengindraan Jauh dan SIG untuk Inventarisasi Daerah Rawan Bencana Longsor. Jurnal Pengindraan Jauh LAPAN, 3, 80–81
  3. Aronoff, S. (1989). Geographic information systems: A management perspective. Geocarto International, 4(4), 58–58. https://doi.org/10.1080/10106048909354237
  4. Badan Informasi Geospasial. (2017). Peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1:50.000. Bogor: BIG
  5. Bieniawski, Z. T. (1980). Geomechanics classification in rock engineering applications. International Journal of Rock Mechanics and Mining Sciences & Geomechanics Abstracts, 17(6), A111. https://doi.org/10.1016/0148-9062(80)90601-4
  6. BNPB. (2012). Buku Risiko Bencana Indonesia (RBI). Jakarta: BNPB
  7. BNPB. (2017). Draft Petunjuk Teknis Perangkat Penilaian Kapasitas Indikator Ketahanan Daerah. Jakarta: BNPB
  8. BNPB. (2014). Indeks Risiko Bencana Indonesia Tahun 2013. Jawa Barat: Direktorat Pengurangan Risiko Bencana Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan
  9. BNPB, JICA. (2015). Petunjuk Teknis Penyusunan Peta Ancaman Risiko Bencana Kab/Kota. Jakarta: BNPB
  10. BPS. (2018). Provinsi Lampung dalam Angka. Lampung : BPS
  11. Harp, E. L., Michael, J. A., & Laprade, W. T. (2008). Shallow landslide hazard map of Seattle, Washington. In R. L. Baum, J. W. Godt, & L. M. Highland, Landslides and Engineering Geology of the Seattle, Washington, Area. Geological Society of America. https://doi.org/10.1130/2008.4020(04)
  12. Mangga, M. A., Suwarti, A. T., Gafoer S, & Sidarto. (1993). Peta Geologi Bersistem Indonesia Lembar Tanjungkarang, Skala 1:250.000 (Bandung). Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
  13. National Drought Mitigation Center, (2019). Food and Agriculture Organization/National Drought Mitigation Center (FAO/NDMC) (2008) “The Near East Drought Planning Manual,” Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO): Rome: Italy
  14. Paripurno. (2006). Katalog Metodologi Untuk Pembuatan Peta Geo-Hazard, Workshop Kompilasi Metodologi dan Berbagi Pengalaman dalam Pembuatan Peta Rawan Bencana Alam Berbasis SIG (NAD). BAPPEDA NAD
  15. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana
  16. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2010 tentang Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014
  17. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana
  18. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 3 Tahun 2012 tentang Panduan Penilaian Kapasitas Daerah dalam Penanggulangan Bencana
  19. PVMBG. (2014). Peta Zona Kerentanan gerakan Tanah 1:25.000. Bandung: PVMBG
  20. Suriadi, A. B. (2012). Informasi Geospasial daerah rawan longsor sebagai bahan masukan dalam perencanaan tata ruang wilayah. Majalah Ilmiah Globe

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.