Penilaian Tingkat Layak Huni terhadap Aspek Sistem Jaringan Drainase Kecamatan Sungai Kunjang berdasarkan Persepsi Masyarakat

*Romi Alfianor  -  Institut Teknologi Kalimantan, Indonesia
Mega Ulimaz  -  Institut Teknologi Kalimantan, Indonesia
Achmad Ghozali  -  Institut Teknologi Kalimantan, Indonesia
Received: 12 Aug 2020; Published: 21 Oct 2020.
Open Access License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 50 26
Abstract

Pada tahun 2017 Kota Samarinda diklasifikasikan oleh Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) sebagai kota yang tidak layak huni. Standar rata-rata kota layak huni secara nasional memiliki nilai persentase sebesar 63,2 persen tingkat layak huni, sedangkan Kota Samarinda memiliki nilai lebih rendah dari nilai rata-rata nasional. Kota Samarinda hanya memiliki nilai persentase sebesar 56,9 persen tingkat layak huni sehingga diklasifikasikan sebagai kota yang tidak layak huni dari persepsi masyarakat. Salah satu penilaian kriteria layak huni yang memiliki nilai terendah adalah kondisi sistem jaringan drainase dengan persentase 45 persen tingkat layak huni. Sistem drainase yang ada saat ini belum berfungsi optimal terutama pada kapasitas saluran. Tidak tertampungnya limpasan air hujan pada saluran akan mengakibatkan genangan pada ruas jalan. Salah satunya terdapat pada Jalan Pangeran Antasari Kecamtan Sungai Kunjang. Pada saat musim pasang surut air Sungai Mahakam, ketinggian genangan mencapai sekitar 50-80 cm dengan lama genangan 6-10 jam.

Keywords: Drainase; Layak Huni; Saluran

Article Metrics:

  1. Deliana, Dea, Crhristiono Utomo. (2017). Tingkat Kepedulian pada Implementasi Sistem Drainase Sesuai dengan Zero Delta Q dan Faktor Keberhasilannya pada Pengembangan Apartemen Di Surabaya. Jurnal Aplikasi Teknik Sipil : Volume 15, Nomor 2, Agustus 2017.
  2. Elshater, Abeer, Hisyam G. Abussaada. (2016). The Unknown Cities. Africa: Patridge Publishing.
  3. Fairizi, Dimitri. (2015). Analisis Dan Evaluasi Saluran Drainase Pada Kawasan Perumnas Talang Kelapa Di Subdas Lambidaro Kota Palembang. Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan : Vol.3, No.1, Maret 2015.
  4. Helfira, Nany, Manyuk Fauzi, Ari Sandhyavitri. (2013). Identifikasi Parameter Dalam Penentuan Prioritas Penanganan Masalah Sistem Drainase Di Wilayah Kota Pekanbaru Menggunakan Metode Analytical Hierarcy Process (AHP).
  5. Ikatan Ahli Perencanaan (IAP). (2017).Most Livable City Index. Jakarta: Ikatan Ahli Perencanaan.
  6. Maizir. (2017). Evaluasi Kegagalan Pembangunan Drainase Dalam Lingkungan Daerah Pemukiman. Jurnal Teknik Sipil ITP : Vol. 4 No. 2 Juli 2017.
  7. Makakalag, Andi, Piere H. Gosal, Poli Hanny. (2020). Kajian Kota Kotamobagu Menuju Kota Layak Huni (Liveable City). Jurnal Spasial Vol 6. No.2. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
  8. Peraturan Meteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan
  9. Purwanto. (2016). Studi Pengendalian Banjir Sungai Loa Buah Kota Samarinda. Media Sains: Volume 9 Nomor 1.
  10. Riman. (2011). Evaluasi Sistem Drainase Perkotaan Di Kawasan Kota Metropolis Surabaya. Widya Teknika : Vol.19 No.12; Oktober 2011.
  11. Sen, Joy. (2013). Sustainable Urban Planning. New Delhi: TERI.
  12. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. CV.