Persepsi Kenyamanan Pejalan Kaki Terhadap Pemanfaatan Jalur Pedestrian di Jalan Protokol Kota Semarang (Studi Kasus Jalan Pandanaran)

*Selviana Indira Wopari  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Djoko Suwandono  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 15 Jan 2020; Published: 22 Apr 2020.
Open Access License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Statistics: 237 134
Abstract
Kawasan Jalan Pandanaran, merupakan kawasan jalan yang banyak dilalui oleh pengguna jalan, termasuk pejalan kaki. Sejak awal tahun 2013 penyediaan fasilitas jalur sirkulasi yang dibangun oleh Pemerintah Kota Semarang di kawasan ini berupa jalur pedestrian, kurang memberikan kenyamanan bagi penggunanya yang disebabkan jalur pedestrian yang digunakan aktivitas pedagang kaki lima yang sedang melakukan aktivitas perdagangan dan juga parkir mobil ataupun motor sembarangan pada jalur
pedestrian di sepanjang Jalan Pandanaran. Hal ini yang menyebabkan ketidaknyamanan pada jalur pedestrian di jalan pandanaran karena jalur pedestrian mempunyai fungsi ganda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kenyamanan jalur pedestrian di Jalan Pandanaran melalui persepsi masyarakat, dengan sasaran yaitu : 1) identifikasi kondisi eksisting dan fasilitas jalur pedestrian di Jalan Pandanaran yang berkaitan dengan aspek kenyamanan pengguna; 2) identifikasi karakteristik pengguna
jalur pejalan kaki di Jalan Pandanaran; 3) analisis kondisi eksisting kaitannya dengan fasilitas penunjang jalur pedestrian di Jalan Pandanaran kaitannya dengan aspek kenyamanan penggunanya; 4) tingkat kenyamanan jalur pedestrian di Jalan Pandanaran melalui persepsi masyarakat sebagai pejalan kaki. Metodologi dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kuantitatif dan metode purposive sampling yang di pilih dalam kriteria tertentu, dengan metode analisis deskriptif kuantitatif juga analisis standar jalur
pedestrian. Hasil dari penelitian ini yaitu kenyamanan Jalur Pedestrian di Jalan Pandanaran dimana pada dimensi jalur pedestriam di Jalan Pandanaran sudah memenuhi standar minimum tentang pejalan kaki sebagai sebuah jalur pedestrian di perkotaan dan persepsi para pejalan kaki mengenai tingkat kenyamanan terdapat 2 aspek dari keseluruhan aspek kenyamanan seperti kebisingan kendaraan dan juga aroma tidak sedap, yang tidak memenuhi kriteria tingkat kenyamanan dengan capaian nilai persentase dari responden yaitu 52% > Persen > 36%. Dengan demikian perlu adanya pengelolaan lebih lanjut dan juga penegasan aturan mengenai sirkulasi dan pemanfaat jalur pedestrian serta mengevaluasi penataan PKL dan menambah petugas kebersihan yang dapat tetap menjaga kebersihan dan keindahan jalur pedestrian

Keywords: Jalur Pedestrian; Pejalan Kaki; Kenyamanan; Persepsi

Article Metrics:

  1. Adrianto, Bowo. 2006. Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Pembangunan Prasarana Dasar Permukiman yang Bertumpu Pada Swadaya Masyarakat di Kota Magelang. Universitas Diponegoro, Semarang.
  2. Arikunto, S. (2016). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
  3. Jamei, E., & Rajagopalan, P. (2017). Urban development and pedestrian thermal comfort in Melbourne. Solar Energy, 144, 681–698. https://doi.org/10.1016/j.solener.2017.01.023
  4. Kang, C. D. (2016). Spatial access to pedestrians and retail sales in Seoul, Korea. Habitat International, 57, 110–120. https://doi.org/10.1016/j.habitatint.2016.07.006
  5. Menteri Pekerjaan Umum. (2014). Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/2014, 2013, 1–60.
  6. Moura, F., Cambra, P., & Gonc, A. B. (2017). Landscape and Urban Planning Measuring walkability for distinct pedestrian groups with a participatory assessment method : A case study in Lisbon. 157, 282–296. https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2016.07.002
  7. Moura, F., Cambra, P., & Gonçalves, A. B. (2017). Measuring walkability for distinct pedestrian groups with a participatory assessment method: A case study in Lisbon. Landscape and Urban Planning, 157, 282–296.
  8. https://doi.org/10.1016/j.landurbplan.2016.07.002
  9. Noriza, R., Ariffin, R., & Khairi, R. (2013). Perceptions of the Urban Walking Environments. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 105, 589–597. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2013.11.062.
  10. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2014 tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki Di kawasan Perkotaan
  11. SNI 03-1733-2004 tentang Tata cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan ICS
  12. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta, CV
  13. Tanan, N., Kementerian, B., Umum, P., Suprayoga, G. B., Kementerian, B., & Umum, P. (2015). Fasilitas Pejalan Kaki Dalam Mendukung Program Pengembangan Kota Hijau.
  14. Jurnal HPJI, 1(1), 17–28. https://doi.org/10.26593/jh.v1i1.1431.
  15. Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan.
  16. Walgito, B. (2007), Psikologi Kelompok, Andi Offset, Yogyakarta
  17. Zakaria, J., & Ujang, N. (2015). Comfort of Walking in the City Center of Kuala Lumpur. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 170, 642–652.
  18. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2015.01.066