Belajar Dari Pengalaman Penerapan Program Bantuan Perumahan Masyarakat Miskin Kota Semarang

*Landung Esariti -  Department Urban and Regional Planning Faculty of Engineering Diponegoro University, Indonesia
Published: 20 Apr 2016.
Open Access Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: IDN
Full Text:
Statistics: 102 107
Abstract

Pengarusutamaan gender pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2000 melalui Instruksi Presiden No 1 / 2001. Dalam prosesnya, beberapa tindakan afirmatif telah dilakukan untuk mengintegrasikan genderdalam program pengembangan dan perlindungan sosial. Mulai tahun 2008, Gender menjadi salah satu pilar program penanggulangan kemiskinan secara nasional, yang juga telah dilaksanakan di kota Semarang. Pemerintah daerahtelah meluncurkan program bantuan perumahan, berupa hibah untuk rumah tangga miskin untuk renovasi rumahdan ditambah dengan bantuan teknis untuk perencanaan lokasi dan bantuan bahan konstruksi. Hasil merekomendasikan persyaratan untuk memahami berbagai karakteristik rumah tangga dankesadaran pemerintah dan LSM tentang definisi gender. Hal ini juga menyimpulkan bahwa perlu dibuka partisipasi lebih besar dari rumah tangga miskin untuk mendorong lingkup yang lebih luas dari capaian program. Dengan kata lain, adanya pelibatan rumah tangga berpenghasilan rendah sebagai manifestasi dari pendekatan yang sensitif gender untuk menciptakan keadilan danketerwakilan dalam kaitannya dengan pelaksanaan program.

 

Keywords
jenis kelamin; program bantuan perumahan; rumah tangga berpenghasilan rendah

Article Metrics: