Sense of Place Masyarakat Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan Kota Semarang

*Annisa Amellia Purwanto -  Universitas Diponegoro, Kota Semarang, Indonesia
Nurini Nurini -  Universitas Diponegoro, Kota Semarang, Indonesia, Indonesia
Published: 20 Oct 2016.
Open Access Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Full Text:
Statistics: 142 225
Abstract

Pembangunan modern di Kota Semarang menjadi salah satu ancaman terhadap eksistensi kampung-kampung bersejarah kota, seperti hilangnya Kampung Sekayu karena pembangunan Paragon Mall dan hilangnya Kampung Basahan karena pembangunan Hotel Gumaya Tower. Sama halnya dengan kampung bersejarah lainnya, Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan juga terancam eksistensinya sebagai aset sejarah perkotaan karena mengalami perubahan fisik dan non fisik. Tahap pertama dalam upaya pelestarian adalah dengan mengkaji Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan menggunakan teori Sense of Place untuk mengetahui keterikatan masyarakat terhadap Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan yang nantinya melalui Sense of Place masyarakat tersebut dapat diketahui apakah kedua kampung bersejarah di Kota Semarang ini masih layak untuk dikonservasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat Kampung Kulitan memiliki kedalaman Sense of Place terikat sedangkan di Kampung Gandekan mayoritas memiliki kedalaman Sense of Place cukup terikat. Tingkat Sense of Place sebagian besar masyarakat di kedua Kampung berada pada level 3.


 

Keywords
Kampung Kota; Sense of Place; Sejarah

Article Metrics: