Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Karakter Kawasan sebagai Arahan Perancangan Pelestarian Kota Lama Semarang

*Dhita Mey Diana -  Diponegoro University, Indonesia
Rina Kurniati -  Diponegoro University, Indonesia
Received: 28 Mar 2018; Published: 20 Jun 2018.
Open Access Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: IND
Full Text:
Statistics: 223 52
Abstract

Kawasan Kota Lama Semarang merupakan kawasan historis yang menjadi inti pertumbuhan Kota dan berkembang melalui tiga fase dalam sejarahnya. Seiring berjalannya waktu, Kawasan Kota Lama semakin mengalami penuruna karakter namum upaya untuk menjadikan Kota Lama Semarang sebagai world heritage pada tahun 2020 membuat banyaknya perubahan karakteristik dan dapat mengubah wajah Kawasan Kota Lama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor perubahan karakteristik Kota Lama Semarang sebagai kawasan historis dan dapat dijadikan sebagai dasar upaya pelestarian kawasan. Perubahan karakteristik fisik di Kawasan Kota Lama yaitu adanya perubahan pemanfaatan serta pola penggunaan lahan, konfigurasi dan tampilan bentuk dan massa bangunan, perubahan sirkulasi yaitu peningkatan arus lalu lintas di kawasan yang semakin padat dan adanya perbaikan jalan di sebagian ruas jalan, selain itu adanya perubahan berupa penambahan area pejalan kaki dan ruang terbuka serta adanya pengurangan aktivitas Pedagang Kaki Lima (PKL). Perubahan karakteristik non fisik kawasan berkaitan dengan fungsi, budaya, dan aktivitas yang semula sebagai pusat pemerintahan kini berubah menjadi fungsi perdagangan dan fasilitas sosial serta sarana wisata budaya. Faktor perubahan karakteristik kawasan terbentuk menjadi II faktor, faktor I yaitu pembangunan infrastruktur, dukungan masyarakat dan untuk faktor II yaitu perubahan fungsi kawasan, pengaruh politik dan ekonomi.

Keywords
Faktor Perubahan; Karakteristik kawasan; Kota Lama Semarang, Pelestarian

Article Metrics:

  1. Amanda Wirastari, Volare dan Suprihardjo, Rimadewi. (2012). Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus: Kawasan Cagar Budaya Bubutan, Surabaya). Jurnal Tekhnik ITS. Surabaya. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
  2. Ghoomi, H. A., Yazdanfar, S.-A., Hosseini, S.-B., & Maleki, S. N. (2015). Comparing the Components of Sense of Place in the Traditional and Modern Residential Neighborhoods. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 201(February), 275–285.
  3. Pratiwo. (2004). The city planning of Semarang 1900-1970. The 1st International Urban Conference, 1–18.
  4. Program, C. of V. H. (n.d.). Design Guidelines: Old Town, Victoria, B.C.
  5. Rani, P. (2015). The Impact of Adaptive Reusing Heritage Building as Assessed by the Indoor Air Quality Case study: UNESCO World Heritage Site Penang, 179, 297–307.
  6. Sativa, Anisa, & Wahyuni, A. E. (2008). Tipologi Kampung Kauman Studi Kasus : Kauman Yogyakarta dan Kauman Kudus. Journal of Architecture and Planning Studies Gadjah Mada University, 12–18.
  7. Shamsuddin, S., Sulaiman, A. B., & Amat, R. C. (2012). Urban Landscape Factors That Influenced the Character of George Town, Penang Unesco World Heritage Site. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 50(July), 238–253
  8. Shirvani, H. (1985). Urban Design Process. Van Nostrand Reinh Company. New York.
  9. Siagian, R. T. (2011). Perubahan yang Terjadi pada Tata Ruang Kota Medan. Universitas Sumatera Utara.
  10. Soltanzadeh, H., & Moghaddam, M. S. (2015). Sana ’ a , Structure , Historical Form , Architecture and Culture, 3(3), 56–67.
  11. Suprihatin Ari, Antariksa, dan Meidiana, (2009). Pelestarian Lingkungan Dan Bangunan Kuno Di Kawasan Pekojan