Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) pada Titik Transit Trase Light Rail Transit (LRT) Provinsi Sumatera Selatan

*Hendry Natanael Gumano -  Magister Pembangunan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Yudi Basuki -  Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Received: 6 Mar 2018; Published: 20 Mar 2018.
Open Access Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 531 187
Abstract

Salah satu urgenitas pengembangan sistem transportasi massal LRT di Provinsi Sumatera Selatan adalah untuk mendukung pergelaran ASIAN GAMES tahun 2018 di Kota Palembang. Selain itu, keperluan pembangunan LRT juga sebagai solusi bagi masalah transportasi dan pembangunan Kota Palembang yang berkelanjutan. Keberadaan LRT perlu dianggap sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan hal tersebut, melalui konsep pembangunan yang berorientasi transit (TOD). Kondisi ini kemudian menjadi pertanyaan penelitian yaitu “bagaimana pengembangan TOD pada jalur LRT dalam mendukung perwujudan transportasi dan pembangunan kota yang berkelanjutan?”. Tujuan penelitian adalah untuk menyusun konsep pengembangan TOD berdasarkan tipologi kawasan titik transit di trase LRT Provinsi Sumatera Selatan. Metode yang digunakan yaitu skoring, pembobotan serta analisis spasial yang dinilai berdasarkan pada prinsip TOD: diversity & destination, density, distance & design, dan demand management yang terbagi atas 14 variabel penilaian.  Hasil penelitian menunjukkan 3 tipologi TOD dari 12 kawasan transit yang dinilai yaitu 1 kawasan sebagai TOD Kota, 6 kawasan transit sebagai TOD Sub-Kota, dan 5 kawasan transit sebagai  TOD Lingkungan. Kawasan transit yang kecenderungannya sebagai TOD Kota perlu pengembangan dan peningkatan pada prinsip density, sedangkan di kawasan transit yang kecenderungannya sebagai TOD Sub-Kota perlu pengembangan dan peningkatan pada prinsip demand management.

Keywords
Pembangunan Berkelanjutan; Integrasi; Transit Oriented Development (TOD); LRT; Tipologi TOD

Article Metrics:

  1. Abdullah, J., & Mazlan, M. H. (2016). Characteristics of and Quality of Life in a Transit Oriented Development (TOD) of Bandar Sri Permaisuri, Kuala Lumpur. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 234, 498-505. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.sbspro.2016.10.268
  2. Calthorpe, P. (1993). The next American metropolis: Ecology, community, and the American dream. Princeton architectural press.
  3. Cervero, R. (2014). Transport Infrastructure and the Environment in the Global South: Sustainable Mobility and Urbanism. Journal Of Regional And City Planning, 25(3), 174-191. doi:10.5614/jpwk.2015.25.3.1
  4. Feudo, F. L. (2014). How to build an alternative to sprawl and auto-centric development model through a TOD scenario for the North-Pas-de-Calais region? Lessons from an integrated transportation-land use modelling. Transportation Research Procedia, 4, 154-177. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.trpro.2014.11.013
  5. Ilma, F., & Rakhmatulloh, A. (2014). Pembentukan Struktur Ruang Kompak di Kawasan Banyumanik Kota Semarang. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 10(2), 139-152. doi:http://dx.doi.org/10.14710/pwk.v10i2.7645
  6. Institute for Transportation & Development Plan .2017, TOD Standar, New York, www.itdp.org
  7. Kamruzzaman, M., Baker, D., Washington, S., & Turrell, G. (2014). Advance transit oriented development typology: case study in Brisbane, Australia. Journal of Transport Geography, 34, 54-70. Available at: http://dx.doi.org/10.1016/j.jtrangeo.2013.11.002
  8. Lyu, G., Bertolini, L., & Pfeffer, K. (2016). Developing a TOD typology for Beijing metro station areas. Journal of transport geography, 55, 40-50. DOI: 10.1016/j.jtrangeo.2016.07.002
  9. Nugroho, A. N., & Khadiyanta, P. (2015). Perancangan Ruang Fisik Kawasan Stasiun Tawang yang Terintegrasi dengan Angkutan Umum Kota Semarang. Ruang, 1(3), 121-130. Avaible at : http://dx.doi.org/10.14710/ruang.1.4.121-130
  10. Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 16 tahun 2017 tentang “Pedoman Pengembangan Kawasan Berorientasi Transit (TOD).
  11. Suzuki, H., Cervero, R., & Iuchi, K. (2013). Transforming cities with transit: Transit and land-use integration for sustainable urban development. World Bank Publications.
  12. Singh, Y. J., Lukman, A., Flacke, J., Zuidgeest, M., & Van Maarseveen, M. F. A. M. (2017). Measuring TOD around transit nodes-Towards TOD policy. Transport policy, 56, 96-111. Avaiblble at : https://doi.org/10.1016/j.tranpol.2017.03.013
  13. Translink., (2012) Transit-Oriented Communities Design Guidelines (Creating More Liveable Places Around Transit in Metro Vancouver), Bordeaux, www.translink.com
  14. UN-HABITAT., (2009). Global Report on Human Settlements (Planning Sustainable Cities), London
  15. WCED (World Commission on Environment and Development)., (1987). Our Common Future. Oxford : Oxford University Press
  16. Widyahari, N. L. A., & Natalivan, P. (2014). Potensi dan Peluang Pengembangan Transit Oriented Development di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK, 3(2).