Konsep Desain Gapura Desa Asemdoyong

*Suzanna Ratih Sari  -  Diponegoro University, Indonesia
Dhanoe Iswanto  -  Diponegoro University, Indonesia
Edy Darmawan  -  Diponegoro University, Indonesia
Sukawi Sukawi  -  Diponegoro University, Indonesia
Received: 3 Jul 2019; Published: 24 Oct 2019.
View
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Statistics: 95 340
Abstract
Gapura merupakan sarana penting bagi sebuah wilayah untuk memberikan tanda batas antar wilayah di sekitarnya. Selain fungsinya sebagai tanda batas, gapura juga berfungsi sebagai estetika bagi desa itu sendiri. Adapun tujuan lain dari pendirian gapura adalah sebagai penunjang dari pengembangan kawasan pariwisata. Seperti di Desa Asemdoyong yang terkenal karena adanya tempat pelelangan ikan (TPI) terbesar di Kabupaten Pemalang serta adanya kawasan pariwisata yang memiliki daya tarik wisatawan yang cukup tinggi yaitu di pantai Muara Indah Asemdoyong. Namun bila kondisi gapura tersebut kurang layak dan merepresentasikan kawasan setempat, maka gapura tersebut tidak akan berfungsi secara maksimal. Oleh karena itu, tim pengabdian ini akan memberikan usulan desain gapura bagi desa Asemdoyong sebagai upaya peningkatan kualitas desa serta pengembangan kawasan pariwisata di desa tersebut. Dengan metode sosialisasi dengan masyakat desa pada forum group discussion (FGD), maka akan didapat konsep desain gapura yang dibutuhkan dan diinginkan oleh masyarakat desa itu sendiri. Harapan dari terealisasinya konsep desain gapura ini adalah supaya desa Asemdoyong dapat dikenal oleh masyarakat luas dan memberi tanda bahwa desa tersebut memiliki daya tarik pariwisata yang sangat baik untuk dikunjungi.

Article Metrics:

  1. Adisasmita, R. (2006). Membangun Desa Partisipatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  2. Hidayat, M. (2011). Strategi Perencanaan dan Pengembangan Objek Wisata, Studi Kasus Pantai Pengandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Tourism and Hospitality Essentials Journal Vol.1 No.1, 33-44.
  3. Kurniawan, A. (2014). Belajar dari Desa-Desa di Raja Ampat. Diambil kembali dari Adhi Kurniawan: http://adhikurniawan.com/belajar-dari-desa-desa-di-raja-ampat/
  4. Padi, I. (2012). Metode ZOPP. Diambil kembali dari ilmupadi: http://ilmupadi19.blogspot.com/2012/01/metode-zopp.html
  5. Paramita, A., & Kristiana, L. (2013). Teknik Focus Group Discussion dalam Penelitian Kualitatif. bulletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol.16, No.2, 109-225.
  6. Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018. (2018). Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
  7. Pratama, R. (2018). Hilangkan Kesan Mistis, Nelayan Bangun Replika Ikan Marlin Sepanjang Enam Meter. Diambil kembali dari Posbelitung: https://belitung.tribunnews.com/2018/05/10/hilangkan-kesan-mistis-nelayan-bangun-replika-ikan-marlin-sepanjang-enam-meter
  8. Primasiwi, A. (2018). Kampung Tua Tanjung Uma Batam Makin Berdetak Saat Ramadan. Diambil kembali dari Suara Merdeka Travel: https://www.suaramerdeka.com/travel/baca/91712/kampung-tua-tanjung-uma-batam-makin-berdetak-saat-ramadan
  9. Wahab, S. (2003). Manajemen Kepariwisataan. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
  10. Wang, Y. (2015). Deburan Samudra Hindia di Teleng Ria. Diambil kembali dari Tripadvisor: https://www.tripadvisor.com/LocationPhotoDirectLink-g3175993-d3533432-i51075583-Teleng_Ria_Beach-Pacitan_East_Java_Java.html
  11. Wikipedia. (2019). Asemdoyong, Taman, Pemalang. Diambil kembali dari Wikipedia : Ensiklopedia Bebas: https://id.wikipedia.org/wiki/Asemdoyong,_Taman,_Pemalang