skip to main content

Pemetaan Daya Dukung Lingkungan Penyedia Air Bersih Berbasis Jasa Ekosistem di Tarempa Kabupaten Anambas

*Erik Febriarta orcid  -  Magister Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Lulu Mari Fitria  -  Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Nasional Yogyakarta, Indonesia
Karina Bunga Hati  -  Magister Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Ahmad Ghazali  -  Mitra Geotama Indonesia, Indonesia
Deni Agus Setyono  -  Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Indonesia
Rakyan Paksi Nagara  -  Pusat Pemetaan Tata Ruang dan Atlas, Badan Informasi Geospasial, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2022 Jurnal Wilayah dan Lingkungan
Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

Carrying capacity of the environment is a condition of the physical ability of the environment to be utilized and manageable to meet the needs of life and development of an area. Water resources are a basic need for human activities and living things around them. The environmental carrying capacity of the supply factor in the form of clean water is part of the strategic steps for environmental management and protection in the Anambas Islands. The study aims to determine the level of environmental carrying capacity of clean water supply factors. The study was conducted using the ecosystem service method. The parameters used for the calculation of carrying capacity are the ecoregion which provides information on the physical condition of the landscape with the same characteristics and characteristics, the land cover which provides corrections to land-based ecomony activities and hydrogeological conditions which provide information on the availability of groundwater and the potential for water productivity. The three environmental data scores and weight values are graded using the analytical hierarchy process (AHP) and then are calculated linearly for all these variables, resulting in an environmental services index value. The value of environmental services is grouped into five classes, so it is known that the environmental carrying capacity of clean water providers on Siantan Island is 32.9% very high carrying capacity, 1.36% high carrying capacity, 6.2% medium carrying capacity, low carrying capacity 21 %, and the carrying capacity is very low 38.5%. In general, the environmental conditions of clean water providers on Siantan Island are very low.

 

Note: This article has supplementary file(s).

Fulltext |  common.other
Pemetaan Daya Dukung Lingkungan Penyedia Air Bersih Berbasis Jasa Ekosistem Di Tarempa Kabupaten Anambas
Subject
Type Other
  Download (6MB)    Indexing metadata
 common.other
Pemetaan Daya Dukung Lingkungan Penyedia Air Bersih Berbasis Jasa Ekosistem Di Tarempa Kabupaten Anambas
Subject
Type Other
  Download (6MB)    Indexing metadata
Keywords: analytical hierarchy process (AHP); carrying capacity; clean water; ecosystem services

Article Metrics:

  1. Agraria dan Tata Ruang /Badan Pertahanan Nasonal (ATR/BPN). (2017). Sinkronisasi Program Pemanfaatan Ruang Tahunan Provinsi Kepulauan Riau. Subdit Pemanfaatan Kawasan Strategis Nasional Wilayah IDirektorat Pemanfaatan Ruang, Direktorat Jenderal Tata Ruang, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN. Jakarta Selatan
  2. Badan Informasi Geospasial (BIG). (2018a). Penyusunan Peta Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Wilayah Pusat Kawasan Strategis Nasional (PKSN) Perbatasan Negara. Laporan Akhir. Deputi Bidang IGT-Badan Informasi Geospasial. Bogor
  3. Badan Informasi Geospasial (BIG). (2018b). Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS) 1119:314-321. Badan Informasi Geospasial (BIG). Diakses pada 10 Oktober 2020. http://tides.big.go.id/DEMNAS/DEMNAS.php
  4. Badan Informasi Geospasial (BIG). (2018c). Peta Digital Kabupaten Kepulauan Anambas. Badan Informasi Geospasial (BIG). Diakses pada 10 Oktober 2020. https://tanahair.indonesia.go.id/portal-web/download/perwilayah
  5. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) Kabupaten Kepulaun Meranti. (2017), Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup kabupaten Meranti.Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA) Kabupaten Kepulaun Meranti. Selat Panjang
  6. Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2014). Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 7645-1:2014 tentang Klasifikasi penutup lahan-bagian 1: Skala kecil dan menengah. Badan Standardisasi Nasional (BSN). Jakarta
  7. Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2005). Standar Nasional Indonesia (SNI) no.13-1712-2005 tentang penyelidikan potensi air tanah skala 1:100.000 atau lebih besar. Badan Standardisasi Nasional (BSN). Jakarta
  8. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang. (2018). Daya Dukung Daya Tampung Kabupaten Semarang. Laporan Penelitian. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Semarang
  9. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan, (2018). Kajian Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Kota Pekalongan Provinsi Jawa Tengah. Laporan Penelitian, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan
  10. Enrique, M., and Milagros, P.R. (2017). Practical Decision Making: An Introduction to the Analytic Hierarchy Process (AHP) Using Super Decisions. Springer Briefs in Operations Research. Springer International Publishing
  11. Setyono, D.A., Hariyani, S., dan Haryani, B.A.S. (2019). Identifikasi Bentuk Struktur Ruang Kota Batu. Jurnal Tata Kota dan Daerah, 11(2). doi: http://dx.doi.org/10.21776/ub.takoda.2019.011.02.5
  12. Ernamaiyanti, dan Yunanda, M. (2019). Analisis Daya Dukung dan Daya tampung Lahan Pengembangan Perumahan dan Permukiman Provinsi Banten. Jurnal Teknik Sipil UNPAL. 9(1), 25-31
  13. Febriarta, E., Argadyanto, B.A., dan Rosaji, F.S.C., (2018). Sumber Daya Air di Pulau Pelapis Kepuluan Karimata kabupaten Kayong Utara. Prosiding Seminar Nasional-4 Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai. 181-186. doi: 10.17605/osf.io/ezhdt
  14. Febriarta, E., Haryono, E., dan Adji, T.N. (2015). Aplikasi Teknologi Isotop Alam Untuk Menentukan Asal Usul Air Tanah Pesisir. Prosiding Seminar Nasional ke-1 Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai. 100-105. Doi: 10.17605/osf.io/7a5m6
  15. Febriarta, E., dan Oktama, R. (2020). Pemetaan Daya Dukung Lingkungan Berbasis Jasa Ekosistem Penyedia Pangan dan Air Bersih di Kota Pekalongan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 18(2), 283-289, doi: 10.14710/jil.18.2.283-289
  16. Febriarta, E., Oktama, R., dan Purnama, S. (2020) Analisis daya Dukung Lingkungan Berbasis Jasa Ekosistem Penyediaan Pangan dan Air Bersih di Kabupaten Semarang. Geomedia. 18(1), 12-24. https://doi.org/10.21831/gm.v18i1.30612
  17. Febriarta, E., dan Larasati, A. (2020). Karakteristik Akufer Air Tanah Dangkal di Endapan Muda Merapi Yogyakarta, Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. 12(2), 84-99. doi: 10.20885/jstl.vol12.iss2.art1
  18. Febriarta, E., dan Purnama, S. (2020). Identifikasi Keterdapatan Airtanah Dengan Electromagnetic Very Low Frequency (EM-VLF) Di Non Cekungan Airtanah Kecamatan Ungaran Timur. Jurnal Geosains Dan Teknologi. 3(2), 52-62. doi.org/10.14710/jgt.3.2.2020.52-62
  19. Febriarta, E., Suswanti, dan Noviandaru, S. (2019). Interpretasi Electrical Resistivity Tomography (ERT) Untuk Pendugaan Air Tanah Dangkal pada Formasi Gunungapi Muda. Jurnal Nasional Teknologi Terapan. 3(1), 49-62. doi.org/10.22146/jntt.56617
  20. Fitria, L.M., Ni'mah, N.M., dan Danu, L.K. (2019). Kerentanan Fisik Terhadap Bencana banjir di Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Reka Ruang, 2(1). 1-9. doi: https://doi.org/10.33579/rkr.v2i1.1048
  21. Hidayat, F., dan Nagara, R.P. (2018). Dataset Batas Wilayah Administrasi Untuk Penataan Ruang Wilayah. Seminar nasional Geomatika. 2018, 441-448. doi: http://dx.doi.org/10.24895/SNG.2018.3-0.984
  22. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). (2012). Geologi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). Jakarta. Diakses pada 10 Oktober 2020. https://geoportal.esdm.go.id/geologi/
  23. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). (2015a). Litologi Akuifer. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). Jakarta. Diakses pada 10 Oktober 2020. https://geoportal.esdm.go.id/geologi/
  24. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). (2015b). Produktivitas Akuifer. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). Jakarta. Diakses pada 10 Oktober 2020. https://geoportal.esdm.go.id/geologi/
  25. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). (2018). Cekungan Air Tanah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). Jakarta. Diakses pada 10 Oktober 2020. https://geoportal.esdm.go.id/geologi/
  26. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). (2014). Pedoman Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup Deputi 1 Bidang Tata Lingkungan Asisten Deputi Perencanaan Pemanfaatan SDA & LH & Kajian Kebijakan LH Wilayah & Sektor: Jakarta
  27. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2019). Buku Pedoman Penentuan Pedoman Penentuan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Daerah. Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Kebijakan Wilayah dan Sektor (PDLKWS). Jakarta. Diakses pada 10 Oktober 2020. http://pktl.menlhk.go.id/
  28. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2013). Peta Ekoregion skala 1:250.000. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Jakarta
  29. Mandal, S., Mondal, S. (2019). Geoinformasitic and Modeling of Landslide Susceptibility and Risk, An RS and GIS based model building approach inthe Eastern Himayala. Springer: Switzerland
  30. Millennium Ecosystem Assessment (MEA). (2005). Ecosystems and Human Well- Being: Synthesis. Island Press. Washington, USA
  31. Muta'ali, L. (2015). Teknik Analisis Regional Untuk, Perencanaan Wilayah Tata Ruang dan Lingkungan. Yogyakarta
  32. Muta'ali, L. (2019). Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Berbasis Jasa Ekosistem untuk Perencanaan Lingkungan Hidup. Badan Penerbit Fakultas Geografi. Yogyakarta
  33. Peraturan Presiden (Perpres). (2020). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2020 Tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perbatasan Negara Di Provinsi Riau Dan Provinsi Kepulauan Riau. Presiden Republik Indonesia.Jakarta
  34. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ). (2015). Peta Ekoregion Jawa Tengah. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa. Yogyakarta
  35. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ). (2017). Pedoman Penggunaan Peta Daya Dukung Dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH). Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa. Yogyakarta
  36. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera (P3ES), (2011). Daya Dukung Dan Daya Tampung Lingkungan Hidup Ekoregion Sumatera Berbasis Jasa Ekosistems. Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sumatera. Pekanbaru
  37. Republik Indonesia (RI). (2009a). Peraturan Menteri Negara Lingkugan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2009 tentang Pedoman Penentuan Daya Dukung Lingkungan Hidup dalam Penataan Ruang Wilayah. Deputi V MENLH Bidang Penataan Lingkungan. Jakarta
  38. Republik Indonesia (RI). (2009b). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 140. Sekretariat Negara. Jakarta
  39. Saaty, T.L. (1980). The Analytic Hierarchy Process. McGraw-Hill Book Company, NewYork, p 265p
  40. Saaty, T.L. (2004). Decision making — the Analytic Hierarchy and Network Processes (AHP/ANP). J. Syst. Sci. Syst. Eng. 13, 1–35 (2004). https://doi.org/10.1007/s11518-006-0151-5
  41. Sabila S. (2020). Daya Dukung Pangan Dalam Mendukung Ketersediaan Pangan Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan. 7 (1), 59-68
  42. Santosa, L.W. (2010), Ekoregion sebagai Kerangka Dasar dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan. Makalah. Disampaikan dalam seminara Nasional “Semangat Pejuangan dari Jogja: Kembalikan Indonesiaku Hijau”. University Center UGM. 23 Desember 2010
  43. Santoso, H.D., Prasetya, J.D., dan Saputra, D.R. (2020) Analsisi daya Dukung Lingkungan Hidup Berbasis Jasa Ekosistem Penyedia Air Bersih di Pulau Kariumjawa. Jurnal Ilmu Lingkungan. 18(2), 290-296. doi: https://doi.org/10.14710/jil.18.2.290-296
  44. Samodra, H. (1995). Peta Geologi Lembar Tarempa dan Jemaja. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung
  45. Singhal, B.B.S., and Gupta, R.P. (2010). Applied Hydogeology of Fracture Rock, Springer Dordrecht Heidelberg London: Springer
  46. Setyaningrum, A., dan Febriarta, E. (2020). Analsisi Kesesuaian dan Daya Dukung Ekowisata Pantai Kategori Rekreasi Pantai Kuwaru Kabupaten Bantul Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai ke-5. 36-41. doi: 10.17605/osf.io/82ptu
  47. Sumadyanti U.V., Zuharnen, dan Widayani P., (2016), Monitoring Daya Dukung Lingkungan Berbasis Jasa Ekosistem (Rekreasi dan Ecotourism) Tahun 2000 dan 2015 Menggunakan Citra Landsat (Lokasi Kabupaten Badung Bagian Barat, Provinsi Bali), Jurnal Bumi Indonesia,Vol 5 No.4:1-10. 2016
  48. Vienastra, S., dan Febriarta, E. (2018). Karakteristik Airtanah di Pulau Yeben Kabupaten Raja Ampat, Papua barat. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-3 Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia. 108-113. doi: 10.17605/osf.io/ezhdt

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.