skip to main content

Bergota Stacked Cemetery

*Prana Kusuma  -  Program Profesi Arsitek, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Kota Semarang menghadapi krisis pemakaman yang bersifat struktural dan mendalam: kapasitas Tempat Pemakaman Umum (TPU) tinggal kurang dari 30 persen, penurunan muka tanah akibat rob telah mengeliminasi lebih dari 120 hektar lahan produktif, dan diproyeksikan pada tahun 2038 kota ini tidak lagi memiliki lahan yang memadai untuk memakamkan warganya sendiri. TPU Bergota — pemakaman tertua dan terpadat di jantung kota, tempat di mana komunitas Islam, Tionghoa-Peranakan, dan Jawa pertama kali berbagi tanah sejak abad ke-14 — kini berdiri di titik kritis eksistensial dengan kapasitas terpakai mendekati 95 persen dan sisa umur pakai kurang dari dua tahun. Penelitian ini menyajikan konsep rancangan arsitektur Bergota Stacked Cemetery: Infrastructure of Silence, sebuah kolumbarium vertikal 12 lantai yang dibangun mengikuti kontur lereng bukit Bergota sebagai respons terpadu terhadap krisis lahan, keberlanjutan kota, dan penghormatan terhadap tradisi pemakaman multi-religi. Dengan menggunakan pendekatan architectural design research yang mengintegrasikan analisis tapak geoteknik, kajian tipologi pemakaman lintas budaya, dan sintesis kerangka teoritis — meliputi heterotopia Foucault, Thirdspace Soja, The Countryside Koolhaas, dan antropologi ritual kematian Koentjaraningrat — rancangan ini mengembangkan sistem niche modular into-hillside (200 × 70 cm) berkapasitas 160.000–240.000 niche, meningkatkan efisiensi lahan hingga 600–800 persen dibandingkan pemakaman konvensional. Konsep zonasi multi-religi dengan buffer minimum 3 meter antara zona Islam, Tionghoa, dan Kristen memungkinkan koeksistensi ritual yang bermartabat dalam satu infrastruktur vertikal bersama. Struktur hillside dengan fondasi tiang pancang, retaining wall FS ≥ 1,5, dan sistem filtrasi lindi tiga tahap menjawab tantangan geoteknik lereng sedimentasi aluvial Semarang. Hasil rancangan menunjukkan bahwa pemakaman vertikal bukan merupakan penolakan terhadap tradisi melainkan adaptasi organik yang justru dapat mempertahankan orientasi kiblat per niche, logika fengshui terasering bukit, dan psikologi ziarah terbuka melalui taman langit di setiap teras atap. Penelitian ini berkontribusi pada wacana tipologi baru infrastruktur kota yang menempatkan arsitektur kematian sebagai komponen aktif ketahanan dan identitas kota-kota Asia yang menghadapi tekanan urban serupa. 
Article Info
Section: Poster Profession
Language : ID

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.