skip to main content

Cultural Center Sebagai Urban Public Sphere di Simpang Lima Semarang

*Farah Zahirah  -  Program Profesi Arsitek, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Perkembangan Kota Semarang sebagai pusat aktivitas ekonomi, budaya, dan pariwisata meningkatkan kebutuhan akan ruang publik yang mampu mewadahi interaksi sosial, kegiatan budaya, serta kreativitas masyarakat. Namun, fasilitas yang mengintegrasikan fungsi budaya dengan ruang publik yang inklusif masih terbatas, khususnya di kawasan Simpang Lima sebagai pusat aktivitas kota. Oleh karena itu, dirancang sebuah Cultural Center dengan pendekatan Urban Public Sphere yang berfungsi sebagai wadah ekspresi seni, edukasi, rekreasi, dan interaksi masyarakat. Perancangan dilakukan melalui metode analisis terhadap kondisi tapak, karakter kawasan, kebutuhan pengguna, program ruang, serta studi preseden untuk menghasilkan konsep desain yang kontekstual. Pendekatan Urban Public Sphere diterapkan melalui penyediaan ruang yang terbuka, mudah diakses, dan mampu menghubungkan aktivitas di dalam maupun di luar bangunan. Hasil perancangan berupa Cultural Center yang menyediakan ruang pamer, studio seni, perpustakaan, ruang kolaborasi, ruang seminar, amphitheater, serta ruang terbuka publik yang saling terintegrasi. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya Kota Semarang, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan budaya, serta menciptakan ruang publik yang aktif, inklusif, dan berkelanjutan. Kata kunci: Cultural Center, Urban Public Sphere, ruang publik, budaya, Simpang Lima Semarang.
Article Info
Section: Poster Profession
Language : ID

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.