skip to main content

Sekolah Dasar Inklusi Dengan Pendekatan Sensory Design Di Semarang

*Nadinda Ramadhani Putri  -  Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Adanya pandemi COVID-19 mengakibatkan sistem pendidikan di Indonesia mengalami learning loss karena keterbatasan dalam mendapat pengetahuan. Menanggapi hal tersebut, Kemendikbudristek mengeluarkan kebijakan Merdeka Belajar yang berprinsip pada keunikan dan karakter masing-masing anak yang selaras dengan makna Anak Berkebutuhan Khusus. Kebijakan tersebut mengarahkan ABK untuk belajar di sekolah inklusi bersama anak normal. Namun pada penerapannya, ABK sering menjadi korban bullying karena adanya kelainan baik dari fisik, sensori, maupun perilakunya. Dibalik kelemahannya, ada kelebihan dari indra atau aspek lain mereka yang bisa dirangsang melalui Sensory Design, sehingga dalam penyelenggaraannya, tidak ada terjadi lagi bullying di sekolah inklusi. Kota Semarang yang memiliki rencana untuk mencapai Kota Layak Anak memiliki potensi untuk dibangun sekolah inklusi, didukung dengan kondisi pendidikan inklusif disana yang belum berjalan dengan optimal dari segi tenaga pendidik, sarana prasarana, dan pengetahuan tentang sekolah inklusi sehingga terjadi kesenjangan antara harapan masyarakat dan kondisi yang ada. Selain menggunakan pendekatan Sensory Design dan Universal Design
Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.