skip to main content

Rumah Susun Sederhana Sewa Di Semarang Dengan Penerapan Desain Pasif Bangunan Hijau

*Fiqoh Annisa Maskur  -  Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Rumah merupakan salah satu kebutuhan primer bagi manusia, yaitu sebuah bangunan tempat manusia bernaung dan tinggal. Meskipun menjadi kebutuhan primer, berdasarkan DTKS pada 2020 Jawa Tengah masih terdapat 419 ribu masyarakat miskin yang belum memiliki rumah (backlog kepemilikan rumah untuk masyarakat miskin). Tercatat hingga 2018 luas kawasan permukiman eksisting di Kota Semarang telah mencapai 16.027,49 Ha yang merupakan 76% luas kawasan permukiman. Kebutuhan akan hunian yang semakin meningkat namun kawasan permukiman yang terbatas menyebabkan pembangunan hunian tidak dapat hanya diwujudkan secara horizontal (landed houses), namun perlu diwujudkan secara vertikal, salah satunya yaitu rumah susun. Rumah susun sebagai alternatif jawaban untuk permasalahan ini sangat diminati oleh masyarakat Semarang, terlihat dari antrean rumah susun sederhana sistem sewa (Rusunawa) yang mencapai 1.462 orang. Maka dari itu, perlu perancangan rumah susun di Semarang untuk masyarakat berpendapatan rendah, yang diharapkan dapat menyesuaikan kebutuhan dan mengurangi backlog yang ada. Kenyamanan bagi pengguna sering kali diabaikan dalam perencanaan dan perancangan rumah susun karena faktor biaya. Pada perancangan ini diterapkan Green Building Design yang difokuskan pada strategi desain pasif dalam rangka menghasilkan desain yang nyaman dan meminimalkan dampak buruk kepada lingkungan dengan tetap menekan biaya seoptimal mungkin.
Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.