skip to main content

Pengembangan Pasar 16 Ilir Sebagai Pasar Seni dengan Pendekatan Arsitektur Neo-Vernakular

*Nabila Khairunnisa  -  Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Pasar 16 Ilir adalah pasar yang bersejarah di Palembang karena sempat menjadi pusat perekonomian Sumatera Selatan. Sejak 1821, bangunan berlantai 5 ini telah berdiri dan selalu ramai oleh kegiatan perdagangan. Namun, sekarang kondisinya seperti telah terbengkalai dan semakin sepi akibat pandemi Covid-19 lalu. Hal ini yang membuat Pemerintah Kota Palembang ingin melakukan perombakan terhadap Pasar 16 Ilir ini dengan langkah awal yakni mengambil alih pengelolaan dari pihak ketiga menjadi sepenuhnya dipegang oleh Pemkot Palembang. Bangunan ini direncanakan akan melalui pengembangan dengan adanya kontribusi profesional di dalamnya sehingga dapat menjadi bangunan yang lebih menarik karena mengikuti perkembangan zaman. Isu lainnya dari Kota Palembang yakni belum adanya prasana yang mampu menampung karya-karya seni dan budaya khas dari Palembang maupun Sumatera Selatan sekaligus menjadi wadah dalam memamerkan dan melestarikan budaya lokal dalam bentuk penampilan alat musik tradisional ataupun ekshibisi/pameran seni yang akan lebih menarik minat pengunjung untuk mengenal benda-benda kebudayaan Palembang. Arsitektur Neo-Vernakuler dipilih karena dalam prinsipnya menerapkan unsur budaya dari daerah tempat lokasi berada dan memperhatikan aspek iklim juga. Sehingga perancangan pasar seni dengan pendekatan arsitekur neo-vernakuler diharapkan dapat menjadi usulan desain yang mampu menanggapi isu-isu tersebut. Melalui survey dan analisis yang dilakukan hingga nantinya mencapai ke tahapan perencanaan dan perancangan akan membahas seputar permasalahan dan solusi yang dapat diterapkan dalam rancangan sehingga dapat menjawab isu yang ada. Di dalam proses menuju suatu desain yang pasti harus melalui proses dengan metode yakni mengumpulkan data dari studi pustaka/studi literatur, mengambil gambar secara visual dari lokasi penelitian, dan juga studi preseden sebagai bahan komparasi dari bangunan sejenis yang telah terbangun terhadap standar yang berlaku sehingga mendapatkan kriteria yang akan diterapkan. Sehingga menciptakan desain grafis yang dapat dipertanggungjawabkan keasliannya dan dapat menjadi usulan desain dalam rencana pengembangan yang akan diaksanakan.
Fulltext View|Download

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.