skip to main content

Analisis Harga Pembelian Tenaga Listrik yang Optimal untuk Pembangkit Listrik Energi Terbarukan di Kawasan Timur Indonesia

Department of Electrical Engineering, Universitas Indonesia, Jalan Margonda Raya, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424, Indonesia

Open Access Copyright (c) 2026 Jurnal Energi Baru dan Terbarukan
Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract
Kawasan Timur Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Akan tetapi, pemanfaatannya belum maksimal dan masih mengandalkan energi fosil. Salah satu penyebabnya adalah harga pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan yang tidak kompetitif sehingga menghambat investasi swasta. Disisi lain jika harga pembelian terlalu tinggi maka dapat membebani keuangan PLN dan meningkatkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP). Oleh karena itu, diperlukan analisis untuk menentukan harga pembelian tenaga listrik optimal yang menguntungkan bagi PLN sebagai pembeli sekaligus tetap memberikan tingkat pengembalian investasi yang layak bagi swasta sebagai pengembang. Analisis harga pembelian tenaga listrik dilakukan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) 112 Tahun 2022, dengan pendekatan perhitungan Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR) untuk menilai kelayakan proyek. Dari sisi finansial PLN dilakukan dengan menghitung penghematan yang diperoleh dari selisih BPP pembangkitan energi terbarukan dengan BPP Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika menggunakan harga patokan tertinggi yang ditetapkan Pemerintah, hanya pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang tidak layak untuk dikembangkan. Harga optimal untuk PLTP seharusnya diatas 13,32 ¢/kWh. Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah yang paling layak untuk dikembangkan karena memiliki nilai IRR paling tinggi diantara pembangkit lainnya dengan kisaran harga optimal 9,36 – 10,91 ¢/kWh dan potensi penghematan PLN dari pembangkit ini sebesar 2,17 – 3,99 triliun rupiah per tahun.
Fulltext View|Download
Keywords: harga pembelian tenaga listrik otimal, NPV, IRR, penghematan biaya, energi terbarukan

Article Metrics:

  1. Achmad, & Prayitno, G. (2020). Regional Disparity in Western and Eastern Indonesia. International Journal of Economics and Business Administration, VIII(Issue 4), 101–110. https://doi.org/10.35808/ijeba/572
  2. Aditya, I. A., Pratiwi, Z. B., Hakam, D. F., & Kemala, P. N. (2025). Green Hydrogen as a Catalyst for Indonesia’s Energy Transition: Challenges, Opportunities, and Policy Frameworks. International Journal of Energy Economics and Policy, 15(2), 182–194. https://doi.org/10.32479/ijeep.17380
  3. Fathoni, H. S., Setyowati, A. B., & Prest, J. (2021). Is community renewable energy always just? Examining energy injustices and inequalities in rural Indonesia. Energy Research & Social Science, 71, 101825
  4. Handayani, B. D., Yanto, H., Pujiati, A., Ridzuan, A. R., Keshminder, J. S., & Shaari, M. S. (2022). The Implication of Energy Consumption, Corruption, and Foreign Investment for Sustainability of Income Distribution in Indonesia. Sustainability (Switzerland), 14(23). https://doi.org/10.3390/su142315915
  5. Hermawan, E., Wijono, R. A., Adiarso, A., Setiadi, E. D., Hidayati, N. A., Setiadi, S., Setiawan, H., Ferabianie, A. L., Dewi, Y. R., & Fatmakartika, O. (2023). Solar Cell Manufacturing Cost Analysis and its Impact to Solar Power Electricity Price in Indonesia. International Journal of Energy Economics and Policy, 13(6), 244–258. https://doi.org/10.32479/ijeep.14970
  6. Ira, I., & Setiawan, R. (2023). Analisis Perbandingan Penilaian Keputusan Investasi Menggunakan Metode Net Present Value (NPV) dan Metode Internal Rate of Return (IRR). Jurnal Manajemen Dan Bisnis, 1(2), 93–102
  7. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2021). Technology Data for the Indonesian Power Sector. February, 1–215. https://ens.dk/sites/ens.dk/files/Globalcooperation/technology_data_for_the_indonesian_power_sector_-_final.pdf
  8. Kementrian ESDM. (2023). Laporan Kinerja Laporan Kinerja. Http://Kemdikbud.Go.Id/, 4(Mei), 197.
  9. Maidin, M. H. (2024). Challenges in Addressing Energy Injustice in ASEAN. In Energy Justice: Affordable, Reliable, Sustainable and Modern Energy for All (pp. 167–180). Springer
  10. Manurung, E. M., Diyanah, M. C., Permatasari, P., & Wardhana, I. W. (2022). Energy Equality in Indonesia Villages: A Discourse Analysis. International Journal of Energy Economics and Policy, 12(1), 169–176. https://doi.org/10.32479/ijeep.12641
  11. Muhammad, F., Hartono, D., Hastuti, S. H., Patunru, A. A., & Balya, A. A. (2025). Should Developed Regions Bear More Responsibility in Addressing Environmental Issues? Insights from Indonesia’s Unequal Regional Development. Energy Nexus, 17, 100334
  12. Nasrudin, R. an, Quarina, Q., & Dartanto, T. (2022). Revisiting the energy-happiness paradox: a quasi-experimental evidence of electricity access in Indonesia. Journal of Happiness Studies, 23(7), 3549–3576
  13. Pandyaswargo, A. H., Wibowo, A. D., Sunarti, S., Risnawati, & Onoda, H. (2024). A needs-based approach to sustainable energy use: case studies of four remote villages in Indonesia. Environment, Development and Sustainability, 1–22
  14. Republik Indonesia. (2022). Presidential Regulation Number 112 of 2022 (The Acceleration of Renewable Energy Development for Electricity). The Government of Indonesia, 135413, 1–37. https://peraturan.bpk.go.id/Details/225308/perpres-no-112-tahun-2022
  15. Setyowati, A. B. (2021). Mitigating inequality with emissions? Exploring energy justice and financing transitions to low carbon energy in Indonesia. Energy Research and Social Science, 71, 101817. https://doi.org/10.1016/j.erss.2020.101817

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.