skip to main content

Efektivitas Pemberian Jet Nebulizer terhadap Peningkatan Saturasi Oksigen dan Penurunan Frekuensi Napas pada Pasien PPOK

*Akhmad Safi'i  -  RSI NU Demak, Indonesia
Etik Pamuji Wulandari  -  RSI NU Demak, Indonesia
Ninik Azizah  -  FIKES UNIPDU Jombang, Indonesia
Zulfa Khusniyah  -  FIKES UNIPDU Jombang, Indonesia
Jihan Aauza  -  Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (PC IAI) Kab. Demak Jawa Tengah Indonesia, Indonesia
Received: 4 Feb 2026; Revised: 1 Jun 2026; Accepted: 2 Jun 2026; Available online: 30 Jul 2026; Published: 29 Jul 2026.

Citation Format:
Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan gangguan saluran napas kronis yang ditandai oleh obstruksi aliran udara dan peningkatan produksi sekret bronkus, sehingga menghambat efektivitas bersihan jalan napas. Salah satu intervensi yang efektif untuk mengatasi kondisi ini adalah pemberian jet nebulizer yang berfungsi untuk melebarkan saluran napas (bronkodilatasi), mengurangi hambatan aliran udara, dan memperbaiki ventilasi paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian jet nebulizer terhadap peningkatan saturasi oksigen dan penurunan frekuensi napas. Desain penelitian ini menggunakan pra-eksperimental dengan pendekatan one group pre-test and post-test. Sebanyak 30 pasien PPOK diberikan terapi bronkodilator melalui jet nebulizer sebanyak tiga kali sehari. Data dikumpulkan melalui pengukuran saturasi oksigen dan frekuensi napas sebelum dan sesudah intervensi pada pemberian dosis ketiga. Hasil analisis menunjukkan peningkatan rerata saturasi oksigen dari 92,9% menjadi 96,53% (p = 0,001) dan penurunan rerata frekuensi napas dari 26,13 kali/menit menjadi 22,13 kali/menit (p = 0,001). Nilai p < 0,05 menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik. Pemberian jet nebulizer terbukti efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen dan menurunkan frekuensi napas. Terapi ini direkomendasikan sebagai salah satu intervensi suportif dalam penatalaksanaan pasien PPOK di ruang rawat inap.


Keywords: Terapi inhalasi; Status oksigenasi; Pola respirasi; Penyakit paru kronik

Article Metrics:

Article Info
  1. Azka, A.S., Nurilmiwati, G., Septiani, N., Lavina, S.D., Nurwahyuni, T.P., Ridwan, H. dan Sopiah, P. (2025) ‘Efektivitas terapi nebulizer pada pasien dengan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK): Literature review’, Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 12(4), pp. 710–717. Tersedia pada: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehata
  2. Barjaktarevic, I.Z. dan Milstone, A.P. (2020) ‘Nebulized therapies in COPD: Past, present, and the future’, International Journal of Chronic Obstructive Pulmonary Disease, 15, pp. 1665–1677. doi: 10.2147/COPD.S252435
  3. BPPK Kementerian Kesehatan RI. (2019) Laporan nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  4. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD). (2022) Global strategy for prevention, diagnosis and management of COPD 2022. Tersedia pada: https://goldcopd.org/2022-gold-reports/#
  5. Huriah, T. dan Ningtias, D.W. (2017) ‘Pengaruh nebulizer terhadap peningkatan nilai VEP1, jumlah sputum dan mobilisasi sangkar thoraks pasien PPOK’, Indonesian Journal of Nursing Practices, 1(2), pp. 44–54. doi: 10.18196/ijnp.1260
  6. Khotimah, S. (2019) ‘Latihan endurance untuk meningkatkan kualitas hidup lebih baik daripada latihan pernapasan pada pasien PPOK di BP4 Yogyakarta’, Sport and Fitness Jurnal, 1(1), pp. 20–32
  7. Konzem, S.L. dan Stratton, M.A. (2018) ‘Chronic obstructive lung disease’, dalam Dipiro, J.T. et al. (eds.) Pharmacotherapy: A pathophysiologic approach. 5th edn. New York: The McGraw-Hill Companies
  8. Lestari, S., Handayani, S. dan Bakri, H. (2018) ‘Keefektifan pemberian nebulizer terapi Combivent dan terapi Bisolvon terhadap patensi jalan nafas pada pasien asma bronkial di ruang IGD BBKPM Makassar’, JKG (Jurnal Keperawatan Global), 3(2), pp. 86–97
  9. Lewis, S.L., Bucher, L., Heitkemper, M.M. dan Harding, M.M. (2019) Medical-surgical nursing: Assessment and management of clinical problems. 11th edn. St. Louis: Elsevier
  10. Nurbadriyah, W. D. (2022) ‘Asuhan keperawatan pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)’, dalam Asuhan keperawatan sistem pernafasan berbasis SDKI, SIKI, dan SLKI, pp. 108–121
  11. Nurmayanti, N., Waluyo, A., Jumaiyah, W. dan Azzam, R. (2019) ‘Pengaruh fisioterapi dada, batuk efektif, dan nebulizer terhadap peningkatan saturasi oksigen dalam darah pada pasien PPOK’, Jurnal Keperawatan Silampari, 3(1), pp. 362–371. doi: 10.31539/jks.v3i1.836
  12. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). (2023) Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK): Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Tersedia pada: https://bukupdpi.klikpdpi.com/wp-content/uploads/2023/08/Dummy-Buku-PPOK-2023.pdf
  13. Safitri, W., Martini, S., Artanti, K.D. dan Li, C.Y. (2021) ‘Smoking from a younger age is the dominant factor in the incidence of chronic obstructive pulmonary disease: Case-control study’, International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(11), pp. 1–8
  14. Sanker, V. et al. (2016) ‘Open label observational comparative efficacy study of ceftriaxone and levofloxacin in COPD exacerbations’, Journal of Pharmacy Practice and Community Medicine, 2(2), pp. 46–53. doi: 10.5530/jppcm.2016.2.5
  15. Santosa, A.. (2018) ‘Status respirasi pasien asma yang mendapatkan nebulisasi menggunakan jet nebulizer dibandingkan dengan nebulizer menggunakan oksigen’, Jurnal Respirologi Indonesia, 38(4), pp. 187–191
  16. Sastroasmoro, S. (2024) Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. 6th edn. Diedit oleh S. Ismail. Jakarta: Sagung Seto
  17. Septimar, Z.M. dan Novita, A.R. (2017) ‘Pengaruh tindakan penghisapan lendir (suction) terhadap perubahan kadar saturasi oksigen pada pasien kritis di ICU’, Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 7(1), pp. 10–14
  18. Setiawan, A., Purwono, J. dan Immawati, I. (2021) ‘Penerapan fisioterapi dada dan nebulizer dalam meningkatkan saturasi oksigen pada pasien PPOK’, Jurnal Cendikia Muda, 1(1), pp. 6–12
  19. Sugiyono. (2019) Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
  20. Wang, Z., Lin, J., Liang, L. et al. (2025) ‘Global, regional, and national burden of chronic obstructive pulmonary disease and its attributable risk factors from 1990 to 2021: An analysis for the Global Burden of Disease Study 2021’, Respiratory Research, 26(1), p. 2. doi: 10.1186/s12931-024-03051-2
  21. Woodhead, M., Blasi, F., Ewig, S., Huchon, G., Leven, M., Ortqvist, A. et al. (2017) ‘Guidelines for the management of adult lower respiratory tract infections’, European Respiratory Journal, 26(6), pp. 1138–1180. doi: 10.1183/09031936.05.00055705
  22. World Health Organization (WHO). (2017) Chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd)

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.