skip to main content

Perbandingan Gambaran Mikroanatomi Lien Tikus Putih (Rattus Norvegicus) dengan Fiksatif yang Berbeda

Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Jacub Rais, Tembalang, Semarang, Indonesia

Open Access Copyright 2026 Buletin Anatomi dan Fisiologi under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Penelitian ini pembuatan preparat mikroskopis menggunakan metoda parafin. Fiksasi merupakan tahapan penting dalam pembuatan preparat untuk mempertahankan struktur jaringan mendekati kondisi aslinya. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh jenis larutan fiksatif terhadap kualitas prepara mikroanatomi lien tikus putih (Rattus norvegicus). 10 lien dari 10 ekor tikus digunakan pada pembuatan preparat ini. Tiap lien dibagi 3 yang diperlakukan dengan tiga jenis larutan fiksatif yaitu Buffered Neutral Formalin (BNF) 10%, Bouin, dan etanol 50%, dengan durasi fiksasi selama satu minggu. Organ lien diisolasi kemudian dibuat preparat mikroskopis dengan metode parafin, difiksasi, dicuci (washing) sesuai perlakuan, kemudian diproses menjadi preparat mikroskopis.Rancangan yang digunakan penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap. Variabel yang diamati meliputi ukuran sel, ukuran inti sel  dan tingkat kerusakan jaringan. Hasil dianalisis dengan ANOVA dan uji lanjut Duncan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS Hasil penelitian menunjukkan  menunjukkan bahwa BNF 10% menghasilkan kualitas preparat terbaik, ditandai oleh struktur jaringan dan komponen seluler yang lebih jelas serta integritas organ yang lebih terjaga. Sebaliknya, etanol 50% menghasilkan kerusakan jaringan dan artefak paling nyata. Secara kuantitatif, larutan Bouin menunjukkan penyusutan (shrinkage) ukuran sel dan inti sel paling kecil dibandingkan kedua fiksatif lainnya. Dapat disimpulkan Etanol 50% tidak direkomendasikan untuk fiksasi jaringan jangka panjang karena memicu distorsi dan penyusutan sel yang ekstrem. Durasi fiksasi yang lama membutuhkan modifikasi proses washing untuk meluruhkan sisa bahan fiksatif reaktif. Penambahan waktu washing terbukti efektif menjaga kualitas pewarnaan HE dan keutuhan struktur mikroskopis, di mana BNF 10% yang dikombinasikan dengan pencucian akuades memberikan hasil preparat yang paling optimal pada durasi fiksasi satu minggu.

 

This study used the paraffin method to prepare microscopic slides. Fixation is a crucial step in slide preparation to maintain tissue structure close to its original state. This study aimed to analyze the effect of fixative solution types on the quality of microanatomic preparate of white rat (Rattus norvegicus) spleens. Ten spleens from ten rats were used in this slide preparation. Each spleen was divided into three sections and treated with three fixative solutions: 10% Buffered Neutral Formalin (BNF), Bouin's, and 50% ethanol, with a fixation duration of one week. The spleen was isolated, then microscopic slides were prepared using the paraffin method, fixed, washed according to the treatment, and then processed into microscopic slides. The design used in this study was a Completely Randomized Design. Observed variables included cell size, cell nucleus size, and the degree of tissue damage. The results were analyzed using ANOVA and Duncan's test using SPSS software. The results showed that 10% BNF produced the best quality preparations, characterized by clearer tissue structure and cellular components, and better preserved organ integrity. In contrast, 50% ethanol produced the most tissue damage and artifacts. Quantitatively, Bouin's solution showed the least shrinkage in cell size and cell nuclei compared to the other two fixatives. It can be concluded that 50% ethanol is not recommended for long-term tissue fixation because it causes extreme cell distortion and shrinkage. Long fixation durations require modifications to the washing process to remove residual reactive fixatives. Increasing the washing time proved effective in maintaining the quality of HE staining and microscopic structural integrity, with 10% BNF combined with aquadest washing producing optimal preparation results at a fixation duration of one week.

Fulltext Email colleagues
Keywords: BNF 10%; Boiun; Etanol 10 %; ukuran sel
Funding: DIPA Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro under contract 25.IV.A/UN7.F8/PP/II/2024

Article Metrics:

Article Info
Section: Articles
Language : ID
  1. Astuti, R., Rahmawati, I., & Susilo, B. (2021). Teknik Pembuatan Preparat Histologi Organ Hewan. Deepublish
  2. Chung, J. Y., Song, J. S., Ylaya, K., Sears, J. D., Choi, L., Cho, H., Rosenberg, A. Z., & Hewitt, S. M. (2017). Histomorphological and molecular assessments of the fixation times comparing formalin and ethanol-based fixatives. Journal of Histochemistry & Cytochemistry, 66(2), 121–135. https://doi.org/10.1369/0022155417743132
  3. Dey, P. (2018). Basic and Advanced Laboratory Techniques in Histopathology and Cytopathology. Springer Nature
  4. Djaelani, M. A., Tana, S., & Mardiati, S. M. (2025). Gambaran preparat histologis hepar tikus putih (Rattus norvegicus L.) yang dibuat menggunakan beberapa fiksatif dan proses pencucian. Buletin Anatomi dan Fisiologi, 10(1). https://doi.org/10.14710/baf.10.1.2025.48-54
  5. Faluti, A., Mardawati, V., & Fatmawilda. (2022). Pemanfaatan asam nitrat sebagai larutan pelunak organ tumbuhan pada metode parafin. Indonesian Journal of Laboratory, 5(3), 98–104. https://doi.org/10.22146/ijl.v5i3.78678
  6. Faluti, A., Yanti, F., & Marlina, L. (2022). Efektivitas media embedding jaringan hewan dalam pembuatan preparat permanen metode parafin. Jurnal Biologi Tropis, 22(1), 112–119. https://doi.org/10.29303/jbt.v22i1.3190
  7. Faraditha, Y. E., & Nailufar, Y. (2022). Literature review: Perbandingan kualitas preparat jaringan menggunakan xylene dan larutan pencuci piring pada proses deparafinasi [Naskah tidak dipublikasikan / Manuscript]. Prodi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
  8. Hardi, E. H. (2024). Kerusakan arsitektur jaringan akibat durasi fiksasi formalin berlebih. Jurnal Ilmu Biologi dan Sains
  9. Hardi, Z., Wiryanti, W., Durachim, A., & Rahmat, M. (2024). Efek penggunaan ulang larutan fiksatif formalin pada kualitas preparat histopatologi dan jumlah limbah yang dihasilkan. Current Biomedicine, 2(2)
  10. Harijati, N., Samino, S., Indriyani, S., & Soewondo, A. (2017). Mikroteknik Dasar. UB Press
  11. Hidayat, M., Syahputra, A., & Handayani, R. (2022). Peran imunologis organ limfoid sekunder pada tikus galur Wistar. Jurnal Biomedik Indonesia, 14(1), 88–95
  12. Ihsan, M., Arifin, Z., & Handayani, S. (2018). Pengaruh pencucian (washing) setelah fiksasi formalin terhadap kualitas artefak pewarnaan HE. Jurnal Laboratorium Medik, 6(1), 15–22
  13. Ihsan, M., Istriyati, & Muliasari, H. (2018). Morfologi dan histologi hepatopankreas (midgut gland) lobster hijau pasir. Biowallacea, 3(3), 125–129
  14. Kusuma, A., Pratama, I., & Wibowo, S. (2021). Perbandingan efektivitas fiksasi terhadap preservasi jaringan lunak mamalia. Jurnal Sains Hayati, 9(3), 201–209
  15. Lestari, D., & Santoso, H. (2023). Pengaruh jenis fiksatif berbasis alkohol dan formalin terhadap integritas protein jaringan. Jurnal Ilmiah Biologi, 11(2), 134–142
  16. Musyarifah, S., & Agus, R. (2018). Efek lama fiksasi formalin terhadap kualitas pewarnaan dan struktur histologis jaringan. Jurnal Laboratorium Medik, 3(2), 45–52. https://doi.org/10.29303/jbt.v22i1.3190
  17. Musyarifah, Z., & Agus, S. (2018). Proses fiksasi pada pemeriksaan histopatologik. Jurnal Kesehatan Andalas, 7(3), 443–453
  18. Nugroho, E., Widiyanti, N., & Kurniawan, T. (2023). Evaluasi over-fixation pada jaringan viseral tikus putih (Rattus norvegicus). Jurnal Veteriner dan Biomedis, 5(1), 50–58
  19. Panzacchi, S., Gnudi, F., Mandrioli, D., Montella, R., Strollo, V., Merrick, B. A., Belpoggi, F., & Tibaldi, E. (2019). Effects of short and long-term alcohol-based fixation on Sprague-Dawley rat tissue morphology, protein, and nucleic acid preservation. Acta Histochemica, 121(6), 750–760. https://doi.org/10.1016/j.acthis.2019.05.011
  20. Pratiwi, A., Nuraini, S., & Fitriani, D. (2020). Analisis artefak kristal pada pembuatan preparat histologi lien. Jurnal Kesehatan dan Sains, 8(2), 77–84
  21. Qatrunnada, S., dkk. (2023). Variasi konsentrasi dan durasi fiksasi terhadap kualitas preparat histologi. Anakes: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan, 11(1), 1–11
  22. Rahmadani, A. F., Dewi, S. S., & Iswara, A. (2018). Pengaruh lama fiksasi BNF 10% dan metanol terhadap gambaran mikroskopis jaringan dengan pewarnaan HE (Hematoxylin-Eosin) [Skripsi/Karya Tulis Ilmiah]. Universitas Muhammadiyah Semarang
  23. Rizkindra, A. M., Indradji, M., & Yuwono, E. (2019). Hubungan antara presentase berat lien dengan jumlah leukosit dan eritrosit pada ternak kelinci yang terinfeksi koksidiosis. ANGON: Jurnal Peternakan, 1(2), 162–167. https://doi.org/10.20884/1.angon.2019.1.2.p162-167
  24. Rizkindra, M., Dewanti, R., & Suprayogi, A. (2019). Gambaran mikroanatomi organ limfoid sekunder pada tikus putih. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, 24(3), 120–128
  25. Rolls, G. (2024). Fixatives and Fixation Mechanisms in Histotechnology. Leica Biosystems Education Center
  26. Rusmiatik, A. (2019a). Buku Ajar Teknik Histoteknik dan Fiksasi Jaringan. Airlangga University Press
  27. Rusmiatik, A. (2019b). Perbandingan fiksasi larutan Bouin dan formalin pada sediaan preparat histologi testis marmut. Jurnal Kedokteran, 4(2), 5–9
  28. Sari, D. P., Fatmawati, U., & Prabasari, R. M. (2016). Profil hands on activity pada mata kuliah mikroteknik di Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS. Proceeding Biology Education Conference, 13(1), 476–481
  29. Setiawan, B., Rahayu, P., & Hartati, S. (2022). Pembandingan durasi fiksasi terhadap kejernihan gambaran mikroskopis organ parenkim. Jurnal Biologi Eksperimental, 18(1), 33–41
  30. Singhal, P., Singh, N. N., Sreedhar, G., Banerjee, S., Batra, M., & Garg, A. (2016). Evaluation of histomorphometric changes in tissue architecture in relation to alteration in fixation protocol – An in vitro study. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 10(8), 28–32. https://doi.org/10.7860/JCDR/2016/19007.8236
  31. Singhal, S., dkk. (2017). Fixation artifacts in histopathology: A comprehensive review. Journal of Diagnostic Pathology, 12(2), 88–95
  32. Suvarna, S. K., Layton, C., & Bancroft, J. D. (2019). Bancroft's Theory and Practice of Histological Techniques (8th ed.). Elsevier
  33. Utami, N., Kurnia, R., & Wulandari, S. (2020). Efektivitas penggunaan fiksatif tunggal dan campuran pada sediaan histologis. Jurnal Riset Biologi, 7(2), 90–97
  34. Virgiawan, A. R., Tandjungbulu, Y. F., Rahman, Widarti, & Armah, Z. (2024). Variasi waktu fiksasi Netral Buffer Formalin 10% terhadap hasil pewarnaan Hematoxylin Eosin pada jaringan prostat. Jurnal Media Analis Kesehatan, 15(2)
  35. Virgiawan, C., dkk. (2024). Optimasi waktu fiksasi jaringan untuk gambaran mikroskopis ideal pada pewarnaan HE. Jurnal Biomedika dan Histoteknik, 5(1), 22–29
  36. Wahyuni, S., & Saputra, E. (2023). Optimasi teknik embedding parafin pada jaringan lunak mamalia. Jurnal Laboratorium Klinis Indonesia, 4(1), 12–19
  37. Wulandari, D., Rahmawati, R., Kurniatuhadi, R., & Kurniadi, E. (2016). Microanatomy white rats (Rattus norvegicus L.) after giving humic acid from peat soil Kalimantan. Buletin Anatomi dan Fisiologi, 24(1) https://doi.org/10.14710/baf.v24i1.11718
  38. Yuliana, L., Sukmaningsih, A. A. S. A., & Suriani, N. L. (2021). Evaluasi struktur morfologi sel dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin pada fiksatif BNF 10% dan Bouin. Jurnal Biologi Udayana, 25(2), 155–163. https://doi.org/10.24843/JBIOUNUD.2021.v25.i02.p08

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.