Pemaknaan Cerita dalam Cerpen “Cat In The Rain” Karya Ernest Hemingway: Suatu Kajian Semiotika

Jumino Jumino

Abstract


Artikel ini membahas tentang pemaknaan cerita dalam cerpen “Cat in the Rain” berdasarkan aspek semiotika. Selanjutnya metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dengan jenis penelitian kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa bahwa cerpen “Cat in the Rain” memiliki penanda utama “I want a cat”. Struktur dasar naratif yang membentuk sekuen dan alur piramida adalah (1) Istri melihat kucing, (2) Ia menginginkan kucing itu, (3) Ia mencari kucing itu tetapi tidak mendapatkan, (4) Ia mengangankan kucing itu, dan (5) Ia kemudian mendapat seekor kucing. Dengan skema aktan Greimas dapat diketahui bahwa dalam sumbu keinginan, aktan subjek adalah istri dan aktan objek adalah kucing. Dalam sumbu pengetahuan, aktan pengirim adalah Padrone, dan aktan penerima adalah istrinya. Dalam sumbu kekuasaan, aktan penolong adalah pelayan, payung dan cermin, sedangkan aktan penentang adalah suami, hujan, dan buku. Dengan demikian dapat dipetakan bahwa tokoh protagonis cerpen tersebut adalah istri, sedangkan tokoh antagonisnya adalah suami. Selanjutnya, berdasarkan teori Barthes dapat diketahui bahwa cerpen “Cat in the Rain” memiliki tiga tahap signifikasi, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Dari makna denotatif, kata “kucing” berarti “piaraan”, makna konotatif berarti “pria idaman lain”, dan makna mitologisnya berarti “phalus”. Makna denotatif “hujan” berarti “air”, dan makna konotatifnya berarti “sperma”, dan makna mitologiknya berarti “fertilitas”. Dengan mengacu pada teori Jakobson, cerpen tersebut dapat difahami baik secara metonimik maupun metaforik. Secara metonimik mengacu pada seorang istri yang menginginkan seekor kucing, sedangkan secara metaforik mengacu pada seorang istri yang mendambakan pria idaman lain.

Full Text: PDF

DOI: 10.14710/anuva.2.4.355-367

Refbacks

  • There are currently no refbacks.