Penegasan Politik Hukum Desentralisasi Asimetris dalam Rangka Menata Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah di Indonesia

*Kadek Cahya Susila Wibawa  -  Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 26 Nov 2019; Published: 27 Nov 2019.
Open Access License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0

Citation Format:
Abstract

Abstract

 

The legal politics of Article 18, Article 18A and Article 18B of the UUDNRI 1945 (Indonesian Constitution) do not strictly state that Indonesia adheres to the concept of asymmetric decentralization in the administration of local government. Until now, Indonesia does not yet have a grand design of asymmetric decentralization policy. The asymmetrical idea runs by itself without having its main design. Indonesia needs to affirm its asymmetrical decentralization policy to ensure the implementation of local government by the politic of law in the UUDNRI 1945. The establishment of a basic law on asymmetric decentralization is one way to emphasize that Indonesia adheres to asymmetric devolution in the operation of central government relations with local governments. The construction of the act that is built remains in the spirit of decentralization rather than centralization is carried out asymmetrically rather than symmetrically, and remains within the framework of the United States of the Republic of Indonesia. The act becomes the lex genres of all laws relating to the broadest local autonomy and special autonomy.

 

Keywords: Asymmetric Decentralization, Local Government, Central Government, Autonomy.

 

Abstrak

 

Politik hukum Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B UUDNRI 1945 menyatakan secara tidak tegas bahwa Indonesia menganut konsep desentralisasi asimetris dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Indonesia sampai saat ini belum memiliki grand design kebijakan desentralisasi asimetris. Konsep asimetris berjalan dengan sendirinya tanpa ada design utamanya. Indonesia perlu penegasan kebijakan desentralisasi asimetris untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai politik hukum dalam UUDNRI 1945. Pembentukan undang-undang pokok mengenai desentralisasi asimetris merupakan salah satu cara untuk menegaskan bahwa Indonesia menganut desentralisasi asimetris dalam penyelenggaraan hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Konstruksi undang-undang yang dibangun tetap dengan semangat desentralisasi bukan sentralisasi, dijalankan secara asimetris bukan simetris dan tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-undang tersebut menjadi lex generelis dari semua undang-undang yang terkait dengan otonomi daerah seluas-luasnya, otonomi khusus, dan otonomi istimewa.

 

Kata kunci: Desentralisasi Asimetris, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat, Otonomi.

Article Metrics:

  1. Arya Utama I Made, “Pembangunan Berkelanjutan Dalam Kerangka Otonomi Daerah”, Jurnal Konstitusi, Vol. I No. 1, 2008.
  2. Asshiddiqie Jimly, 2012, Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi, Sinar Grafika, Jakarta.
  3. Djaenuri Aries, 2006, Hubungan Pusat dan Daerah, Jakarta, Penerbit Universitas Terbuka.
  4. Madubun Jusuf, Akib Haedar, dan Jasruddin, “The Prototype Model of Asymmetric Decentralization in Providing Public Services to the Island Areas”, Mediterranean Journal of Social Sciences, Vol. 8, No.2, Maret 2017.
  5. Mahfud MD Moh., 2011, Kedudukan Komisi-Komisi Negara dalam Sistem Ketatanegaraan Kita, AlFaqih-Supra Note 4, Jakarta.
  6. Manan Bagir, 1994, Hubungan Antara Pusat Dan Daerah Menurut UUD 1945, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan.
  7. Marbun, S.F., 2014, Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Layak, FH UII Press, Yogyakarta.
  8. Pratama Andhika Yudha, “Pelaksanaan Desentralisasi Asimetris Dalam Tata Kelola Pemerintahan Daerah Di Era Demokrasi”, Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 10, No. 1, Pebruari 2015.
  9. Rasyid Ryaas, 1998, Desentralisasi dalam Menunjang Pembangunan Daerah dalam Pembangunan Administrasi di Indonesia, Pustaka LP3ES, Jakarta.
  10. Tauda Gunawan A., “Desain Desentralisasi Asimetris Dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia”, Administrative Law & Governance Journal, Vol. 1, No. 2, Nopember 2018.
  11. Undang Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Propinsi Papua.
  12. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
  13. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
  14. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.
  15. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.
  16. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  17. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah.
  18. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 Tentang Perubahan Undang Undang Nomor 21 Tahun 2001 Otonomi Khusus Propinsi Papua.
  19. Undang-Undang Nomor Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Daerah Istimewa Aceh.
  20. Wibawa Kadek Cahya Susila, “Urgensi Keterbukaan Informasi Dalam Pelayanan Publik Sebagai Upaya Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik”, Administrative Law & Governance Journal, Vol. 2, No. 2, Juni 2019.